
Dua orang dengan sorot mata tajam, saling memandang dengan seringai yang mematikan. Dua pria beda generasi namun sama-sama memiliki kekuasaan dan kekuatan. Di ruangan yang kedap suara, di bar tempat pertemuan Arzan dan Lucas.
Lucas mengisap rokok nya, kepulan asap memenuhi ruangan itu, "Kau terlalu mirip dengan ayah mu." kata Lucas membuka suara.
Arzan menyunggingkan bibir atas nya, "Jika aku mirip, kenapa? apa kau akan membunuh ku sama seperti kau membunuh keluarga ku?" tanya Arzan membuat Lucas langsung mematikan rokok nya.
"Ku dengar kau selalu ikut campur dalam urusan Alex. Seberapa besar nyali mu?" tanya Lucas mengalihkan pertanyaan Arzan.
"Seberapa besar nyali ku bukan urasan mu. Kau mengajak ku bertemu hanya ingin membahas masalah Alex atau kau hanya ingin melihat keturunan Dirgham ini masih hidup?" Arzan mulai memancing.
"Seharusnya, aku lebih teliti lagi malam itu. Aku ingin tahu, sekuat apa kau bisa melawan ku nanti." tantang Lucas.
"Bajingan seperti mu harus mati. Tapi, aku tidak akan membunuh mu sekarang!" ujar Arzan malah mendapatkan cibiran dari Lucas.
"Bocah ingusan seperti mu tidak akan bisa menyentuh ku!" seru Lucas masih terlihat dengan wajah santai nya. "Mari kita lihat kedepannya, kau atau aku yang mati terlebih dulu?" tantang Lucas dengan sombong nya. "Ayah mu saja tidak berdaya menghadapi ku apa lagi kau yang hanya bocah ingusan!" kata nya kemudian keluar meninggalkan Arzan yang langsung mengepalkan tangan nya marah. Wajah dingin pria itu terlihat sekali gambaran kebencian dan amarah pada orang yang selama ini dia cari.
Aarav masuk ke dalam, menenangkan Arzan agar tidak terpancing oleh Lucas. "Yang penting sekarang kita tahu wajah nya. Dia yang menjual kenapa kita harus ragu untuk membeli nya?"
"Aku tidak takut...!" ujar Arzan "Wajah ku akan selalu menghantui bajingan itu...!" ucap nya penuh penekanan.
Ketika Arzan hendak meminum minuman alkohol, Aarav langsung merampas nya lalu membuang minuman itu. "Jangan membuat Jova khawatir, sebaiknya kau pulang. Ingat, dia sedang mengandung anak mu!" Aarav mengingatkan.
Untung saja ada Aarav yang selalu mengingatkan Arzan. Pria itu pada akhirnya memutuskan untuk pulang.
Malam telah berganti pagi, Arzan tidak pernah ribut lagi perihal cat dinding yang penuh warna yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesenangan istri nya. Pasangan suami istri ini sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Jova yang belum sempat kemarin.
Arzan mendengarkan dengan seksama ketika Dokter menjelaskan sesuatu yang ada di layar monitor. Kali ini Dokter yang menangani Jova adalah Dokter perempuan karena Arzan tidak ingin istri nya di sentuh oleh pria lain.
Setelah melakukan USG, Arzan dan Jova duduk berhadapan dengan Dokter untuk melakukan konsultasi.
__ADS_1
"Seperti yang sudah saya jelaskan sebelum nya, nyonya Jova sedang mengandung usia tiga minggu. Di usia segini harus lebih hati-hati lagi. Jangan terlalu lelah atau melakukan pekerjaan yang berat yang bisa membahayakan janin." jelas Dokter tersebut.
"Lalu, kenapa istri ku akhir-akhir ini sering muntah-muntah?" tanya Arzan.
"Itu adalah hal wajar tuan....!"
"Apa maksud mu hal wajar? istri sampai tidak sadarkan diri masih bisa kau sebut hal wajar?" Arzan memotong penjelasan Dokter membuat Dokter tersebut langsung tersenyum masam.
