Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
45.Mengintai


__ADS_3

Arzan yang merasa tidak ada yang harus di kerjakan memilih untuk tidur siang. Sedangkan Jova masih sibuk dengan ponsel nya yang entah membuat gadis itu sangat tertarik akan ponsel nya. Jova kemudian keluar dari kamar, mencari supir pribadi nya yang sekarang sedang bersantai ria.


"Paman.....!" panggil Jova.


"Iya non, ada apa?" tanya sang supir yang jarang bekerja itu.


"Tolong ambilkan barang ku di toko xxx." perintah Jova langsung di laksanakan oleh supir nya. Gadis itu kembali lagi ke kamar, sudah tidak sabar untuk menunggu barang pesanan nya datang.


Sambil menunggu, Jova memutuskan untuk menonton drama yang belum selesai dia tonton. Butuh waktu satu jam untuk supir tersebut untuk pulang pergi karena memang Jova hanya memberi nya waktu satu jam.


Ketika melihat supir sudah tiba di mansion, gadis itu sangat girang. Apa lagi ketika sang supir menurunkan barang pesanan nya.


"Paman, tolong bantu aku untuk membuka dan membagikan nya kepada yang lain." ujar Jova dengan senang hati juga supir tersebut membantu.


Semua pelayan dan anak buah Arzan masing-masing dapat satu pasang kemeja beserta celana nya. Sungguh, mereka hanya bisa saling pandang dan tidak berani untuk protes.


"Aku tidak mau tahu, saat aku makan malam kalian harus berbaris rapi di sini. Jika tidak ada yang memakai nya, aku akan menembak kalian semua!" ancam Jova kemudian gadis itu kembali ke kamar untuk membangun suami nya yang tidur seperti kerbau.


Jova menggelitiki tubuh suami nya membuat Arzan yang pulas tertidur mau tidak mau harus bangun. Bukan nya marah, Arzan malah menarik istrinya ke dalam pelukan nya.


"Apa kau mandi bee?" tanya Arzan ketika mencium aroma segar di rambut istri nya.


"Aku sudah mandi bee, ayo bangun dan mandi." kata Jova namun Arzan masih betah berlama-lama memeluk istrinya.


"Apa aku tidur terlalu lama bee?" tanya Arzan.

__ADS_1


"Sangat lama. Kau seperti nya kelelahan bee! kau butuh istirahat." ujar Jova. "Cepat mandi, sudah gelap sebentar lagi makan malam."


"Siap istri ku!" goda Arzan sambil mentel hidung istri nya.


Azran sudah mandi dan sudah wangi, pria itu merasa aneh dengan sikap istrinya yang terlihat sangat ceria malam ini. Bahkan, Jova menggandeng tangan suami nya untuk turun makan malam.


Ketika masih berada di atas anak tangga, mata Arzan terbelalak saat melihat beberapa pelayan dan anak buah nya mengenakan pakaian yang berwarna pink ke unguan. Arzan turun, menghampiri jejeran pelayan dan anak buah nya yang terlihat begitu manis malam ini.


"Kenapa kalian memakai pakaian dengan warna seperti ini? dari mana kalian dapat?" tanya Arzan sangat syok. Karena selama ini mereka selalu memakai pakaian berwarna hitam dan tidak pernah ada warna selain warna hitam.


Bukan nya menjawab, mereka malah serempak melirik ke arah Jova yang sangat puas dengan mahakarya nya malam ini. "Aku bosan melihat mereka menggunakan warna hitam. Sesekali mereka harus merubah warna agar lebih hidup." ucap Jova.


Ingin rasa nya Arzan berguling-guling di lantai, "Tapi bee, kelakian mereka akan hilang jika kau memberikan mereka warna seperti ini." protes Arzan langsung membuat wajah istrinya di tekuk.


"Kalau begitu lepas lah!" ucap nya dengan wajah yang di


Sepanjang makan malam, Jova terus tersenyum melihat barisan yang begitu indah itu. Aarav yang baru saja tiba hanya bisa tercengang meminta penjelasan pada Arzan namun pria itu menolak untuk buka suara.


Selesai makan malam, Arzan dan Jova kembali ke kamar sebentar. Arzan berganti pakaian, menyiapkan senjata nya untuk berjaga-jaga.


"Memang nya harus ya membawa senjata seperti itu?" tanya Jova penasaran.


"Hanya untuk melindungi diri bee. Di bawah bantal mu juga ada satu!" seru Arzan dengan begitu santai nya membuat Jova syok.


Gadis itu langsung membuka bantal nya dan tenyata benar ada satu senjata api di sana. "Kenapa benda ini ada di sini bee?" tanya Jova panik.

__ADS_1


"Jika ku tinggal seperti ini, kau bisa menggunakan nya jika kau dalam bahaya. Ingat bee, orang jahat selalu mengintai kita jadi kita harus waspada!" ucap Arzan menyakinkan istri nya.


"T-tapi, tapi aku takut bee." ucap gadis itu.


"Jangan takut, mereka di mansion ini akan menjaga mu. Jika ada yang berkhianat sekali pun dia tidak akan pernah bisa menyentuh mu."


"Emmm...aku mengerti. Pergi lah, jangan lama-lama!" ujar Jova.


Sebelum pergi Arzan mencium kening istrinya dalam, semangat lelaki ini kembali berkobar kerena ada yang menunggu nya pulang.


Arzan dan Aarav mengajak Rasyad, karena hanya pria itu yang tahu seluk beluk dari kelompok yang akan mereka intai. Meski pun cacat, namun Rasyad masih gesit untuk memanjat pohon. Sejak malam itu, kelompok Sadava dan Maldava bergabung menjadi satu bahkan mereka berada di markas yang sama. Itu arti nya kekuaran Alex jauh lebih lebih besar sekarang.


"Kau lihat itu?" tunjuk Rasyad, meskipun mata nya cuma ada satu namun penglihatan pria itu sangat tajam. "Dia adalah tangan kanan Lucas, dia sama kejam nya dengan lucas." ucap Rasyad.


Arzan dan Aarav celingukan, melihat dua orang pria yang saling mengobrol, "Yang mana? itu ada dua orang!" ujar Arzan bingung.


"Yang agak tinggi itu tangan kanan Lucas dan di depan nya adalah tangan kanan Afkar." sekali lagi Rasyad memberitahu.


"Kenapa aku baru melihat mereka? di mana mereka selama ini?" tanya Aarav penasaran.


"Mereka tidak akan muncul, biasa nya hanya bawahan nya saja yang bekerja!" ujar Rasyad memberitahu.


"Di mana Lucas dan Afkar nya? apa mereka ada di sini?" Arzan mulai penasaran.


"Aku yakin tidak ada! mereka akan keluar jika ada masalah besar saja. Melihat mereka seperti ini, aku yakin pasti ada orang yang sudah menyinggung mereka." ucap Rasyad sangat yakin. Arzan dan Aarav tidak memberitahu, padahal mereka berdua lah penyebabnya pada saat penculikan Jova beberapa waktu. Mungkin saja Alex meminta bantuan pada paman nya untuk melenyapkan Arzan yang selama ini selalu mengganggu urusan nya.

__ADS_1


Di tempat ini, Arzan dapat melihat dengan jelas bagaimana mereka menghajar seseorang yang seperti nya masih termasuk anak buah mereka. Mungkin saja orang itu berkhianat. Dengan jelas mereka melihat tangan kanan Afkar mencabut kuku orang itu menggunakan tang hingga membuat nya menjerit kesakitan. Arzan tidak peduli, pria itu hanya butuh informasi yang bisa menentukan langkah selanjutnya.


__ADS_2