
"Mau kemana kau?" tanya Aarav ketika melihat Arzan hendak keluar dari persembunyian nya.
"Aku ingin menyelamatkan istri ku!" kata Arzan dengan sorot mata tajam nya.
"Jangan gegabah Arzan, Alex bisa saja menyakiti Jova hanya untuk memancing mu keluar." ujar Aarav menasehati.
"Benar tuan, kita harus membaca kondisi sebelum masuk." sambung David.
Arzan mencengkram leher Aarav, "Ini sudah lewat tengah malam. Istri ku pasti sedang kesakitan dan kelaparan juga ketakutan sekarang." ujar Arzan begitu geram.
"Aku tahu, tapi kau lihat anak buah Alex sangat banyak." sahut Aarav melepaskan diri dari cengkraman tangan Arzan.
Arzan hanya bisa membuang nafas kasar, memperhatikan gerak gerik anak buah Alex yang sejak tadi berjaga. Arzan mulai mengangkat senapan nya, sanapan mahal jika menembak tidak akan mengeluarkan suara sama sekali. Pria itu mulai fokus, begitu juga dengan Aarav yang terpaksa mengikuti kemauan Arzan.
Memang tidak ada suara, salah satu anak buah Alex yang berjaga di sudut gerbang tumbang begitu saja. Satu teman nya mengejar untuk melihat keadaan pria yang sudah mati itu, namun lagi-lagi Arzan membidik nya tepat sasaran. Kemarahan pria ini telah memuncak, satu persatu anak buah Alex yang berajaga di gerbang yang berjumlah lima orang sudah di babat habis.
"Kau lihat itu David," tunjuk Arzan pada dua cctv yang berada di gerbang paling atas. "Kita harus bisa menghindari cctv itu." kata Arzan membuat Aarav dan David bingung ingin lewat mana.
"Kenapa tidak merusak nya saja?" tanya Aarav membuat Arzan kesal.
"Kau ini bodoh atau apa? jika kita merusak nya itu sama saja membuat mereka curiga. Mereka pasti sedang mengawasi cctv sekarang." kata Arzan.
Dasar Aarav yang bodoh atau lupa, bukankah Arzan sejak tadi sudah memancing anak buah Alex pergi ke sudut yang tidak terjangkau oleh cctv.
"Teropong cctv nya," perintah Arzan pada David, "Sebutkan, mereka apa dan tipe apa?"
Arzan tersenyum puas ketika mendengar David mengatakan tipe cctv yang menurut nya Alex kurang cerdik untuk memilih barang elektronik.
"Kita ke kesitu, lalu merayap di dinding karena cctv murahan itu tidak menjangkau dinding gerbang." kata Arzan.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu? jika tebakan mu salah bagaimana?" tanya Aarav yang khawatir.
"Sudah berapa tahun kau menjadi anak buah ku? kenapa masih bodoh juga?" tanya Arzan sangat kesal.
"Biasa saja ngomong nya!" ketus Aarav "Coba kau bicara seperti itu di depan Jova sudah pasti di sambar kau!" cibir Aarav.
David hanya bisa menjadi pendengar dan penonton yang baik, mau ikutan menyahut mana bisa karena takut akan di bogem oleh tuan nya. Pada akhirnya, mereka bertiga maju ke gerbang yang sambil menempel seperti cicak. Tidak lupa sebelum anak buah Arzan juga di perintahkan melangkah maju. Nama nya juga orang terlatih, anak buah Arzan dengan mudah nya menuntaskan anak buah Alex di belakang.
David mengintip, ternyata di halaman lebih banyak lagi, membuat pria itu bingung ingin masuk lewat mana.
"Berapa orang?" tanya Arzan.
"Sekitar lima belas orang!" jawab David sambil mengangkat ke lima jari nya.
"Apa masa kecil mu tidak pergi ke taman kanak-kanak?" tanya Arzan pada David.
"Pergi tuan!" seru David tidak mengerti.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Aarav.
"Kau ini kenapa menjadi bodoh Aarav? kau kan punya gas bius, lempar ke mereka. Dalam satu menit mereka akan tidur dengan damai." kata Arzan membuat Aarav tersenyum cengir.
