Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
106.Memberitahu Arzan


__ADS_3

"Orang itu manusia atau apa, kenapa dia tidak ada melakukan pekerjaan apa pun atau hal apa pun selain berjudi?" Aileen menggaruk kepala nya yang tak gatal.


Sudah hampir satu minggu memasang alat sadap namun nyata nya gadis ini tidak ada mendapatkan informasi apa pun selain pembicaraan masalah hutang beberapa waktu yang lalu.


Pada akhirnya Aileen memutuskan untuk mematikan komputer nya. Gadis yang kelelahan ini memutuskan untuk tidur. Namun, belum ada setengah jam Tidur Aileen sudah di bangun oleh David.


Dengan perasaan sangat malas Aileen beranjak dari tempat tidur nya lalu membuka pintu kamar.


"Ada apa paman?" tanya gadis ini setengah mengantuk.


"Orang yang nona maksud sudah ada di gudang!" ujar David memberitahu Aileen.


Mata Aileen langsung segar, gadis ini bergegas pergi ke gudang. Aileen tidak memiliki rasa takut sama sekali, apa lagi wajah pria tersebut sudah babak belur.


"Apa dia mau bicara?" tanya Aileen.


"Tidak nona, meski pun dia sudah keluar dari pekerjaan nya namun dia cukup setia untuk tidak membuka mulut." jawab David membuat Ai geram.


Aileen kemudian mengeluarkan peluru yang masih dia simpan, pria tersebut sedikit terkejut ketika melihat peluru tersebut.


"Katakan pada ku, siapa pemilik peluru ini?" tanya Aileen namun pria ini tidak mau membuka mulut nya.


"Kau memilih jawab atau ku cabut semua kuku mu?" ancam David namun tetap saja pria itu masih bungkam.


"Paman yang baik hati, selagi aku bertanya baik-baik tolong di jawab ya." ujar Aileen.


"Silahkan nona berbalik badan!" titah David langsung di laksanakan oleh Aileen.


David mencabut lima kuku di jari tangan secara acak, membuat pria tersebut menjerit kesakitan. Aileen tidak bergeming, gadis ini hanya tersenyum sinis.


"Ampun tuan, saya akan bicara." ucap lelaki itu sambil menahan sakit nya.


"Beritahu aku jawaban nya, aku tidak akan mengulangi pertanyaan ku lagi." ujar Aileen sambil berbalik badan.


"Cepat!" bentak David.


"Peluru ini milik gang teratai api, mereka ada kelompok penembak jitu." pria itu mulai membuka suara.

__ADS_1


"Teratai api," ujar Aileen mengulangi, "Apa paman kenal?" tanya Aileen pada David.


"Maaf nona, ini adalah pertama kali nya paman mendengar nama kelompok ini. Kemungkinan ini kelompok baru." ujar David.


"Benar, ini adalah kelompok baru. Belum ada sepuluh tahun, aku adalah mantan dari anggota teratai api." pria itu kembali membuka suara, "Kenapa kalian sangat ingin tahu tentang ini semua?" tanya pria itu memberanikan diri.


"Sekitar sembilan tahun yang lalu dan beberapa waktu yang lalu, siapa yang sudah berani menembak tuan ku?" tanya David mulai geram.


"Aku tidak tahu," jawab pria itu langsung mendapatkan satu pukulan di wajah nya.


"Di mana markas kalian?" tanya David dengan nada tinggi nya.


"Di jalan xxxxx, tapi ku mohon jangan libatkan aku dalam masalah ini. Orang-orang yang menerima pekerjaan menembak seperti ini adalah mereka yang sudah terlatih." ujar pria tersebut.


"Kurung dia, kita lanjutkan besok saja!" pernah Aileen yang sudah benar-benar lelah.


Gadis ini kembali ke kamar nya, gadis ini sedikit bisa bernafas lega karena dari pria tersebut dia bisa mendapatkan informasi meskipun tidak banyak.


"Kejadian sembilan tahun yang lalu, aku mungkin tidak akan bisa menemukan siapa penembak nya.Tapi, aku sangat berharap bisa menemukan siapa dalang dari penembak mommy." ujar gadis itu lalu memejamkan mata nya.


Tanpa perintah dari Aileen, David turun tangan sendiri untuk mencari informasi tentang teratai api. Tidak banyak informasi yang di dapat David, karena kelompok ini sangat pintar dalam bermain.


