
Hangat sekali hati Arzan, pria itu memandang istri nya yang sejak tadi menggendong anak bayi yang berumur sekitar satu tahun. Bayi laki-laki dengan pipi tembem, lucu bukan? tanpa sadar Arzan membayangkan jika diri nya memiliki anak.
"Mau coba gendong?" tawar Jova membuyarkan lamunan suami nya.
"Emang nya boleh?" tanya Arzan namun tangan nya meraih bocah gembul yang ada di tangan istri nya. "Dia lucu sekali,...!" ucap Arzan gemas.
"Iya,.." sahut Jova sambil mencium pipi bocah itu.
"Bee,... Apa kau tidak ingin memiliki boneka lucu seperti ini?" tanya Arzan membuat Jova langsung menyengir.
"Selalu saja seperti itu...!" ujar Jova.
"Apa salah nya meminta? siapa tahu kau akan merubah pikiran mu itu." sahut Arzan langsung mendapatkan cubitan di lengan pria itu.
Arzan merintih, meski sebenarnya cubitan itu tidak berasa apa-apa di kulit nya.Setelah puas bermain di panti asuhan, pasangan suami istri itu memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Sudah lama gadis ini tidak berbelanja, terkadang pergi ke mall hanya untuk sekedar mencuci mata atau melihat-lihat saja.
Arzan dan Jova banyak membeli pakaian couple, begitu juga dengan sepatu. Beberapa pakaian untuk pesta dan perlengkapan lain nya. Meski Jova memegang sendiri kartu tanpa batas, namun sebagai seorang suami yang baik sudah tentu Arzan sendiri yang membayar nya.
"Mau kemana lagi sekarang?" tanya Arzan.
"Aku lapar bee...!" rengek gadis itu.
"Kau ingin makan apa bee?" tanya Arzan.
"Makan yang murah saja asal enak." jawab gadis itu. "Aku bosan makan di restoran!" gumam nya.
"Ya sudah, kita cari outlet makan yang enak." kata Arzan kemudian mereka mengelilingi pusat perbelanjaan itu untuk berburu makanan.
Ujung-ujungnya, pilihan mereka jatuh pada makanan khas yang berasal dari negara yang terkenal dengan k-pop nya. "Jangan suka makan pedas bee,...nanti kau diare." ujar Arzan.
__ADS_1
"Iya,...iya,...sesekali apa salah nya sih?" gadis itu protes.
Mereka makan saling mengobrol, Arzan sangat senang melihat istri nya senang. Meski pernikahan mereka terasa biasa saja namun Arzan akan selalu sabar menunggu waktu itu.
"Arzan...hii....kau Arzan kan?" tanya seseorang mengejutkan Jova dan Arzan.
Arzan langsung menatap wajah pemilik suara yang baru saja menegur nya itu. "Arvana,....!" lirih Arzan. Jova yang bingung hanya bisa diam saja.
Tanpa ragu, Zelika langsung memeluk Arzan. "Apa kabar Arzan? aku rindu...!" ucapan Arvana membuat Jova tersentak kaget. Siapa Arvana ini? tidak, Jova tidak mau mengambil kesimpulan sebelum suami nya menjelaskan.
Arzan yang merasa tidak enak hati pada istri nya langsung mendorong Arvana. "Jangan memeluk sembarang. Pikirkan perasaan orang lain." ujar Arzan membuat Arvana melongo tidak percaya dengan sikap Arzan.
"Perasaan siapa? perempuan ini? memang, siapa dia?" tanya Arvana dengan angkuh nya.
Arzan melirik ke arah Jova lalu menjawab pertanyaan Arvana dengan santai nya. "Dia istri ku...!''
Mata Arvana melebar, wanita itu tidak percaya dengan ucapan Arzan. "Sejak kapan kau bisa melupakan ku? tiba-tiba saja kau sudah menikah!" cibir nya.
Anna tidak terima ketika Arzan mengacuhkan nya begitu saja. Wanita yang seumuran dengan Arzan itu kembali ke meja nya dengan wajah kesal.
Arzan langsung mengajak Jova pulang karena hari mulai petang. Di perjalanan, Jova tidak ingin bertanya karena dia takut jika suami nya tidak akan menjawab. "Jelaskan atau tidak?" tanya Arzan.