Benar saja, Aarav membuka tutup gas lalu melemparnya ke arah halaman dalam. Anak buah Alex yang melihat kepulan asap dengan bodoh nya menghampiri benda itu lalu menghirup nya. Semua orang merasa sesak, satu persatu jatuh tersungkur. Dan kejadian ini sudah tentu terpantau di cctv.
"Cepat masuk, aku yakin anak buah Alex yang lain sedang menuju ke mari." perintah Arzan lalu mereka langsung masuk ke dalam lalu memanjat ke atas atap dengan santai nya.
Di salah satu ruangan, anak buah Alex datang menghadap tuan mereka lalu memberitahu, "Musuh sudah masuk ke dalam markas tuan!"
Alex bersungut membentak semua anak buah nya yang lalai berjaga di depan, pria itu langsung pergi ke ruangan di mana Jova di sekap.
__ADS_1
Dengan kasar Alex menendang tubuh Jova, membuat gadis itu terpaksa bangun, "Ikut aku, suami mu harus melihat sendiri kematian mu malam ini." ucap Alex membuat Jova ketakutan.
"Apa ada Arzan?" tanya polos gadis itu.
"Ya, dan aku ingin membuat nya mengemis di bawah kaki ku atas kematian mu!" seru pria itu.
"Lepaskan aku,....lepaskan aku....!" pinta Jova di iringi tangis nya.
"Lepaskan dia,........!" perintah suara berat yang sangat di kenali Jova.
Alex dan Jova sontak menoleh ke arah sumber suara, mata Jova terbelalak ketika melihat laki-laki yang berdiri dengan gagahnya. Alex menyerahkan Jova kepada Doris, lalu menodong nya dengan senjata api.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Alex yang sedikit terkejut dengan kehadiran Melvin di sana.
"Bebaskan Jova brengsek....!" suara itu menggema di sudut ruangan. Jova sejenak terdiam, laki-laki yang di kenal nya selama kuliah dan terlihat pendiam juga cupu ini kita terlihat seperti orang kerasukan.
Alex menyunggingkan bibir atas nya, maju menghampiri Melvin. "Apa hubungan kau dengan gadis ini?" tanya Alex yang penasaran.
Belum juga Melvin menjawab, Arzan sudah masuk ke dalam ruangan itu, "Bebaskan istri ku bajingan.....!" teriak Arzan dengan mata merah menyala.
Melvin tersentak ketika mendengar kata istri yang keluar dari mulut Arzan, "Istri...? bukan kah kau kakak nya Jova?" tanya Melvin bingung. Alex dapat membaca situasi ini sekarang.
"Diam brengsek!" bentak Arzan. "Jauhkan senjata itu dari kepala istri ku bajingan...!" sekali lagi Arzan meminta hingga membuat pria itu mengangkat senjata ke arah Doris.
"Berani menembak ku, akan ku pecahkan kepala istri mu!" ancam Doris.
Alex juga memegang senjata nya, pria itu menghampiri Jova lalu berkata pada gadis itu, "Kau lihat wajah suami mu itu, dia adalah orang yang sudah menembak mati ayah mu."
Jova syok, tebakan nya benar. Mata Arzan membulat, begitu juga dengan Melvin, "Bee,...jangan percaya dengan mulut bajingan itu. Dia yang sudah menembak ayah mu untuk menghindari kejadian polisi." kata Arzan menyakinkan.
__ADS_1
Air mata Jova mulai mengalir deras, di bawah todongan senjata api dia berkata, "Lalu, aku harus percaya dengan siapa? pasti kau yang sudah memaksa ayah ku untuk menulis surat wasiat itu kan?" tanya Jova membuat hati Arzan langsung patah. Sedangkan Melvin hanya terdiam sambil menata hati nya yang baru saja mengetahui kebenaran jika Jova telah menikah. Melvin melihat kode di senjata api milik Arzan, label Az membuat mata pria itu melotot karena orang yang selama ini menggagalkan setiap transaksi nya ternyata adalah Arzan. Melvin mulia panik, pria ini sangat takut jika Jova mengetahui pekerjaan haram yang selama ini di lakukan oleh Melvin.