
Dengan membawa semua pasukan nya, Arzan kembali datang ke markas Abrar. Arzan tidak terkejut ketika melihat bekas anak buah Alex ada di sana. Sudah pasti mereka satu tuan hanya saja bertangankan orang yang berbeda.
"Aku meminta anak mu, kenapa kau malah datang membawa semua anak buah mu?" ujar Abrar sombong.
"Katakan pada ku, untuk apa kalian meminta anak ku?" tanya Arzan memancing.
"Bukan urusan mu!" seru Abrar membuang putung rokok nya.
"Katakan saja terus terang, jika anak ku adalah satu-satunya kunci untuk membuka semua harta kekayaan kakek ku yang tersimpan di salah satu Bank di Eropa kan!" ujar Arzan membuat mata Abrar melebar.
"Kekonyolan macam apa yang kau ucapan?" tanya Abrar dengan tawa terpaksa nya. "Ayah ku hanya menginginkan anak mu untuk di rawat."
"Hanya untuk di rawat?" Arzan mengulangi kata-kata Abrar. "Jika untuk di rawat lalu kenapa ayah mu sibuk menghancurkan dan membunuh semua keluarga ku. Mengatur hidup ku dengan sangat tapi bahkan dia menimbulkan banyak orang hanya untuk bermusuhan dengan ku?"
"Bocah ingusan, banyak omong!" seru Abrar mulai terpancing emosi.
"Selagi aku meminta baik-baik. Ku harap ayah mu bisa menyerahkan diri lalu mengakui semua kejahatan nya." ujar Arzan malah membuat Abrar tertawa lalu di ikuti dengan tawa Clovis alias Mr.Bram.
Arzan tidak terpancing, pria ini masih bisa sabar menghadapi dua iblis yang ada di depan nya ini.
"Lawakan mu cukup bagus Arzan. Seberapa kuat kau hingga kau menyuruh ku untuk mengaku dan menyerahkan diri." ujar Clovis masih dengan tawa mengejek nya.
"Aku serius, aku tidak melawak!" seru Arzan dengan ekspresi datar nya.
"Mana anak yang ku minta?" tanya Clovis,
"Jika kau ingin anak, kenapa kau tidak membuat nya saja bersama istri mu?" ujar Arzan geram.
__ADS_1
Abrar kemudian membisikan sesuatu pada ayah nya yang membuat mata Clovis terbelalak. "Dari mana dia tahu?" tanya Clovis panik.
"Aku yakin jika anak buah kita ada yang berkhianat ayah." ujar Abrar.
"Bajingan, cari...!" perintah Clovis.
"Kenapa tuan Clovis, pasti sekarang anda penasaran dengan informasi yang aku dapat bukan?" tanya Arzan lalu tertawa balik.
"Serahkan saja anak mu brengsek!" seru Clovis dengan suara berat nya.
Arzan yang sudah geram dan sakit hati langsung mengeluarkan senjata nya lalu menembak Clovis hingga membuat pria paruh naya itu lengser jatuh ke tanah.
Anak buah Abrar yang melihat hal tersebut mulai menyerang Arzan namun dengan cepat anak buah Arzan melindungi tuan nya. Abrar juga ikut mengeluarkan senjata api nya, pria itu menembak sembarang mencari Arzan yang tiba-tiba hilang di depan pandangan nya.
"Di mana ayah ku?" tanya Abrar panik ketika melihat sang ayah sudah tidak ada di tanah.
Melihat Arzan yang berdiri di tengah kerumunan, Abrar langsung mengusap darah yang ada di sudut bibir nya.
"Bajingan kecil, kau pikir kau siapa yang bisa menghabisi ku?" ujar Abrar sambil menyeret David yang sudah tidak berdaya.
"Dia bukan tandingan mu, aku tandingan mu!" seru Arzan berhasil memancing emosi Abrar.
"Aku sudah meminta baik-baik, tapi kau sendiri yang mengantar nyawa mu ke sini." ucap Abrar sombong.
