Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
109.Bekerjasamalah


__ADS_3

Pagi buta sekali Arzan bergegas pulang ke mansion, setiba nya di mansion Arzan langsung terduduk lemas ketika melihat beberapa mayat yang sudah tergeletak bersimbah darah.


"Siapa yang sudah membunuh mereka?" tanya Arzan marah.


"Maaf tuan, mereka berhasil merampas salah satu senjata anak buah kita lalu menembak diri mereka sendiri." jawab salah seorang anak buah Arzan.


Arzan mengacak rambut nya frustasi, enam orang yang dia anggap penting untuk mengungkapkan siapa dalang dari penembak anak dan istri nya kini sudah tiada. Hanya tinggal anak buah dari musuh yang terlihat sekali mereka tidak tahu apa pun tentang hal ini.


"Brengsek!" umpat Arzan emosi.


"Tenangkan diri mu," ujar Aarav.


"Bagaimana bisa aku tenang sedangkan mereka belum sempat membuka mulut siapa dalang dari semua ini." kata Arzan lesu.


"Mereka tipe setia, lebih baik mati dari pada harus membuka semua nya." ujar Aarav membuat Arzan semakin bingung.


"Kenapa daddy harus bingung?" tanya Aileen yang tiba-tiba ada di markas mereka.


"Ai, ngapain kamu ke sini?" tanya Arzan langsung menghampiri anak nya lalu menutup mata anak nya dengan telapak tangan agar tidak melihat mayat yang bergelempangan.


Aileen menurunkan tangan daddy nya, gadis ini maju selangkah lalu mengeluarkan peluru yang selama ini dia simpan.

__ADS_1


"Aku sudah tahu siapa dalang dari semua ini. Dengan peluru ini, aku sendiri yang akan membalas perbuatan mereka." ujar Aileen sambil menatap tajam peluru yang di pegang.


"Ai, berikan benda itu pada daddy. Cepat berikan!" Arzan memaksa anak nya.


"Tidak dad, jika daddy mau masalah ini cepat selesai, maka biarkan Ai sendiri yang membalas mereka. Jika tidak, maka Ai akan tutup mulut sama seperti mereka!" ucap Aileen sambil menunjuk mayat di lantai, yang itu arti nya Aileen sedang mengancam daddy nya.


"Kau jangan macam-macam Ai, jika mommy mu tahu kau kenapa-kenapa kepala daddy yang akan di penggal nya." ujar Arzan masih berusaha membujuk anak nya.


"Ayo lah Ai, beritahu paman dan daddy mu, siapa dalang dari semua ini?" timpal Aarav ikut membujuk Aileen.


"Sebenarnya kalian tahu siapa, hanya saja kalian sedikit bodoh untuk menemukan nya!" ucap Aileen dengan nada mengejek kemudian pergi.


Arzan membuang nafas kasar, kata-kata anak nya tidak bisa dia remehkan.


"Urus mayat ini...!" titah Arzan yang sudah pusing sendiri.


Aileen mengunci diri di kamar, gadis ini sudah tahu apa yang akan di lakukan daddy nya. Aileen terus memandang peluru tersebut, gadis ini seperti menyimpan dendam yang teramat dalam.


"Berkat kau, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua ku. Keluarga ku hambar, daddy membenci ku. Mommy tidur sangat lama. Lihatlah, aku sendiri yang akan membalas kesakitan mommy nanti." ucap Aileen dengan sorot mata tajam nya.


Di luar sana Aira terus berusaha membujuk Aileen agar gadis itu mau membuka pintu kamar nya. Arzan juga ada di sana, namun pria itu hanya diam saja karena selama ini dia sendiri tidak pernah tahu tentang anak nya.

__ADS_1


"Biarkan dia sendiri. Aileen butuh waktu," ujar Aira yang sudah lelah.


"Apa yang harus aku katakan pada Jova nanti, anak nya akan menjadi sama seperti ku." ucap Arzan mulai merasa bersalah.


"Bekerjasama lah dengan anak mu, Aileen anak yang pintar. Aku yakin kau dan dia bisa menemukan jalan keluar nya." ujar Aarav lalu mengajak istri nya pergi.


Arzan hanya berdiri mematung di depan pintu kamar anak nya, pria ini bingung ingin mulai dari mana. Pada akhirnya Arzan memberanikan diri untuk mengajak anak nya pergi ke rumah sakit dan Arzan berjanji tidak akan membahas apa pun tentang masalah ini.Tentu saja Aileen setuju, gadis ini keluar dari kamar lalu mengekor di belakang daddy nya.


"Kau sudah sarapan?" tanya Arzan.


"Belum, Ai buru-buru tadi." jawab gadis itu.


"Kita cari makan dulu." ujar Arzan.


"Tidak perlu, kita makan di kantin rumah sakit saja." tolak gadis itu.


"Kau masih marah sama daddy?" tanya Arzan bingung.


"Tidak, aku memang seperti ini...!" ucap gadis itu.


Lagi-lagi Arzan hanya bisa menghela nafas pelan. Jika dulu dia selalu membentak anak nya hingga membuat Aileen takut, namun kali ini Arzan tidak menemukan rasa takut di wajah anak nya.

__ADS_1


"Jika daddy mengizinkan ku untuk melakukan hal yang aku mau, minggu depan aku bisa membawa daddy untuk melihat siapa dalang dari semua ini." ujar Aileen sebelum turun dari mobil. Arzan hanya diam, gadis ini ternyata keras kepala sama seperti mommy nya.


__ADS_2