Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
77.Melahirkan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, kehidupan Arzan dan Jova nampak tenang-tenang saja. Begitu juga dengan hubungan Aarav dan Aira yang semakin dekat. Sejak kejadian malam itu, tidak ada satu orang pun yang muncul untuk mencari masalah.


"Aaaa,...kenapa kau menjambak rambut ku bee?" tanya Arzan berusaha melepaskan tangan istri nya.


"Perut ku sangat sakit, seperti ada yang ingin keluar!" ucap Jova dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.


"Apa kau akan melahirkan bee?" tanya Arzan panik.


"Em, seperti nya begitu!" seru Jova tiba-tiba terlihat tenang saja. "Eh, sakit nya kok hilang?" tanya nya heran.


"Jangan mengerjai ku bee. Ini masih terlalu pagi." ujar Arzan namun tiba-tiba Jova kembali mencengkram lengan suami nya sekuat tenaga.


"Sakit," lirih Jova kembali membuat Arzan panik.


"Kita akan ke rumah sakit sekarang. Aku tidak ingin kau dan anak kita kenapa-kenapa!" ujar Arzan bergegas memanggil Aira untuk membantu nya menenangkan Jova.


Drama di mobil, Jova terus menjambak, menggigit dan memukul Arzan ketika dia merasakan sakit nya kontraksi.


"Iya, benar. Ini tanda-tanda akan melahirkan!" ujar Aira yang membuka pencarian di ponsel nya.


"Seharusnya kan kalian sudah tahu ini tanda-tanda melahirkan, tapi kenapa kalian lalai?" tanya Aarav heran.


"Kami lupa!" seru Arzan enteng.


"Kau bisa bawa mobil tidak?" tanya Jova geram. "Aku sudah tidak kuat lagi." ucap nya.


"Sabar bee, sabar." ujar Arzan sambil mengusap keringat di kening istrinya. "Seharusnya kan satu minggu lagi, kenapa dia akan keluar sekarang?" tanya Arzan bingung.


"Karena anak mu sudah tidak sabar untuk menghajar mu!" sahut Jova kesal.


Setiba nya di rumah sakit, Jova langsung masuk ke dalam ruangan rawat yang sudah di pesan suami nya sejak jauh hari. Jova juga langsung mendapatkan penanganan dari beberapa Dokter.

__ADS_1


"Untung saja nona Jova cepat di bawa ke rumah sakit, ini sudah pembukaan empat!" ujar Dokter yang selama ini menangani Jova.


"Lalu kapan anak ku akan lahir?" tanya Arzan tidak sabar.


Dokter tersenyum lalu berkata, "Masih kurang enam pembukaan lagi. Kita harus sabar untuk menunggu nya."


"Jadi, istri ku akan merasakan kesakitan yang sangat lama?" tanya Arzan dengan mata lebar nya.


Dokter menjadi salah tingkah, melihat ekspresi dingin yang di tampakkan Arzan. "Bee, kau ini banyak tanya. Diam saja!" tegur Jova yang kesal.


Arzan hanya menurut dengan ucapan istri nya, wajah merah Jova lebih menakutkan dari pada wajah musuh nya. Melihat istri nya kesakitan,Arzan langsung memeluk Jova dari belakang, mengusap perut yang sudah mengenang.


Aira melirik Aarav, rasa nya sedih sekali harus melihat Jova seperti ini. "Memang seperti itu," bisik Aarav.


"Apa ini sangat sakit bee?" tanya Arzan yang sudah tidak tega melihat kesakitan istri nya. Jova hanya mengangguk, tulang belulang perempuan itu seakan lemas. "Kenapa tidak aku saja yang mengalami rasa sakit nya, kenapa harus kau?" ujar Arzan dengan sudut mata mulai tergenang.


Aira dan Aarav tak dapat berbuat banyak selain memberi semangat pada Jova. Meskipun dalam keadaan seperti ini, Aarav tidak lupa untuk mengatur keamanan di rumah sakit.Hampir di setiap sudut rumah sakit ini, anak buah mereka tersebar untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak di inginkan.


