Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
36.Terserah!


__ADS_3

Arzan, hanya bisa melihat istri nya dari cctv yang tersambung langsung ke ponsel nya. Itu adalah apartemen pribadi yang yang di miliki Arzan bahkan pria itu memiliki empat unit di kawasan yang terkenal elit ini. Seharian ini Jova hanya tiduran di sofa tanpa melakukan aktifitas apa pun.


Arzan bingung, besok adalah acara wisuda sekaligus ulang tahun Jova. Pria itu sebenarnya sudah menyiapkan kejutan untuk sang istri, namun melihat situasi yang seperti ini membuat Arzan bingung ingin berbuat apa.


Siang berganti malam, masih tetap sama Jova masih berada di sofa ruang tamu. Gadis itu seperti orang bodoh sekarang. Ingin melangkah mundur namun status diri nya sekarang adalah istri Arzan. Ingin melangkah maju namun hati nya belum siap atas apa yang di alami nya beberapa hari terakhir.


Arzan masuk ke dalam apartemen dengan bebas nya, membuat Jova terkejut hingga gadis itu mundur kebelakang. Arzan menghela nafas berat, hati nya sakit sendiri ketika melihat istri nya sangat takut pada nya sekarang.


"Aku hanya membawakan mu makanan. Makan lah!" kata Arzan membuka suara.


Jova hanya diam bersandar di dinding dengan ekspresi wajah ketakutan, "Pergilah! aku tidak ingin melihat mu...!" seru Jova semakin membuat hati Arzan sakit.


"Besok acara wisuda mu, akan ada orang yang datang untuk merias dan menjemput mu. Makan lah, lalu minum obat nya. Aku tidak ingin kau sakit bee." kata Arzan penuh perhatian. Mau tidak mau laki-laki itu kembali ke lantai atas dan memantau istri nya kembali.


Setelah Arzan pergi, perlahan Jova membuka bungkusan yang di bawa suami nya. Isi nya adalah makanan kesukaan Jova, namun gadis ini hanya memandang tanpa berniat untuk memakan nya. Namun lagi-lagi ego Jova di kalahkan dengan rasa lapar karena seharian ini diri nya tidak makan apa pun.


Arzan bisa bernafas lega ketika melihat istri nya mau memakan makanan yang di antar nya tadi. Selesai makan Arzan melihat jika Jova sudah membersihkan diri lalu merebahkan diri di kamar. Gadis itu terlelap begitu saja, membuat Arzan berani masuk tanpa sepengetahuan istri nya.


Ingin sekali Arzan menyentuh wajah lembut istri nya, namun pria itu takut jika membangunkan istri nya. Pada akhirnya, Arzan hanya menjaga Jova di ruang tamu. Semalaman pria itu tidak tidur memikirkan bagaimana cara nya untuk memberikan hadiah ulang tahun untuk istri nya.


Menjelang pagi, Arzan kembali apartemen di lantai atas. Jova terbangun ketika ada tukang rias dan supir nya datang. Gadis itu sangat cantik sekarang, Jova yang tidak pernah di rias membuat wajah gadis itu seperti bercahaya.

__ADS_1


Jova di antar ke kampus, lagi-lagi Arzan hanya bisa mengikuti dari belakang. Suasana kampus sangat ramai, tanpa sengaja Arzan melihat Melvin yang sedang bersama seseorang yaitu Haris paman nya sendiri. Arzan langsung menghampiri pria itu, sedikit menanyakan keadaan Melvin. Biar bagaimana pun, Melvin juga ikut ambil dalam penyelamatan Jova.


Melvin dan Arzan kemudian , duduk berdua me menjauh dari keramaian kampus. "Kenapa tidak menemani istri mu?" tanya Melvin yang kali ini suara nya terdengar sangat dingin.


"Jova tidak ingin melihat atau berbicara pada ku." jawab Arzan tidak bersemangat.


