
Hari libur telah tiba, Aileen sangat senang sekali karena hari ini Daddy nya benar-benar menepati janji mengajak nya jalan-jalan. Aira dan Aarav juga ikut, mereka sudah seperti keluarga bagi Arzan dan Jova.
Jova dan Aira memilih duduk sambil menunggu Aileen yang bermain game bersama Arzan dan Aarav. Jika di bilang iri, sebagai seorang perempuan sudah pasti Aira sangat iri melihat orang lain bisa bersenang-senang dengan anak mereka.
"Mereka seperti anak kecil." ujar Aira lalu tertawa melihat tingkah suami nya sendiri.
"Dan aku memiliki dua anak kecil." timpal Jova. "Mereka suka menindas ku jika di rumah."
"Arzan sangat sayang pada anak nya, kau sangat beruntung memiliki mereka." ucap Aira.
"Jika kau tahu awal pernikahan kami seperti apa, mungkin kau akan bersikap jauh lebih anarkis dari pada aku." ujar Jova tertawa renyah.
"Em, Aarav sudah berapa kali menceritakan nya. Jova, terkadang orang yang lama bersama kita belum tentu dia bisa mengerti kita." kata Aira karena wanita ini sudah banyak pengalaman nya.
"Mommy, Ai lapar!" ucap gadis kecil sambil berlari ke arah Jova.
"Mommy dan Aunty juga lapar, ayo kita cari makan." ajak Jova menggandeng tangan anak nya.
"Aunty, gendong Ai dong!" ujar gadis itu dengan wajah imut nya.
__ADS_1
"Sayang daddy, sama daddy aja ya. Aunty gak ada tenaga, dia sudah kelaparan." ujar Arzan membujuk anak nya.
"No, Daddy bau keringat!" seru gadis itu langsung.
Tidak mau mengecewakan Aileen, Aira dengan senang hati mengendong bocah yang selama ini menjadi pewarna hari-hari nya.
Aileen tidak mau makan dalam mall,gadis ini meminta pergi ke outlet yang khusus menjual makanan cepat saji seperti pizza dan burger. Jova memesan Pizza berukuran besar karena anak nya sangat senang sekali makanan itu.
Tempat ini juga nyaman, berada di pinggir jalan dengan pepohonan yang membuat nya teduh. Aileen yang sudah pintar tidak mau di suapi. Gadis ini makan sendiri.
Dooorrr.....tiba-tiba terdengar suara tembakan yang mengejutkan semua orang. Mata Arzan terbelalak ketika melihat istri nya sudah jatuh tidak sadarkan diri.
Aira buru-buru menyelamatkan Aileen sedangkan Aarav mengejar penembak yang sempat dia lihat lari tadi.
Setiba nya di rumah sakit Jova langsung mendapatkan pertolongan pertama. Aira menyusul ke rumah sakit sambil menggendong Ailee.
"Daddy, mommy mana mommy?" tanya gadis kecil itu dengan tangis nya.
Arzan menggendong anak nya, mengusap air mata gadis itu, "Mommy ada di dalam. Sebaiknya Aileen pulang bersama Aunty ya." ujar Arzan berusaha tidak menangis di depan anak nya.
__ADS_1
"Aileen ingin bersama Mommy," rengek gadis itu.
Arzan menyerahkan Aileen pada Aira, "Bawa Aileen pulang, di depan sudah ada yang akan menjaga kalian." perintah Arzan langsung di laksanakan Aira.
Arzan terduduk lemas menunggu istri nya, sejak tadi Dokter belum juga keluar. "Inikah firasat ku sejak kemarin bee?" lirih Arzan, "Aku selalu memikirkan mu,"
Tak berapa lama Aarav datang menemui Arzan, "Bagaimana keadaan Jova?" tanya Aarav.
Arzan hanya bergeleng kepala, "Dokter belum keluar." jawab nya, "Apa kau sudah menangkap pelaku nya?" tanya Arzan.
"Dia berhasil melarikan diri." ujar Aarav membuat Arzan marah.
"Siapa yang sudah berani mengusik keluarga ku? habisi dia!" ucap Arzan geram.
"Ku rasa penembak itu salah sasaran, aku yakin kau lah sebenarnya yang menjadi tujuan utama." ujar Aarav sangat yakin.
"Kerahkan semua anak buah kita, periksa cctv di sepanjang jalan itu dan lain nya. Aku beri kalian waktu lima jam untuk menangkap bajingan itu." titah Arzan langsung di laksanakan Aarav.
Kembali hening, Arzan sibuk mondar mandir di depan ruangan yang masih ada tanda lampu merah menyala. Sekian tahun tidak ada yang berani berurusan dengan Arzan, kini mulai ada yang berani mengganggu nya kembali.
__ADS_1
****Hallo, yuk mampir di novel ke 2 ku yang baru****