Jova yang kesal langsung mencubit lengan suami nya, "Bisa diam tidak?" tanya Jova kesal. "Lanjutkan Dok!"
"Nama nya morning sickness, hal ini sangat lumrah jika di alami oleh ibu hamil. Setiap ibu hamil memiliki carita yang berbeda-beda." lanjut Dokter.
"Tapi, kenapa istri ku menjadi cengeng akhir-akhir ini? apa ini juga pengaruh dari kehamilan?" tanya Arzan yang banyak tanya.
"Bawaan hormon, ibu hamil akan jauh lebih sensitif. Jadi, pihak suami harus lebih pandai lagi dalam menjaga suasana hati sang istri." kata Dokter membuat Jova tersenyum senang.
Arzan mengehal nafas panjang, lelaki ini baru paham apa yang terjadi akhir-akhir ini pada istri nya adalah bawaan anak nya sendiri. "Dasar nakal!" batin Arzan.
"Jangan macam-macam bee!" seru Jova.
"Kau diam saja bee, ini demi kita!" sahut Arzan, Dokter sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh Arzan.
"Terserah kau saja bee!" sahut Jova memilih diam.
"Begini Dok, jika istri ku sedang hamil apa kami boleh melakukan hubungan suami istri?" tanya Arzan langsung membuat mata Jova melebar menahan malu dengan pertanyaan suami nya.
"Dasar mesum!" umpat Jova semakin kesal.
Dokter tersenyum lalu berkata pada Jova, "Tidak apa-apa nyonya, hal ini juga lumrah jika di tanyakan dari pihak suami."
__ADS_1
"Jadi bagaimana Dok?" tanya Arzan tidak sabaran.
"Untuk berhubungan suami istri sah saja, asal suami harus bisa bermain lembut dan jangan sampai menekan perut istri agar tidak membahayakan janin. Lakukanlah dengan sewajarnya, jangan membuat istri kelelahan." jawab Dokter membuat Arzan merasa puas.
"Lega sekali, jadi aku tidak akan berpuasan selama sembilan bulan." ucap Arzan tanpa memiliki rasa malu sedangkan Jova wajah nya serasa sudah tebal melebihi tembok.
Sebelum pulang Dokter memberi Jova obat dan beberapa vitamin kehamilan. Setelah itu mereka langsung pulang. Namun, baru setengah perjalanan Jova meminta putar arah karena gadis ini ingin makan sesuatu.
"Kau ingin makan apa bee?" tanya Arzan semakin bersikap lembut.
"Lembut sekali sikap mu ini bee, dulu aja seperti Tarzan kelaparan!" sahut Jova namun Arzan hanya menghela nafas.
"Terserah kau ingin berkata apa bee, yang jelas kau ingin makan apa sekarang?" tanya Arzan sskali lagi.
"Aku ingin makan kepiting!" jawab Jova.
"Laksanakan sayang....!" seru Arzan.
"Tapi makan nya di mansion, di tempat latihan." kata Jova lagi-lagi Arzan hanya menurut saja.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, Jova dan Arzan langsung pulang. Setiba nya di mansion Jova pergi ke kamar terlebih dahulu untuk berganti pakaian menjadi pakaian santai.
"Tolong siap kan paman, antar ke tempat latihan." perintah Arzan langsung di laksanakan kepala pelayan.
Arzan menyusul istrinya, koki menghampiri kepala pelayan.
"Tuan Arzan ternyata lebih takut pada istri nya dari pada musuh nya." kata koki tersebut.
"Menurut survey, beberapa persen suami pasti takut istri nya. Jadi, kau jangan heran jika tuan kita yang bergelar mafia itu takut sama istri nya." sahut kepala pelayan.
__ADS_1
"Kau juga pasti takut pada istri mu!" seru Koki mencibir.
"Jangan mengatai ku, kita sama saja!" ucap kepala pelayan yang kesal.