
Arzan kembali ke mansion pukul tiga dini hari. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar dan menghampiri istri nya yang sedang tidur. Arzan duduk di tepi tempat tidur lalu mengusap wajah istri nya hingga membuat Jova terbangun.
Jova yang terkejut langsung bangun, gadis itu kemudian duduk lalu memeluk suami nya. Namun Jova tidak tahu jika lengan suami nya sedang terluka. Bahkan Jova tidak sadar telah memegang luka itu hingga membuat Arzan merintih.
Aaa....ujar Arzan membuat Jova melepaskan pelukan nya dan melihat telapak tangan nya yang berdarah. "Darah....!" ucap Jova terkejut. "Bee,...apa kau terluka?" tanya Jova lalu mengangkat tangan suami nya. Panik lah gadis itu, namun Arzan berhasil menenangkan nya.
"Ini tidak apa-apa bee. Sebaiknya kau tidur."kata Arzan.
"Tidak apa-apa bagaimana? ini luka bee, siapa yang sudah melukai mu?" tanya Jova membuat wajah Arzan langsung gugup.
Jova mengambil kota obat, namun Arzan belum menjawab juga. Gadis itu meminta suami nya untuk melepas jaket dan kaos yang di pakai suami nya, terlihat di sana luka yang lumayan lebar menganga.
"Jawab aku bee,...siapa yang sudah melukai mu?" sekali lagi gadis itu bertanya.
"Aku dan Aarav tidak sengaja di todong bee,mereka hanya mengincar barang berharga saja." bohong Arzan namun Jova merasa tidak yakin karena sudah berapa kali diri nya mengalami hal seperti ini.
Jova membersihkan luka di tangan suami nya, meski pun perih namun Arzan tidak ingin merintih karena itu pasti akan membuat Jova semakin khawatir. Arzan memandang wajah istri nya yang tiba-tiba-tiba berubah menjadi sedih itu. Pria itu mengangkat dagu istri nya, lali bertanya, "Kenapa kau sedih bee?"
Sebenarnya sudah sejak tadi mata Jova berkaca-kaca namun ia tahan, "Kau terluka bee, pasti ini sangat sakit." ucap nya dengan suara bergetar dengan iringi air mata yang bebas keluar.
Arzan tersenyum lalu mengusap air mata istri nya, "Jangan menangis sayang, luka nya akan sembuh dengan cepat karena kau sudah mengobati nya." kata Arzan.
"Tapi tetap saja kau terluka bee. Jangan terluka lagi, aku sedih melihat nya." ujar gadis itu sambil membalut luka suami nya. "Sudah selesai, apa masih sakit bee?" tanya Jova.
Meski pun masih sedikit nyeri, Arzan berbohong jika luka nya sudah tidak sakit lagi agar tidak membuat istri nya bersedih. "Sudah tidak sakit, sebaiknya kau tidur bee. Maaf sudah membuat mu bangun." kata Arzan.
__ADS_1
"Tapi kau tidur juga bee, jangan pergi lagi nanti kau terluka lagi." gadis ini seperti anak kecil, dengan patuh Arzan mengikuti ucapan istri nya.
Malam berganti pagi, Jova terbangun lebih dulu dari suami nya. Pagi ini tidak seperti biasa nya, mansion nampak sepi bahkan penjaga yang biasa berjaga di depan juga tidak ada. Jova tanpa sengaja melihat semua orang keluar masuk ke arah pintu besi, membuat gadis itu kembali penasaran.
"Sebenarnya, ada apa di dalam sana? kenapa semua orang tidak mengizinkan ku masuk ke dalam sana?" tanya Jova membuat hati nya semakin gelisah karena penasaran.
Gadis itu kembali mengintip, bersembunyi lebih dekat lagi untuk melihat kode pintu yang di ketik oleh beberapa orang yang baru saja masuk.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya kepala pelayan membuat Jova terkejut. Gadis itu langsung panik dan juga gugup.
"T-tidak,...aku sedang mencari mu paman." kata Jova mencari alasan.
"Sejak tadi saya di dapur nona. Ada yang bisa saya bantu?" sekali lagi kepala pelayan itu bertanya.
"I-itu,...suami ku terluka paman. Aku butuh perban baru dan beberapa obat. Tapi aku malas untuk pergi ke ruang medis, mencari pelayan lain juga tidak ada." kata Jova berbohong sedikit.
Setiba nya di kamar, Arzan sudah bangun dan langsung mengerutkan kening nya karena merasa aneh dengan ekspresi wajah istri nya. "Bee,...dari mana kau?" tanya Arzan.
"A-aku,...aku habis menemui kepala pelayan." jawab Jova gugup.
"Untuk?" tanya Arzan penuh selidik.
"Aku meminta perban baru dan beberapa obat. Yang tadi malam sudah habis." ujar Jova langsung menunjukkan kotak kesehatan pada suami nya. "Apa masih sakit?" tanya Jova mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sedikit, aku tidak sengaja menindihnya saat tidur tadi." jawab Arzan.
__ADS_1
Tak berapa lama kepala pelayan masuk, dia berpikir jika Jova tadi berbohong, namun ketika melihat luka di tangan tuan nya kepala pelayan langsung percaya. "Akan saya obati tuan." kata kepala pelayan yang khawatir.
"Biar aku saja paman," kata Jova "Paman siapkan sarapan saja." perintah Jova.
"Tapi nona, ini berdarah." kata Kepala pelayan.
"Tidak usah khawatir paman, tadi malam istri ku lah yang sudah membersihkan luka nya. Biar dia saja." kata Arzan.
"Baik tuan!" ucap kepala pelayan kemudian keluar.
Jova kembali membersihkan luka dan mengganti perbannya. Pria ini meski terluka namun masih suka menggoda istri nya. "Kau sudah cocok menjadi seorang ibu bee..!" kata Arzan membuat Jova malu.
"Iya,...ibu dari anak-anak mu." sahut Jova membuat Arzan bangga mendengar nya.
"Sebentar lagi kau ulang tahun bee, kau ingin hadiah apa?" tanya Arzan membuat Jova ingat jika sebentar lagi dirinya akan berulang tahun yang ke dua puluh tiga.
"Aku lupa ulang tahun ku. Dari mana kau ingat?" tanya Jova.
"Kau istri ku bee, apa pun tentang mu aku pasti akan tahu." kata Arzan.
"Lalu, apa aku tahu semua tentang mu?" tanya Jova tanpa sadar membuat suami nya langsung terdiam. Pria itu menatap wajah istri nya, bingung ingin menjawab apa sekarang.
"Sudah selesai, aku akan menyiapkan air hangat untuk mu mandi bee." kata Jova yang lupa akan pertanyaan nya.
Arzan membuang nafas kasar, benar kata Aarav jika menutupi sesuatu akan membuat hidup gelisah dan Arzan mulai merasakan nya sekarang.
__ADS_1
Selesai sarapan, Arzan langsung berangkat ke kantor karena ada rapat penting yang tidak bisa di wakil kan. Sedangkan Jova tinggal di mansion karena gadis itu masih penasaran dengan ruangan di balik pintu besi itu.
Jova mulai berpikir keras untuk pergi ke sana karena pintu itu selalu di jaga dua orang anak buah Arzan. Hanya ketika jam makan saja pintu itu di tinggalkan. Di mansion ini, setiap sudut akan di jaga oleh dua orang dengan cctv yang sangat banyak. Bagaimana Jova bisa pergi kesana pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk memahami gerak gerik dan kebiasaan pada anak buah Arzan termasuk kepala pelayan yang selalu ada di mana-mana itu.