Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
15.Camping


__ADS_3

Sungguh hari yang membuat Jova malas, gadis itu enggan turun dari dalam mobil meski pun semua teman-teman nya sedang berkumpul untuk berangkat. Kegiatan yang berhubungan dengan alam tidak begitu di sukai oleh Jova karena trauma di masa kecil nya.


Arzan sudah membujuk gadis itu, namun tetap saja Jova hanya menganggapi dengan acuh. "Saudara tiri mu ke mari..." kata Arzan dan benar saja, Mika mengetuk jendela mobil.


Bukan nya menyapa Jova, tapi Mika malah menyapa Arzan dengan senyum termanis yang dia miliki. "Kenapa Jova tidak turun. Sebentar lagi bus nya akan berangkat." gadis itu masih bersikap manis.


"Jangan peduli kan aku, urus saja diri mu." sahut Jova acuh membuat Mika langsung menampakan ekspresi tersudut.


"Maafkan aku Jova. Aku hanya mengingatkan mu. Arzan,...apa itu salah?" tanya Mika mencoba mencari perhatian pria itu.


"Tidak salah....!" seru Arzan kemudian lelaki itu keluar dari dalam mobil. Arzan menyuruh Jova keluar, membawa tas mereka kemudian berlalu begitu saja mengacuhkan Mika.


Mika mengepalkan ke dua tangan nya marah, melihat Arzan menarik tangan Jova diri nya merasa cemburu. Semua orang memandang kagum ke arah Arzan, pria itu menjadi pusat perhatian sekarang.


"Jova, apa kakak mu akan ikut kita Camping?" tanya Melvin.


"Ya,...aku adik kesayangan nya. Mana mungkin kakak ku yang paling tampan sejagat raya ini membiarkan diri ku ini di makan nyamuk di hutan." sahut gadis itu.


Wajah Melvin langsung berubah kecewa, sedangkan Arzan terus tersenyum puas bisa mengerjai Melvin. Mika yang melihat Arzan dan Jova terus menempel, gadis itu semakin panas hati nya. Di sini, bukan hanya Arzan saja yang ikut. Masih ada beberapa orang dari pihak luar yang ikut dalam Camping tersebut.


Mika, memberanikan diri untuk menghampiri Arzan dan Mika juga Melvin. "Arzan,...kau ikut bersama kami?" gadis itu bertanya seolah diri nya sudah kenal secara akrab.

__ADS_1


"Ya,...dia ikut dan akan menjaga ku!" seru Jova membuat hati Mika semakin kepanasan. Arzan membuang pendangan nya lalu tersenyum tipis melihat kecemburuan istri nya.


"Aku bertanya dengan Arzan bukan pada mu." ucap Mika ketus. "Belum tentu juga dia ikut untuk menjaga mu!" cibir Mika.


"Apa yang di katakan Jova benar, aku ikut untuk menjaga dia." Sanggah Arzan membuat Mika mati ucap.


Semua orang masuk ke dalam Bus begitu juga dengan Arzan dan Jova. Melvin yang sudah senang dari awal ingin duduk berdua di dalam bus nyata nya harus menelan kecewa. Cukup jauh perjalanan, harus memakan waktu hingga satu jam. Jova yang sudah mengantuk langsung terlelap begitu saja bahkan kepala gadis itu bersandar di pundak Arzan.


Tubuh Arzan langsung kaku, ada desiran aneh yang menggelitik di hati nya. Pria itu langsung mengusap kepala istri nya lembut. Mika yang melihat hal itu dari kursi seberang hanya bisa mendengus kesal.


Arzan membangunkan Jova ketika mereka sudah sampai. Tempat ini sangat indah, sebuah danau di pinggiran hutan namun Jova sangat tidak tertarik akan hal itu. Semua orang, mulai sibuk menurunkan barang-barang dan juga membangun tenda. Tenda hanya boleh di isi perorangan dan sudah tentu setiap orang sibuk membangun tenda nya masing-masing.


Bukan perkara sulit untuk Arzan, pria itu sudah selesai mendirikan tenda untuk istri nya. Melvin yang sebenarnya ingin ikut membantu namun hanya bisa diam saja ketika melihat sorot mata tajam Arzan.