"Terserah, aku juga tidak ingin bertanya." sahut Jova.
"Nama nya Arvana, dia mantan ku..." kata Arzan membuat jantung Jova seketika berhenti. "Kami berpacaran sejak SMA hingga kuliah semester awal. Tapi, dia mengkhianati ku." Jelas Arzan.
"Kenapa?" tanya Jova singkat.
"Karena pada saat itu, perusahaan peninggalan orang tua ku di ambang kebangkrutan. Orang tua Arvana langsung memutuskan hubungan ku dan Arvana. Pada saat itu, ku pikir Anna mencintai ku dengan sungguh-sungguh, tapi nyata nya mereka hanya memanfaatkan kekayaan ku saja." sekali lagi Arzan menjelaskan agar istri nya tidak salah paham.
__ADS_1
"Ku pikir kau tidak punya masa lalu, ternyata sama saja." ujar Jova dengan tawa masam nya.
"Apa kau cemburu bee?" tanya Arzan.
Jova tertawa, rasa nya lucu sekali dengan pertanyaan suami nya ini. "Aku cemburu...!" Jova menunjuk diri nya sendiri "Untuk apa aku cemburu oada perempuan yang pernah membuat hati mu patah? itu tidak akan mungkin." ujar Jova membuat hati Arzan tenang.
"Terimakasih pengertian nya bee,...!" ucap Arzan.
Mereka tiba di mansion, Jova langsung pergi mandi sedangkan Arzan sedang memasukan semua barang belanjaan diri nya dan istri nya. Meski pun ada pelayan, namun pria itu tidak ingin merepotkan mereka.
Malam yang sunyi, Jova sedang tiduran manja di pangkuan suami nya. Lelaki itu juga senang, Arzan terus mengusap lembut rambut istri nya. Mereka sedang menonton drama, sudah tentu ini drama romantis dengan adegan-adegan yang bisa membuat tubuh Arzan panas dingin.
Sesekali Arzan melirik bibir istri nya yang sejak tadi tidak berhenti mengunyah camilannya. Sungguh, Arzan sudah tidak kuat dengan bibir tipis itu.
"Tidak bisa kah kau tenang bee?" protes Jova.
"Tidak, bisakah kau bangun bee?" sahut Arzan.
"Kenapa?" tanya Jova bingung.
Tidak menjawab melainkan Arzan langsung merengkuh tengkuk istri nya, meraup bibir manis yang sejak tadi menggoda nya itu. Tangan nakal nya berjelajah menyusuri bagian sentitif istri nya. Jova mengeluh, membuat Arzan semakin agresif. Ketika tangan itu hendak menyentuh bagian yang paling sensitif, Jova langsung sadar dan melepaskan ciuman suami nya.
"Maafkan aku bee...!" ucap Arzan merasa bersalah.
Jova terdiam, melihat wajah suami nya yang tersiksa seperti ini membuat nya mulai merasa bersalah. Wajah Arzan langsung berubah sayu, bagaimana tidak? hasrat yang tiba-tiba berada di puncak kini lemas tak berujung.
"Maafkan aku bee,...aku terlalu egois untuk mu." kata Jova membuat Arzan mengangkat wajah nya lalu menatap ke dua netra mata Jova.
"Kenapa kau meminta maaf bee? aku yang salah, aku seharusnya tidak meminta lebih dari mu." sahut Arzan semakin membuat Jova merasa bersalah detik itu juga.
__ADS_1
Mata gadis itu berkaca-kaca, sudah berapa bulan pernikahan nya dengan Arzan rasa nya hambar terasa meski setiap hari keadaan mereka baik-baik saja. "Seharusnya aku membiarkan kau menyentuh ku. Aku adalah istri yang paling egois." ucap Jova dengan suara bergetar.
Arzan langsung menggenggam tangan istri nya, memeluk gadis itu erat-erat, "Tidak bee,...kita hanya butuh sedikit waktu untuk menata perasaan ini. Aku berjanji tidak akan menyentuh mu tanpa seizin mu." kata Arzan membuat tangis gadis itu pecah. Berdosa rasa Jova karena tidak pernah memenuhi kebutuhan batin suami nya.