
Aira memperhatikan gerak gerik Aileen yang hampir tiga hari ini lebih betah berada di kamar nya dari pada bermain di luar. Aira memberitahu suami nya jika sikap Aileen akhir-akhir ini berubah.
Aarav tidak bisa berbuat banyak, dari sikap Aileen yang seperti ini sudah pasti gadis ini butuh perhatian dari orang tua nya terutama Arzan. Sepulang dari kantor, Aarav mampir sebentar ke rumah sakit.
Aarav dapat melihat dengan jelas jika Arzan sangat mencintai Jova. Bahkan sahabat nya ini sangat telaten mengurus istri nya, seperti sore ini Arzan terlihat sedang mengusap tubuh istri nya dengan handuk basah.
"Ada kabar apa?" tanya Arzan.
"Belum ada, aku datang ke sini hanya untuk bicara satu hal pada mu." ujar Aarav.
"Katakan, apa itu?" tanya Arzan masih fokus merawat istri nya.
"Sesekali pulang lah, lihat anak mu. Aileen butuh kasih sayang, dia sudah kehilangan kasih sayang dari Jova, seharusnya kau bisa sedikit lebih perhatian pada nya." nasehat Aarav seperti ini sudah biasa di dengar Arzan.
"Jika bukan karena.....!"
"Ya, jika bukan karena Aileen mengajak kalian pergi, kejadian ini tidak mungkin terjadi. Jangan bodoh Arzan, kau orang berpendidikan. Aileen kecil hanya seorang anak yang polos yang jiwa dan pikiran nya hanya untuk bermain. Apa kau masih mau menyalahkan nya?" Aarav mulai meninggikan nada bicara nya. "Sadarlah Arzan, jika Jova sadar nanti dan dia tahu bagaimana kau memperlakukan anak nya, aku rasa dia lebih memilih pisah dengan mu." ucap Aarav membuat Arzan tersentak. Tangan pria itu menggantung di udara.
Aarav berlalu begitu saja, meninggalkan Arzan yang masih dengan ego nya. Rasa nya sudah lelah menasehati laki-laki itu.
Malam telah datang, Aileen menarik nafas panjang. Meja makan ini hampa, hampir setiap malam Ai makan seorang diri. Rasa nya takut, namun gadis itu harus tetap terlihat berani dan ceria di depan semua orang.
"Paman, ikut aku!" ujar Aileen selesai makan malam.
__ADS_1
David mengikuti gadis itu masuk ke dalam perpustakaan pribadi milik nya. Aileen kemudian mendengarkan sebuah rekaman hasil sadap nya beberapa hari.
"Ini hanya rekaman biasa nona, tidak ada petunjuk apa-apa." ujar David malah membuat Aileen tertawa.
"Justru ini adalah petunjuk bagi kita paman. Orang ini memiliki hutang yang sangat besar, kita bisa memancing nya bicara asal kita mau membayar hutang dia." kata Aileen menjelaskan.
Mata David melebar, pria ini menggaruk kepala nya tak gatal, "Aku yang bodoh apa nona Ai yang pintar?" batin David penuh tanda tanya.
"Bagaimana paman,apa ide ku ini bisa di gunakan?" tanya Ai membuyarkan lamunan David.
"Eh iya nona. Tapi, apa nona bersedia mengeluarkan uang untuk orang itu?" tanya David.
"Aku yakin paman lebih pintar dari aku, apa paman mau uang kita terbuang sia-sia?" ujar Aileen.
David mulai mengerti dengan rencana gadis ini, pria ini mulai melaksanakan apa yang di perintah oleh Aileen. Meski pun Aileen hanya seorang gadis yang berumur empat belas tahun, namun David tetap menghargai gadis ini.
Arzan mencoba membuka pintu kamar anak nya, namun kamar tersebut terkunci. Pria ini kemudian mengambil kunci cadangan agar dia bisa masuk ke dalam kamar anak nya. David hanya menunggu di lantai bawah, semua anak buah sengaja di bangunkan.
Arzan masuk ke kamar anak nya, ingatan pria itu masih terngiang ucapan Aarav tadi sore. Arzan duduk di tepi tempat tidur, memandang sejenak wajah anak nya yang sudah lama tidak pernah dia tatap.
Dengan ragu, Arzan mengusap rambut anak nya, namun Aileen yang terkejut langsung bangun dan menendang sang daddy.
Aaaa......teriak Arzan membuat semua orang di lantai bawah buru-buru naik ke atas. Aileen yang takut langsung menghindar di sudut ruangan sambil memasang kuda-kuda.
__ADS_1
David yang baru masuk langsung menghidupkan lampu, pria itu terkejut ketika mendapati Arzan yang sedang berguling-guling menahan sakit di bagian perut samping nya.
"Daddy,....!" lirih gadis itu buru-buru menghampiri daddy nya. "Aduh, maafin Ai dad, Ai tidak sengaja." ucap gadis itu ketakutan.
Di bantu David, Arzan di dudukan di tepi tempat tidur, "Kenapa menendang daddy?" tanya Arzan dengan wajah meringis nya.
"Ya kan bukan salah Ai, salah daddy. Lagian, ngapain daddy tiba-tiba ada di kamar Ai, gak bangunin lagi." kata gadis itu dengan berani nya.
Hanya dengan kode tangan, David dan berbeda anak buah yang lain keluar. Arzan sudah mulai kembali normal.
"Apa salah nya melihat anak sendiri?" tanya Arzan.
"Ya tidak salah, tapi cara daddy ini sangat salah. Tidak sopan!" celoteh gadis itu.
"Wah mulut mu ini, sama keras nya dengan mommy mu." ujar Arzan bergeleng kepala.
"Memang benarkan?" tanya Aileen.
"Sudah lah, kembali tidur sana. Daddy mau kembali ke rumah sakit." ujar Arzan masih belum terbiasa bicara pada anaknya.
Melihat daddy nya hendak keluar, Aileen langsung menghentikan langkah daddy nya.
"Dad, bolehkah Ai menjenguk mommy?" tanya gadis itu langsung menunduk kan kepala nya karena biasa nya Arzan akan sensitif mengenai istri nya.
__ADS_1
Sejenak Arzan termenung, memandang anak nya yang tertunduk, "Em, kau boleh menjenguk mommy mu setiap hari." ujar Arzan langsung berlalu pergi.
Aileen syok, gadis ini tidak percaya dengan ucapan daddy nya. Gadis ini langsung melompat ke atas tempat tidur nya, sedangkan Arzan sudah pergi kembali ke rumah sakit.