Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
94.Istri ku Koma


__ADS_3

"Mohon maaf tuan, istri anda di nyatakan koma karena peluru tersebut mengenai pembuluh jantung bahkan menyebar ke paru-paru hingga membuat fungsi otak nya tidak bekerja. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan istri anda." ucap Dokter tersebut dengan lesu hingga membuat Arzan terduduk lemas di lantai rumah sakit.


"Istri ku koma?" lirih Arzan dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


Dokter meninggal Arzan sendiri, tidak ada siapa pun yang menemani pria itu. Arzan bangkit dari duduk nya, pria itu berjalan tertatih menuju ruang ICU, namun sebelum melihat istri nya Arzan harus menggunakan pakaian medis terlebih dahulu.


Lagi-lagi air mata pria itu mengucur deras, tangan kekar nya berusaha kuat meraih tangan istri nya. Wajah Jova sangat pucat, bahkan tubuh nya di penuhi dengan alat medis.


"Baru tadi kita bersenang-senang bee, kenapa kau jadi seperti ini? Bangun bee, aku tidak suka melihat mu tidur seperti ini." ucap Arzan dalam isak nya. "Bangunlah bee, bangun demi aku dan Aileen anak kita."


Arzan mengusap rambut istri nya lembut, pria itu hancur, dunia Arzan seketika runtuh. Jova lah yang membuat hari-hari nya berwarna beberapa tahun belakangan.


Arzan tidak bisa lama-lama karena perawat sudah menyuruh nya untuk keluar. Di luar sudah ada Aarav yang datang membawa pakaian ganti untuk Arzan. Ada David di sana, yang memberitahukan jika pelaku penembakan tidak bisa di temukan.


Arzan ingin marah, namun pada siapa? laki-laki itu pada akhirnya hanya bisa terduduk lemas apa lagi pernyataan Dokter tadi membuat hati nya runtuh.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Jova?" tanya Aarav.


"Dokter mengatakan jika Jova mengalami koma. Apa yang harus aku katakan pada Aileen?" ujar Arzan kembali menangis.


Sementara itu, di mansion Aileen terus menangis memanggil nama mommy nya. Aira sudah kewalahan, seisi mansion berusaha membujuk gadis kecil itu. Aira juga belum mendapatkan kabar apa pun, berada di posisi seperti ini membuat nya serba salah.


Pada akhirnya Aileen tidur karena kelelahan menangis, Aira langsung menghubungi suami nya untuk menanyakan kabar Jova. Wanita ini terkejut dengan kabar yang dia dengar, Aira juga menyampaikan pada semua pelayan dan anak buah nya pesan dari Arzan.


Aira mengusap wajah Aileen, "Kasihan sekali nasib mu Aileen, kau tidak akan bisa bermain dengan mommy lagi sementara waktu." ucap Aira merasa sedih.


"Daddy, Aileen ingin ketemu mommy." rengek gadis itu ketika melihat daddy yang baru saja pulang.


"Mommy mu sedang sakit, sebaiknya kau pergi belajar sana." ucap Arzan lesu.


"Tapi Aileen ingin sama mommy." gadis itu masih merengek hingga membuat Arzan yang pusing semakin pusing.

__ADS_1


"Mommy mu tidak ada!" ucap Arzan dengan nada tinggi nya hingga membuat Aileen ketakutan, "Jika bukan karena kau mengajak pergi, mommy mu pasti sekarang akan baik-baik saja."


"Arzan, kau membentak anak mu!" ujar Aira langsung menarik gadis itu ke dalam pelukan nya.


"Ya, jika bukan karena dia, Jova mungkin akan baik-baik saja sekarang!" tegas Arzan yang menyalahkan anak nya.


"Ini musibah, kau tidak bisa menyalahkan anak mu. Dia tidak tahu apa-apa!" ujar Aira mengingatkan.


Arzan tidak peduli, dengan membawa koper pria itu pergi meninggalkan anak nya yang masih menangis ketakutan.


"Daddy ikut, Aileen ingin bertemu mommy." gadis itu berusaha mengejar Arzan namun Aira langsung menarik gadis itu.


Seketika suasana mansion langsung mencekam,tidak ada yang berani menyapa Arzan terlebih lagi semua anak buah nya tidak bisa menemukan pelaku penembakan tersebut.


"Aileen sama Aunty ya sayang, daddy sedang pusing. Doa kan mommy agar cepat sehat." ucap Aira berusaha membujuk Aileen namun tetap saja yang nama nya anak kecil pasti akan menangis terus jika tidak melihat mommy nya.

__ADS_1


__ADS_2