
Malam ini, Arzan meminta izin pada istri nya untuk pergi bersama Aarav. Jova yang pada awal nya enggan memberi izin pada akhirnya luluh juga. Gadis ini di liputi rasa khawatir, namun diri nya percaya jika suami nya akan pulang dengan selamat.
Arzan dan Aarav terus mengintai, bukan untuk melakukan penyergapan atau menggagalkan sesuatu namun mereka hanya ingin tahu tentang seseorang yang selama ini selalu di cari Arzan.
"Apa hubungannya mereka dengan kelompok Alex?" tanya Arzan semakin penasaran.
"Aku tidak tahu. Firasat ku mengatakan jika kematian keluarga mu pasti ada hubungan nya dengan keluarga Alex." ujar Aarav membuat Arzan teringat kembali akan masa lalu nya.
Mereka adalah kelompok mafia yang bernama Sadava. Entah kenapa baru malam ini Arzan melihat jika kelompok Saldava bekerja sama dengan kelompok milik Alex yang bernama Maldava.
"Maldava, Sadava,....!" gumam Arzan "Nama kelompok mereka hampir sama aku yakin mereka ada sesuatu." ucap Arzan.
Aku yakin mereka pasti ada hubungan yang lebih dari sekedar kerja sama. Sadava memiliki kekuasaan nya sendiri dan itu bukan di kota ini. Mereka pindah ke kota lain kurang lebih sekitar sepuluh atau sebelas tahun yang lalu." Aarav mencoba menjelaskan.
Sejak Arzan berpikir, jika di ingat waktu segitu adalah masa kehancuran keluarga nya. Lelaki itu mengepalkan tangan, hanya satu buah jam tangan yang menjadi petunjuk Arzan untuk mencari pembunuh sekali gus pemerkosa ibu nya. Entah kenapa, tatto yang di miliki kelompok Saldava dan Maldava hampir sama.
"Melvin bilang dia dan Alex adalah saudara sepupu. Tapi kenapa mereka memiliki tatto yang berbeda?" kepala Arzan mulai di penuhi dengan banyak pertanyaan.
"Ya, saat penembakan itu aku jelas melihat di bagian punggung Melvin hanya ada tatto rantai." timpal Aarav membuat banyak teka teki baru bagi mereka.
"Ayo pulang, jangan lupa cari tahu tentang mereka. Selama ini aku hanya mengetahui gambaran kasar tentang Sadava karena mereka tidak pernah menyenggol kita. Aku ingin detail yang lebih mendalam!" perintah Arzan langsung di iyakan oleh Aarav.
Ke dua pria itu kemudian pergi, cukup jauh perjalanan malam ini. Arzan tiba di mansion tepat pukul dua malam. Melihat istrinya yang tidur seorang diri membuat diri nya merasa bersalah. Arzan mengusap rambut istri nya lalu berkata, "Jika semua sudah selesai, aku tidak akan pernah meninggalkan mu di malam gelap seperti ini. Maafkan aku bee!"
Arzan kemudian naik ke atas tempat tidur, memeluk istrinya lalu memejamkan mata. Jova yang sebenarnya bangun hanya bisa diam mendengarkan perkataan suami nya. Sungguh, lelaki ini masih di hantui tentang kematian keluarga nya.
Malam berganti pagi, hari ini adalah akhir pekan dan Arzan bebas akan bangun jam berapa. Jova juga mulai sibuk membuat sarapan, gadis ini sering pergi kedapur untuk memasak.
"Di mana suami mu?" tanya Aarav mengejutkan Jova.
__ADS_1
"Hiiiss.....! mengejutkan ku saja." ucap Jova kesal. "Si Tarzan masih tidur!" jawab nya.
"Bisa kita bicara sebentar?" ujar Aarav membuat Jova mengubah ekspresi wajah nya menjadi penasaran.
"Bicara apa?" tanya gadis itu.
"Sebaiknya jangan di sini....!" cuma pria itu kemudian Aarav dan Jova pergi ke taman samping.
Jova hanya diam, gadis ini yakin jika Aarav akan bicara hal serius karena terlihat sekali dari mimik wajah nya.
"Aku minta pada mu untuk mengerti dengan keadaan Arzan. Apa yang kau dan kau lihat di suatu hari nanti, ku mohon tetap dukung dan beri dia semangat." Aarav berkata dengan wajah memohon. "Kau dan aku adalah satu-satunya keluarga yang di miliki Arzan. Begitu juga sebaliknya, kita sama-sama yatim piatu Jova." tutur Aarav membuat Jova bersedih.
"Aku tahu, sekarang aku sedang belajar menerima segala nya tentang Arzan." ujar Jova.
"Aku sudah mendapatkan informasi tentang kelompok yang menghabisi keluarga nya. Jika suami mu mengalami perubahan suasana hati, ku harap kau mengerti. Arzan akan lebih ganas dari pada sebelum nya." Aarav memberitahu Jova apa yang baru saja dia dapat. "Jauhi Melvin, aku tidak menuduh atau apa, tapi aku yakin semua keluarga mereka ada hubungan nya dengan kematian orang tua dan adik Arzan."