"Aira, jaga Jova. Aku akan pergi ke toilet!" perintah Arzan bergegas masuk ke dalam toilet.


Entah kenapa sejak setengah jam yang lalu Arzan suka sekali bolak balik ke toilet karena perut nya terasa sangat mulas.


"Kau ini kenapa? suka sekali bolak balik toilet?" tanya Aarav.


"Entahlah, perut ku sangat mulas." ujar Arzan lalu kembali masuk ke dalam toilet.


Tak berapa lama Arzan keluar dari toilet, Jova mulai merasakan ada sesuatu yang akan keluar. Secara refleks Jova mulai menarik ulur nafas nya.


Perawat langsung menyuruh Aarav dan Aira untuk menunggu di luar karena Jova akan segera melahirkan. Arzan menggenggam tangan istri nya, memberi kekuatan dan juga semangat. Arzan juga mengusap keringat yang terus mengalir di kening istri nya.


"Ayo sayang, kau pasti kuat. Kau pasti bisa." ujar Arzan.

__ADS_1


Ketika tangan Jova menggenggam erat tangan suami nya, tenaga nya keluar berkali-kali lipat hingga membuat ke dua kaki Arzan bergetar lemas. Di tarikan nafas ke tiga, lahir lah seorang bayi mungil yang tangis nya menggema di ruangan tersebut.


Arzan langsung menangis, memeluk dan mencium wajah istri nya. "Terimakasih bee, terimakasih sudah melahirkan anak kita." ucap Arzan dengan suara bergetar. Jova hanya tersenyum, air mata nya mengalir begitu saja, rasa nya tidak percaya jika hari ini dia sudah resmi menjadi seorang ibu.


Dokter menyerahkan bayi mungil tersebut pada Arzan, lagi-lagi air mata nya menetes saat Arzan mencium anak nya. Arzan kemudian meletakkan anak nya di atas dada istri nya.


"Dia sangat kecil mungil, tapi dia cantik seperti diri mu." ucap Arzan bahagia.


Suasana kembali normal, Aira dan Aarav juga sudah di perbolehkan untuk masuk. Ingin sekali Aarav menggendong keponakan nya itu namun Arzan yang pelit tidak mengizinkan nya.


"Selamat menjadi ibu Jova. Aku iri pada mu." ucap Aira ikut bahagia.


"Jika kau iri, cepat lah menikah dan buat anak sana." ujar Arzan dengan sombong nya.


"Ku rasa Arzan benar!" sahut Aarav membuat Aira malu-malu.


"Jangan dengarkan dua buaya ini, mereka memang suka begitu!" ujar Jova membela Aira.


"Siapa nama si cantik ini?" tanya Aarav penasaran.


"Aku tidak akan memberi nama besar keluarga ku di belakang nama anak ku." ujar Arzan membuat Aarav bingung.


"Kenapa?" tanya Aarav penasaran.


"Masa lalu yang kelam membuat ku tidak ingin membawa mereka ke kehidupan masa depan ku. Aku dan Jova sudah menyiapkan nama sendiri untuk anak kami." jelas Arzan membuat Aarav mengerti dengan perasaan sahabat nya itu.


"Siapa pun nama nya, ku harap dia akan menjadi anak yang baik dan tetap patuh kepada orang tua nya. Jadi, siapa nama nya?" tanya Aarav sekali lagi.


"Aileen Lateshia Arzana." ucap Arzan memberitahu nama anak nya.


"Panggil saja dia Ai, aku dan Arzan sudah sepakat memberi nama itu." timpal Jova.

__ADS_1


Arzan mengusap pipi mungil anak nya, pria ini masih tidak percaya jika dia sudah menjadi seorang ayah yang itu arti nya tanggung jawab Arzan jauh lebih besar sekarang. Hari mungkin masih sore, tak semenit pun Arzan meninggalkan anak dan istri nya. Untung saja Aira dan Aarav pengertian karena mereka mau membantu Arzan dan Jova. Contoh nya membeli makanan atau kebutuhan yang masih kurang.


__ADS_2