Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
49.Panik


__ADS_3

Sore ini Arzan pergi sendiri, laki-laki itu duduk di cafe yang sengaja dia kosongkan untuk menunggu seseorang. Tak berapa lama, orang yang dia tunggu akhirnya datang. Melvin yang di kenal sangat cupu kini nampak tampan bahkan wajah nya sangat dingin. Namun, setampan nya Melvin tetap Arzan lah yang menang.


"Apa kabar Jova?" tanya Melvin membuat Arzan kesal.


"Jangan menanyai istri ku!" jawab nya kesal.


"Apa salah nya bertanya? dia teman ku, bahkan aku lebih mengenalnya dulu dari pada kua!" ejek Melvin dengan berani nya.


"Kau memang mengenal nya jauh lebih lama dari aku, tapi aku adalah satu-satunya yang bisa dulu menikah dengan nya." balas Arzan tidak memancing emosi Melvin.


"Ada apa kau mengajak ku bertemu?" tanya Melvin, kali ini pria itu tidak sungkan lagi berbicara pada Arzan.


"Ku dengar, orang tua mu mati di tangan Afkar, paman mu sendiri...!" kata Arzan membuat telinga Melvin memerah.


"Dari mana kau tahu?" tanya Melvin dingin.


Arzan melipat ke dua tangan nya, menyeruput segelas kopi mahal yang ada di depan nya, "Apa kau dendam pada paman mu itu?" tanya Arzan masih terlihat santai.


"Kenapa kau ingin tahu? kau tidak ada hubungan nya!" kata Melvin tidak terima.


"Karena Afkar dan Lucas sudah bekerja sama untuk menghabisi keluarga ku!" kata Arzan dengan sorot mata tajam bahkan ke dua tangan nya mengepal.


Mata Melvin melebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Arzan. "Jangan membimbing ku!" seru Melvin.


"Apa aku sedang mengajak mu bermain sekarang?" tanya Arzan "Selama ini, bertahun-tahun aku mencari mereka namun hanya bertemu dengan anak buah nya saja. Kau pasti tahu cara untuk membuat mereka keluar!" ujar Arzan.


"Meski pun dia adalah paman ku, tapi aku akan tetap menyingkirkan mereka. Mereka sudah membuat aku dan adik ku menjadi seorang yatim piatu." ucap Melvin marah.

__ADS_1


"Yang kau rasakan tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan. Daddy dan adik ku mati di tangan mereka, mommy ku di perkosa lalu di bunuh oleh mereka? Aku jauh lebih sakit," kata Arzan memberitahu.


"Biadab!" umpat Melvin "Mereka bukan manusia. Yang lebih menyakitkan, oragan dalam tubuh ayah ku tidak ada satu pun dalam jasad nya. Mereka tidak mengenal yang nama nya saudara." ujar Melvin geram dengan sikap paman nya yang serakah itu.


Obrolan berlanjut hingga matahari mulai samar-samar terlihat baru lah Arzan beranjak pulang. Setiba nya di halaman mansion, kepala pelayan buru-buru menghampiri Arzan.


"Ada apa paman?" tanya Arzan bingung.


"Nona Jova membuat ulah lagi tuan." kata kepala pelayan memberitahu.


"Membuat ulah bagaimana?" tanya Arzan nampak bingung dengan aduan kepala pelayan ini.


"Masuklah tuan, lihat sendiri...!" kata kepala pelayan kemudian Arzan bergegas masuk.


Baru saja Arzan masuk, mata lelaki itu terbelalak ketika melihat cat dinding mansion nya hampir separo berubah warna dari abu-abu dan keemasan menjadi warna pink ke unguan.


"Apa nya nampak hidup?" tanya Arzan bingung. "Kanapa kau mengganti warna nya bee?" tanya Arzan dengan suara pasrah nya. Baru setengah hari di tinggal sudah sebagian dari mansion ini berubah warna.