Jova menutup mulut nya tidak percaya, Melvin yang dia kenal adalah laki-laki baik meski akhir-akhir ini Jova sangat kecewa dengan kenyataan yang ada.
"Ada Aarav, kata nya ada hal penting yang akan di bicarakan." Jova memberitahu suami nya membuat pria itu bergegas bangun.
"Di mana dia?" tanya Arzan serius.
"Di ruang kerja mu!" jawab Jova.
Tanpa mencuci wajah atau menggosok gigi, Arzan pergi ke ruang kerja nya untuk menemui Aarav.
"Katakan, ada apa?" tanya Arzan yang masih sangat mengantuk.
"Tebak kita benar, ternyata semua anggota keluarga Alex adalah mafia tapi masing-masing dari mereka memiliki nama kelompok sendiri. Hanya saja,.....!"
__ADS_1
"Hanya saja apa?" tanya Arzan memotong ucapan Aarav.
"Kelompok yang di ketui oleh Melvin tidak ada hubungan nya dengan mereka!" Aarav melanjutkan ucapan nya. "Bahkan mereka sudah memutuskan hubungan persaudaraan sejak sepuluh tahun yang lalu."
"Aku yakin Alex akan membalas dendam atas kejadian kemarin dan dia sengaja meminta bantuan pada paman nya itu." Arzan terkekeh menetertawakan mental Alex.
Selesai bicara, Arzan kembali ke kamar, pria itu langsung pergi mandi lalu sarapan. Jova hanya diam memandang wajah suami nya yang sejak tadi tidak ada senyum itu. Hawa ruang makan juga mencekam, Arzan sedang berpikir menyangkut pautkan hal yang selama ini terjadi.
Selesai sarapan, Jova kembali ke kamar nya karena tubuh nya merasa tidak enak. Arzan juga ikut menyusul, namun pria itu hanya meminta izin untuk pergi latihan sebentar. Jova yang tidak ingin di ganggu hanya mengiyakan.
Tidak, Arzan bukan pergi latihan melainkan pergi menemui seseorang yang sengaja datang untuk menemui nya. Dia adalah laki-laki yang berusia sekitar empat puluh sembilan tahun dan terdapat luka cacat di hampir seluruh tubuh nya.
"Dari mana kau tahu tempat ku?" tanya Arzan mengintimidasi pria yang ada di depannya.
"Aku tahu siapa kau dan siapa latarbelakang mu. Bahkan aku tahu siapa orang yang sudah membunuh keluarga mu." ucap pria yang tidak memiliki mata kiri itu.
Arzan yang mendengar hal itu langsung mencengkram leher pria itu, sorot mata nya tajam penuh dengan amarah. Aarav yang sejak pagi masih berada di tempat itu berusaha melepaskan pria itu itu.
"Jika kau membunuh nya, maka kau tidak akan mendapatkan informasi apa-apa!" Aarav mencoba menenangkan Arzan.
"Katakan pada ku, ada hubungan apa kelompok Sadava, Maldava dan Pendava yaitu kelompok yang sekarang di pegang oleh Melvin." Arzan meminta penjelasan tentang masa lalu ke tiga kelompok tersebut.
"Ini tidak gratis, kau harus membayar informasi itu." lelaki yang bernama Rasyad itu mencoba melakukan penawaran.
"Apa yang kau minta?" tanya Arzan.
"Aku cacat, hidup ku hancur dan seluruh keluarga ku di bunuh oleh anak buah Lucas Sadava. Pengabdian ku hanya di balas kekejaman dari mereka." Rasyad memberitahu tentang kekacauan hidup nya.
"Apa kau ingin menggunakan tenaga lu untuk membalas dendam?" tanya Arzan mencibir.
__ADS_1
"Jangan lupa, jika Lucas adalah orang di balik kematian keluarga mu. Persaingan bisnis dengan ayah mu, tidak bukan hanya bisnis tapi ini masalah cinta." ujar Rasyad sedikit membuka perihal kejadian masa lalu.
Mata Arzan dan Aarav melebar, mereka tidak percaya jika masih ada masalah lain yang selama ini tidak penah terpikirkan oleh Arzan. Dilihat dari keadaan nya, Arzan dan Aarav yakin jika Raysad tidak mungkin membohongi mereka. Karena apa? selain kehilangan salah satu matanya, beberapa jari kaki nya juga hilang bahkan bekas luka di tubuh pria itu ada di mana-mana, lebih parah lagi Rasyad juga kehilangan salah satu daun telinga nya. Semoga saja, informasi yang di beriman Rasyad itu benar dan akan menjadi titik terang untuk Arzan agar bisa menemukan siapa pembunuh sebenarnya.