"Jangan jauh-jauh dari ku...!" pinta Jova.


Tiba-tiba Mika menghampiri mereka, "Arzan, apa bisa kau membangun ku mendirikan tenda?" tanya gadis itu penuh harap.


Arzan langsung melirik ke arah Jova yang sudah membuang pandangannya. "Maaf, kau minta bantuan pada yang lain saja. Aku lelah." tolak Arzan membuat semua orang yang mendengar penolakan pria itu hanya bisa menahan tawa mereka.


"Apa kau takut dengan Jova? Jova tidak akan memarahi mu hanya karena kau membantu ku. Lagian, kami juga saudara." gadis itu masih berusaha membujuk.

__ADS_1


""Jangan memaksa ku!" seru Arzan dengan sorot mata tajam. Mika langsung diam lalu kembali ke tenda nya tanpa bicara sepatah kata pun. "Apa yang di inginkan saudara tiri mu itu? seperti dia sedang berusaha mendekati mu." kata Arzan.


"Bukan mendekati ku, tapi mendekati kamu." sahut Jova sambil merapikan barang nya.


"Dan aku tidak akan pernah tertarik dengan gadis lain selain istri ku." kata Arzan membuat Jova menghentikan aktifitas nya. Untung saja tidak ada yang mendengar perkataan Arzan tadi.


"Jangan bercanda, aku tidak suka. Suasana hati ku sangat tidak baik selama camping ini berjalan." kata Jova acuh.


Gadis ini juga merasa heran karena semua Dosen mau pun petinggi kampus sangat menghormati Arzan.Bahkan untuk orang luar saja yang ingin ikut harus memenuhi segala persyaratan yang ada namun tidak dengan Arzan yang bebas melakukan apa pun itu.


Seharian ini semua orang hanya duduk santai sambil menikmati pemandangan danau yang di kelilingi oleh hutan lebat. "Jova, apa kau susu ini?" Melvin menawarkan segelas susu hangat yang baru saja di buat nya.


Arzan yang melihat perhatian Melvin langsung tidak terima. "Kau minum air putih saja." ujar Arzan sambil menyodorkan sebotol air mineral.


"Boleh aku bergabung?" Mika bertanya penuh harap. Jovata memutar bola mata nya malas. Melvin juga tidak menyukai gadis itu. "Arzan, aku membawa beberapa camilan. Ini untuk mu...!" ujar Mika.


"Wuah,...terimakasih." pria itu berucap hingga membuat Mika senang. "Jova,...ini untuk mu." ujar Arzan sambil menyuapi istri nya camilan yang di berikan oleh Mika. Mika langsung syok dan menahan emosi nya melihat Arzan yang bersikap lembut pada Jova. Jova tersenyum penuh kemenangan, Mika semakin panas hati melihat nya.


Jovata, merasa lucu dengan dua orang yang ada di dekat nya sekarang. Melvin takut dengan Arzan karena dia mengira jika Arzan adalah kakak Jova. Sedangkan Mika, gadis itu merasa iri melihat Jova yang memiliki kekasih yang sangat tampan dan juga kaya seperti Arzan.


Mika kembali ke tenda nya, gadis itu memikirkan cara untuk menarik perhatian Arzan. "Ini tidak bisa di biarkan. Yang menjadi milik Jovata seharusnya menjadi milik ku juga." gadis itu berkata dengan penuh kebencian.

__ADS_1


Sore hari, semua orang mulai sibuk untuk menyiapkan makan malam. Tak perlu repot, hanya makanan instan yang mereka bawa. Jova, tak perlu bersusah payah untuk melakukan semua nya itu karenq Arzan dengan cekatan menghidangkan makanan untuk istri nya. Mika semakin cemburu, begitu juga dengan Melvin yang merasa tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Jova.


Semua orang, membawa makanan mereka masing-masing lalu mencari posisi duduk di pinggir danau yang sangat luas ini untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam. Danau yang letak nya lebih tinggi juga di keliling hutan yang lebat membuat Jova mulai merasa ketakutan. Apa lagi cahaya alam semakin lama semakin meredup.


__ADS_2