Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
121.Terimakasih


__ADS_3

Masih menunggu Jova melakukan terapi, Aileen yang sedikit bosan hanya menghabiskan waktu untuk bermain game. Hari ini Aarav dan Aira tidak pergi ke mansion karena mereka berdua harus menghandle banyak pekerjaan.


"Dad, apa kabar dengan orang-orang yang daddy tangkap beberapa waktu yang lalu?" tanya Aileen yang baru ingat.


"Sudah bersih, tidak ada lagi orang-orang yang akan merusak keluarga kita sekarang." ujar Arzan.


"Sebenarnya, paman Melvin lah yang membantu Ai dari kejauhan." ucap Aileen berterus terang.


"Apa kau sedang bercanda Ai?" tanya Arzan menekan pada anak nya.


"Ai serius dad, Ai meminta pada paman Melvin untuk mencaritahu mereka. Pada awal nya paman Melvin menolak karena dia tidak ingin terlibat dengan dunia hitam lagi. Tapi, pada akhirnya paman mau membantu Ai." jelas Aileen.


"Masalah ini, jangan sampai mommy mu tahu. Bukan hanya daddy, kau dan yang lain nya pasti akan terkena sasaran amukan mommy mu." Arzan memperingati anak nya.


"Daddy ini takut sekali pada mommy!" ejek Aileen sambil terkekeh.

__ADS_1


Aileen tidak ingin mendengar umpatan daddy nya, gadis ini memilih untuk menghampiri mommy nya yang sudah selesai. Arzan juga mengikuti anak nya menghampiri sang istri.


"Bagaimana, apa ada kemajuan?" tanya Arzan.


"Tentu saja ada tuan, nyonya sudah bisa memegang benda dengan waktu yang cukup. Semakin rajin kita melakukan terapi, semakin tinggi harapan nyonya untuk bisa cepat berjalan lagi." terang Dokter.


"Lakukan saja yang terbaik, jika tidak nyawa mu menjadi taruhan nya!" ancam Arzan membuat Dokter dan perawat tersebut menelan ludah.


"Baik tuan, kami akan melakukan yang terbaik."


"Jika bukan ketulusan daddy, mana mungkin aku bisa melihat mommy sampai sekarang." batin Aileen yang merasa bangga pada Arzan.


Hari ke hari telah berlalu, kehidupan keluarga kecil Arzan sangat bahagia. Sampai sekarang Arzan belum pergi bekerja karena masih fokus merawat istri nya.


Arzan dan Aarav pergi ke ruang kerja, sedangkan Jova ada di ruang keluarga bersama Aileen dan Aira juga Aksa.

__ADS_1


"Terimakasih, terimakasih karena sampai sekarang kau sudah sangat baik pada ku." ucap Arzan pada Aarav.


"Santai saja, sampai kapan pun aku akan selalu ada di samping mu jika kau butuh bantuan. Kau sudah banyak mengubah hidup ku," kata Aarav dengan tulus. "Aku sudah mendata kelompok lama atau pun baru dalam dunia kita. Jadi, untuk ke depan nya aku rasa tidak akan ada lagi yang berani mengganggu keluarga kita."


"Aku salut dengan cara kerja mu. Tapi, ada satu yang sangat aku khawatirkan saat ini." ujar Arzan langsung menunjukkan wajah bingung nya.


"Apa yang kau khawatirkan, Jova?" tanya Aarav penasaran.


"Aku hanya takut jika Aileen mengikuti jejak ku. Jelas terlihat jika Aileen sama sekali tidak takut dengan senjata, musuh dan mayat." Arzan mengutarakan kekhawatiran nya yang sudah menghantui nya beberapa waktu belakangan.


"Banyak sedikit nya, yang nama nya anak pasti meniru sikap dan sifat orang tua nya. Tapi, aku yakin jika Aileen bisa menempatkan diri nya dengan bijak. Kau tidak usah khawatir!"


"Dia seorang anak perempuan, tentu saja aku khawatir."


"Biar kan dia menjadi diri nya sendiri, kau harus ingat, tiga tahun lagi Aileen akan memegang apa yang sudah di wariskan oleh kakek mu. Kau harus siap akan hal itu, terutama melatih Aileen agar menjadi seorang yang kuat dan tangguh."

__ADS_1


Arzan terdiam, ada benar nya juga apa yang di katakan Aarav barusan. Jika Aileen sudah menerima apa yang di wariskan, itu tanda nya akan ada tantangan baru dalam hidup anak nya.


__ADS_2