"Sombong sekali kau ini, hanya demi merampas yang bukan milik kalian. Kalian tega menghabisi keluarga yang tidak berdosa!" ujar Arzan lalu memukul Abrar yang belum siap.
Arzan dan Abrar saling beradu kekuatan. Untuk beberapa pukulan Arzan kalah dari Abrar karena tenaga laki-laki itu cukup kuat.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, kau bukan tandingan ku!" ujar Abrar sambil menginjak perut Arzan.
Ketika anak buah Arzan ingin menolong tuan mereka, Abrar langsung menodongkan senjata pada Arzan. "Mundur atau aku akan mencincang daging tuan kalian!" ancam Abrar.
Arzan sudah terlihat tidak berdaya, namun pria itu melihat bayangan anak dan istri nya hingga membuat nya kembali bersemangat. Dengan gesit Arzan menarik kaki Abrar, melempar senjata api sejauh mungkin lalu menghajar balik Abrar.
Arzan menduduki tubuh Abrar yang tergeletak di tanah, "Kau tidak pernah merasakan betapa sakit nya melihat keluarga mu di bunuh di depan mata mu. Kau tidak pernah merasakan bagaimana hancur nya ketika seorang ibu yang melahirkan mu di perkosa di depan mata mu. Dan sekarang kalian menginginkan anak ku hanya sebuah harta? aku bukan boneka ayah mu. Orang yang selama ini aku anggap baik, selalu menolong ku. Tapi kenapa kalian tega mempermainkan hidup ku?" ucap Arzan penuh emosi, laki-laki itu terus memukul wajah Abrar hingga babak belur.
"Aku hanya mengikuti perintah ayah ku. Jangan membunuh ku, kita ini masih saudara." ucap Abrar terbata-bata.
"Saudara kau bilang?" ujar Arzan dengan nada tinggi nya. "Saudara macam apa yang tega mengatur kematian seseorang?" tanya Arzan marah. "Ayah mu hanya anak tiri dari kakek ku, kita tidak ada hubungan saudara sama sekali!" ujar Arzan tiba-tiba meminta pistol pada anak buah nya.
"Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku!" mohon Abrar, tanpa perasaan lagi Arzan menembaki Abrar hingga pria itu menghembuskan nafas terakhir nya.
"Paman.........!" teriak salah satu seorang pria yang berada di bawah tawanan anak buah Arzan.
Arzan yang tidak peduli langsung menembak pria itu hingga tewas. Sungguh, Arzan terduduk lemas di samping mayat Abrar. Pria itu menangis, menengadah ke langit dengan air mata nya.
"Beristirahat lah kalian dengan baik mommy, aku sudah membalaskan kematian kalian." lirih Arzan yang hati nya kembali hancur mengingat tragis nya kematian keluarga nya. "Istirahat yang damai Dad, istirahat yang damai adik ku!" ucap Arzan mengusap air mata nya kasar.
Di lain tempat, ternyata saat Arzan dan anak buah nya menuju markas Abrar. Anak buah Clovis datang ke mansion untuk merampas paksa anak Arzan dan Jova. Namun, ketika melihat mansion kosong, mereka langsung merusak tempat itu.
Arzan sebenarnya sudah mengetahui hal tersebut, maka nya pria itu sengaja membawa semua anak buah nya keluar dari mansion. Namun, ternyata sebagian anak buah Arzan putar balik menunggu anak buah Clovis di jalan.
Di sana juga terjadi pertarungan, nyata nya anak buah Clovis tidak bisa mengalahkan anak buah Arzan yang kerjaan nya hanya latihan setiap hari. Hanya tiga puluh lebih mayat yang tergeletak, anak buah Arzan yang sudah terlatih untuk membereskan semua nya.
Kembali ke markas Abrar, pria itu melihat David yang sudah tidak sadarkan diri langsung membawa David pergi. Tidak lupa Arzan membakar sendiri markas milik Abrar.
__ADS_1