Malam semakin larut, empat orang kepercayaan Aileen terus mencecar pria tersebut dengan berbagai pertanyaan. Jika pria tersebut menolak untuk menjawab, sudah tentu dia akan merasakan sakit nya sebuah pukulan.


Malam telah berganti pagi, David cukup bingung untuk hari ini. Di satu sisi pria ini ingin memberitahu Arzan namun di satu sisi David tidak ingin mengecewakan Aileen yang sudah memberi nya kepercayaan.


Aileen mulai masuk sekolah, sudah pasti gadis ini di kawal oleh banyak orang yang sudah di atur oleh Arzan. Ada yang menjadi guru bahkan petugas kebersihan di sekolah Aileen.


Setelah mengantar Aileen ke sekolah, David yang sudah mantap dengan keputusan pada akhirnya pergi ke rumah sakit. Arzan sedikit bingung, karena tidak pernah David meminta bicara berdua seperti ini.


"Jangan macam-macam kau, meski istri ku sakit aku bukan laki-laki mata keranjang." ujar Arzan merasa curiga dengan David yang meminta nya bicara empat mata.


"Aduh tuan, maksud saya bukan itu." kata David gugup.


"jadi apa?" tanya Arzan.


"Anu tuan, ada hal yang harus saya sampaikan. Tapi tuan janji jangan marah jika saya memberitahu ini semua."

__ADS_1


"Cepat katakan, jangan bertele-tele."


"Tapi tuan janji jangan marah sama nona Ailee." David terus mendesak Arzan untuk berjanji.


"Em, aku berjanji. Cepat katakan!" perintah Arzan lalu David memberitahu semua rahasia nya bersama dengan Aileen.


Sudah tentu hal ini membuat Arzan terkejut, selama bertahun-tahun dia mencari tahu tentang siapa penembak istri nya namun malah anak nya yang menemukan nya.


"Di mana orang itu?" tanya Arzan dengan wajah dingin nya.


"Ada di gudang tuan," jawab David, "Tuan, biarkan nona ikut terlibat dalam masalah ini.Nona Aileen hanya ingin membalas perbuatan mereka." ujar David dengan berani nya.


"Kau mau menempatkan anak ku dalam bahaya?" tanya Arzan marah, "Aileen itu hanya seorang anak perempuan, bisa apa dia?"


"Jangan marah tuan dan jangan meremehkan kepintaran nona Ai. Nyata nya, jika bukan nona Ai kita tidak bisa menemukan informasi ini." ujar David membuat Arzan terdiam sejenak.


"Seharusnya sejak saat Jova di operasi, kita memeriksa kembali peluru tersebut." ucap Arzan menyesal, "Jaga istri ku di luar, aku akan pulang sebentar!" titah Arzan bergegas pergi.


Arzan pulang ke mansion, namun pria ini hanya masuk ke dalam gudang yang di maksud oleh David. Arzan dapat melihat dengan jelas pria yang di maksud David.


"Apa dia masih hidup?" tanya Arzan.


"Masih hidup tuan!" jawab salah satu anak buah Arzan.


Dengan kasar Arzan menendang pria tersebut hingga bangun, kemudian Arzan mencekik leher pria tersebut.


"Katakan pada ku, siapa bos mu?" tanya Arzan geram.


Pria tersebut sudah lemah, untuk membuka mata saja rasa nya sudah tidak bisa.


"Sembilan tahun yang lalu, siapa yang sudah menembak istri ku di restoran cepat saji?" tanya Arzan langsung pada inti nya.


"B-bukan saya tuan, mungkin penembak yang lain." ucap pria tersebut dengan suara terbata-bata nya.


"Kau adalah orang pertama yang akan ku habisi jika kau berani berbohong pada ku!" kata Arzan kemudian pergi begitu saja.


Arzan melajukan mobil nya menuju alamat yang di beritahu David tadi pagi. Pria ini hanya melihat bangunan dua lantai yang sedikit kumuh tak terurus. Namun Arzan dapat melihat dengan jelas jika di tempat itu lumayan ramai.

__ADS_1


"Kenapa aku baru tahu ada pekerja seperti mereka?" Arzan bergeleng kepala bingung memikirkan nya,"Mereka hanya pesuruh, aku yakin jika ada dalang dari penembak Jova dan Aileen." lirih Arzan begitu yakin.


Arzan menghubungi Aarav, mereka janjian untuk bertemu karena masalah ini harus secepatnya selesai. Rasa nya Arzan ingin masuk, menyerang orang-orang yang sudah membuat istrinya koma selama bertahun-tahun.


__ADS_2