"Dan pasti nya dia juga tidak ingin bicara pada ku. Secara bajingan seperti kita sudah membohongi nya." kata Melvin tertawa masam.


"Jangan sama kan aku dan diri mu, aku bekerja untuk negara sedangkan kau hanya untuk kepuasan mu sendiri." sanggah Arzan yang tidak terima ketika di samakan.


"Emmm,...ya aku tahu itu." ujar Melvin yang terima sanggahan Arzan.


Kemudian pandangan Arzan beralih ke Jova yang telihat sangat sedih. Meski teman nya terlihat sangat bahagia namun tidak dengan gadis itu. Tidak mungkin tidak sedih, di saat acara penting seperti ini semua orang di dampingi orang tua atau keluarga sebagai perwakilan namun tidak untuk Jova yang hanya seorang diri.


"Kasihan sekali. Anak yang malang," timpal Rose membuat hati Jova sakit.


"Mungkin saja sudah di buang. Secara dia hanya sampah!" kata Mika.


Jova masih diam, gadis ini sedang tidak ingin berdebat sekarang. Terserah Mika dan ibu tiri nya ingin berkoar apa yang jelas Jova tidak ingin berdebat. Mika yang merasa di acuhkan ingin melayangkan tangan nya ke wajah Jova namun dengan cepat Arzan menangkap tangan itu lalu menghempaskan nya begitu saja.


Wajah Mika dan Rose langsung berubah ketakutan, namun bukan Rose nama nya jika wanita itu tidak bisa memutar balik kan fakta.

__ADS_1


"Jangan salah sangka pada Mika, semua ini Shia yang memulai nya terlebih dulu." kata Rose membela anak nya.


Jova yang mendengar hal itu langsung memutar bola mata nya jengah, hanya bisa melipat ke dua tangan nya untuk menyaksikan pertunjukan apa yang ada di depan nya sekarang.


"I-ibu ku benar, Jova yang memulai nya lebih dulu." Mika mengikuti kata-kata ibu nya.


"Kau pikir aku bodoh? sejak tadi aku sudah melihat kelakuan kalian. Jika ingin terus berada di tempat ini, berdiam diri lah dan jangan membuat masalah. Aku bisa saja menendang kalian keluar dari kampus ini." ucap Arzan dengan penuh penekanan.


Mika dan Rose yang ketakutan langsung pergi begitu saja, semua orang yang menyaksikan mereka juga kembali ke bersikap biasa saja. Arzan lalu memandang wajah istri nya, "Jika di tindas balas lah. Jangan diam saja!" ucap Arzan yang sangat kesal.


"Kenapa jadi kau yang marah?" tanya Jova dengan ekspresi wajah sombong nya.


"Aku akan menemani mu sampai acara selesai." kata Arzan.


"Tidak di butuhkan, aku tidak ingin melihat mu!" seru Jova.


"Hanya menemani mu, tidak lebih. Ku mohon." ujar Arzan menurunkan nada suara nya. Wajah pria itu juga penuh harap jika istri nya mau berkata iya atau terserah.


Jova membuang nafas kasar, dari pada diri nya seorang diri tidak apa lah jika di temani oleh suami yang sekarang sedang di benci nya ini. Tidak, bukan di benci melainkan Jova hanya marah atas kebohongan Arzan selama ini.


"Terserah kau!" ucap Jova kemudian pergi mencari tempat duduk karena acara sebentar lagi akan di mulai.

__ADS_1


Arzan tersenyum tipis, pria itu dengan bangga nya berada di samping istri nya hingga membuat mahasiswa lain nya merasa iri. Ketampanan Arzan mampu membuat kaum hawa terhipnotis, namun tidak dengan Jova yang terlihat biasa saja.


Sedangkan Melvin, pria itu menjaga jarak dengan Jova karena merasa tidak enak hati telah membohongi Jova selama ini. Melvin merasa lega karena Jova sekarang di temani oleh Arzan meski di hati nya sedang merasakan kecemburuan.


__ADS_2