Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
87.Masih Hidup


__ADS_3

"Rencana menikahi mu, aku serius." ucap Aarav ketika pria itu mengajak Aira duduk di atas atap di bawah sinar bulan. "Sejak mengenal mu beberapa bulan belakangan, aku menyukai mu sejak pertama aku melihat mu di saat kau tidak sadarkan diri."


"Aku jadi bingung mau ngomong apa?" kata Aira gugup.


"Mustahil bagi mu tidak memiliki perasaan pada ku!" ujar Aarav menatap wajah Aira.


"Aku tidak pernah jatuh cinta. Jadi aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan sebuah perasaan."


Aarav menarik nafas pelan lalu bertanya pada wanita itu. "Saat aku ada di dekat mu seperti ini, apa yang kau rasakan?" tanya Aarav.


Aira meremas tangan nya yang sedikit berkeringat, lalu wanita itu menjawab dengan jujur. "Aku merasa hangat dan nyaman."


"Kalau begitu mari kita menikah!" ajak Aarav tanpa basa basi lagi.


"Kau ini, kau pikir pernikahan itu main-main apa!"


"Aku serius, aku tidak butuh pacaran atau apa lah. Nyata nya, Arzan dan Jova yang pernikahan mereka hanya di dasari ketidaksengajaan saja bisa bahagia sampai sekarang." ujar pria itu menyakinkan Aira.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Aku tidak tahu, aku mau tidur. Terserah kau saja!" ujar Aira yang benar-benar bingung harus bersikap apa.


Aira meninggalkan Aarav seorang diri di atap. Pria itu kemudian merebahkan diri menggunakan lengan sebagai bantalan. Aarav memandang sinar bulan yang terang. Berharap setelah ini tidak akan ada lagi masalah yang menimpa Arzan.


Malam telah berganti pagi, Jova menolak ketika Arzan mengajak nya pulang ke mansion. Jova masih betah berada di tempat ini apa lagi tak jauh dari sana ada danau kecil yang sengaja di buat Arzan.


Namun, demi kenyamanan anak nya Jova terpaksa ikut pulang bersama suami nya. Keadaan mansion sudah kembali seperti semula. Aktifitas juga kembali normal.


"Mulai minggu depan aku akan bekerja seperti biasa. Tidak apa-apa kan jika kau hanya berdua dengan Aira?" tanya Arzan pada istri nya.


"Em, asal kau ingat pulang saja!" ujar Jova.


"Kau ini, sejak kapan kau sudah makan hati dengan ucapan ku?" tanya Jova. "Eh bee, jangan lupakan janji mu ya."


"Janji apa?" tanya Arzan mengerutkan kening nya.


"Yang kata mu jika anak kita berumur tiga bulan kau akan mengajak kami liburan ke luar negeri." perjelas ibu satu anak ini.

__ADS_1


"Em, aku tidak akan melupakan nya. Bee, bagaimana kalau kita mengganggu bulan madu Aira dan Aarav saja nanti?"


"Eh, mereka akan menikah sungguhan?" tanya Jova tidak percaya.


"Aarav bilang begitu, aku lebih senang menggenggam mereka nanti."


"Kau ini, nanti di balas Aarav marah."


"Berani marah, hajar saja!" seru Arzan lalu tertawa.


Seharian Arzan dan Jova hanya menghabiskan waktu mereka di dalam kamar bermain bersama anak mereka yang kadang tidur kadang bangun.


"Bee, apa orang yang kau sebut paman itu masih hidup?" tanya Jova hati-hati.


"Em, masih hidup. Dia harus merasakan bagaimana sakit nya aku bee."


"Terkadang, orang yang menurut kita baik lebih sakit jika dia menusuk kita dari belakang. Aku mengerti jika kau kecewa sekarang." ujar Jova ikut sedih dengan perasaan suami nya.

__ADS_1


"Sekarang jangan pikirkan hal itu lagi, aku hanya ingin fokus pada keluarga kecil kita. Memiliki kalian, sudah menjadi obat terbaik bagi luka ku." ucap Arzan lalu menarik istri nya kedalam pelukan.


Setidaknya, setelah melalui berbagai macam masalah kehidupan, Arzan masih ada tempat untuk berpulang. Mengadu dan saling bertukar cerita pada istri tercinta.


__ADS_2