Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
83.Apa Ini?


__ADS_3

"Dari mana saja kau, kenapa ponsel mu mati?" tanya Aarav khawatir ketika melihat Aira pulang pukul empat pagi.


"Ponsel ku hidup, hanya saja nomor mu ku blok sebentar." ujar Aira.


"Kenapa?" tanya Aarav tidak terima.


"Karena aku tidak ingin pekerjaan ku terhambat!" ujar Aira. "Aku lapar, beri aku makan sekarang." pinta wanita itu buru-buru Aarav mengajak wanita itu pergi ke meja makan. Untung saja pelayan dan para koki di rumah ini tidak pemalas, mereka sudah bangun untuk menyiapkan sarapan pagi karena banyak mulut yang harus makan di mansion ini.


Aira makan dengan lahap, wanita ini benar-benar kelaparan. Aarav sebenarnya sangat penasaran namun merasa iba pada wanita yang ada di depan nya ini.


"Jam berapa Arzan bangun?" tanya Aira.


"Kenapa kau menanyakan suami orang, tidak baik?" ujar Aarav.


"Kau pikir aku perebut suami orang?" sahur Aira yang kesal.

__ADS_1


"Sebentar lagi, sejak punya anak Arzan selalu bangun di pagi buta!" ujar Aarav namun yang mereka bahas ternyata sudah ada di depan mata.


"Dari mana saja kau Aira, calon suami mu ini sudah hampir gila memikirkan mu?" ujar Arzan membuat wajah Aarav langsung pucat malu.


Aira meletakan sendok nya, lalu mengambil apa yang di dapat. "Ini,....!" ujar Aira menyerahkan selembar kertas.


"Apa ini?" tanya Arzan bingung.


"Baca saja, kau pasti terkejut!" seru Aira.


"Menurut kesimpulan ku, Clovis atau Mr.Bram sengaja meminta anak mu sebagai alat untuk membuka semua sandi harta kekayaan yang sengaja di simpan kakek mu di sebuah bank yang ada di eropa. Lihat ini juga!" ujar Aira menunjukan isi ponsel nya yang berupa gambar yang di ambil.


"Apa ini?" lirih Arzan, "Aku tidak pernah tahu jika kakek menyimpan semua harta kekayaan sebanyak ini. Bahkan, ada beberapa perusahaan yang aku saja pernah bekerjasama dengan mereka." ujar Arzan semakin bingung.


"Yang ku baca, semua perusahaan yang ada di bawah tangan Mr.Bram itu semua nya ilegal tidak memiliki hak milik. Dari surat wasiat ini sudah jelas tertulis jika hanya cicit kandung dari anak pertama yang berhak menerima semua warisan ini.Bahkan, di surat ini juga tertulis nama mu yang jika anak mu berumur tujuh belas tahun kau sendiri yang akan menemani anak mu untuk mengambil semua nya dengan bukti DNA antara kau dan anak mu." tutur Aira panjang lebar. Meski pun lelah Aira masih bisa berpikir panjang lebar untuk menyimpulkan semuanya sedangkan Arzan sudah tidak bisa berpikir lagi karena pria ini hanya mementingkan keselamatan anak nya.

__ADS_1


"Jadi, sekarang yang berada di dalam bahaya bukan kau Arzan. Tapi Jova dan baby Ai." ujar Aarav ikut bingung. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Percuma saja jika aku menyembunyikan Jova dan anak ku. Mereka pasti tahu kemana mereka aku membawa nya." ujar Arzan lemas.


"Jangan putus asa, sebagai seorang suami dan ayah, kau pasti tahu tempat teraman untuk mereka." Aira memberi kan semangat untuk Arzan.


"Kita memang melupakan nya Arzan," ujar Aarav membuat Arzan bingung.


"Melupakan apa?" tanya pria itu.


"Apa kau lupa tempat persembunyian kita, sebuah rumah di tangah hutan yang hanya kita saja yang tahu." ujar Aarav membuat Arzan ingat jika sudah dua tahun dia tidak pergi ke sana.


"Em, kau dan Aira akan pergi bersama Jova dan Ai. Aku akan pergi dengan David untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka harus mati di tangan ku!" ucap Arzan sudah tidak tahan dengan masalah nya.


Arzan menyuruh Aira untuk beristirahat. Sedangkan diri nya dan Aarav harus segera menyusun rencana untuk melumpuhkan Clovis alias Mr.Bram.

__ADS_1


__ADS_2