"Aku bosan dengan warna yang lama. Jadi aku mengganti nya." kata Jova tanpa merasa bersalah. "Aku menggunakan semua tenaga anak buah mu untuk bekerja, jadi hasil nya cepat!"


Mati lah Arzan, mau marah pun tidak bisa karena akhir-akhir ini istri nya sangat sensitif. Arzan hanya bisa tertawa masam, merangkul istri nya lalu mengajak nya pergi ke kamar.


Kepala pelayan bisa bernafas lega, karena tuan nya tidak menodongkan senjata malam ini. Baru saja membuka pintu kamar, lagi-lagi Arzan di kejutkan dengan perubahan kamar nya. Kamar yang di dominasi warna abu-abu menunjukkan sikap seorang pria yang maskulin dan pembersih kini juga berbuah warna di mulai dari cat dinding hingga tempat tidur.


"Bee, kenapa kau mengubah kamar kita?" tanya Arzan.


"Kenapa bee? apa kau tidak suka?" tanya Jova mengerucutkan bibir nya.

__ADS_1


"Bukan marah bee, tapi kau sudah kelewatan mengubah semua nya. Ini terlalu berwarna menurut ku." kata-kata Arzan membuat Jova merasa tersinggung.


Wajah bahagia gadis itu langsung berubah masam, "Aku akan mengganti nya!" kata Jova dengan nada datar nya.


Gadis itu kemudian mengeluarkan seprai dan selimut yang selama ini hanya ada dua warna, putih dan abu-abu. Arzan hanya bisa memandang sikap istrinya, gadis itu mulai mengganti alas tempat tidur sambil diam-diam menangis. Arzan yang sadar jika istri menangis langsung menghentikan tangan istri nya yang sibuk itu.


"Kau menangis bee?" tanya Arzan mulai takut.


"Tidak, aku tidak menangis!" seru Jova lalu menepis tangan suami nya.


"Kau marah bee, jika kau suka jangan di ganti." kata Arzan namun tetap saja Jova tidak mendengar suami nya. Gadis ini sudah selesai mengganti semua nya.


Arzan menarik istri nya, namun Jova dengan kasar mendorong nya. Gadis itu pergi, keluar dari kamar menuju kamar nya yang dulu. Arzan berusaha mengejar, lelaki ini sadar telah menyinggung perasaan istrinya.


"Bee buka pintu nya bee....!" Arzan mengetuk pintu. Namun, tetap saja Jova tidak mendengar nya.


Mati lah Arzan, hanya karena kata kelewatan istri nya kini marah besar. Jova bahkan melewatkan makan malam nya, membuat Arzan semakin berasa bersalah. Pria itu berusaha membuka pintu kamar yang ternyata kode pintu nya sudah di ganti oleh Jova.


"Aaah,...sial!" umpat Arzan lalu memanggil anak buah nya membuka pintu kamar.


Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Arzan melihat jika istri sudah tidur dengan mata sembab. Arzan mengusap rambut istri nya, menarik selimut agar gadis itu tidak kedinginan.


Sama seperti Jova, Arzan melewatkan makan malam dan tidur di samping istrinya. Malam telah berganti pagi, Jova bangun dengan rasa mual di perut nya. Gadis itu berlari menuju kamar mandi, Arzan yang terkejut langsung mengejar istri nya ke kamar mandi.


Belum sempat bicara apa-apa, Jova langsung tidak sadarkan diri. Untung saja gadis itu jatuh dalam pelukan suami nya, tentu saja hal itu membuat Arzan panik. Arzan langsung menggendong istri nya menuju tempat tidur. Teriakan nya menggema memanggil kepala pelayan.


Sudah tentu suasana pagi itu mencengkam, semua anak buah Arzan hanya bisa berjejer rapi menunggu perintah.Setelah menunggu beberapa waktu, Jova tidak juga sadar membuat Arzan memutuskan untuk membawa istri nya kerumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2