
Semalaman Aira menghilang dan tidak bisa di hubungi. Hingga membuat Aarav cemas memikirkan wanita itu. Lelaki itu sibuk bolak balik di depan pintu untuk menunggu Aira pulang.
Arzan yang hendak pergi dapur karena istri nya kelaparan di tengah malam langsung membelokan langkah nya menghampiri Aarav.
"Ada apa dengan mu, kenapa kau di sini?" tanya Arzan.
"Aku menunggu Aira pulang, sejak sore dia pergi. Ponsel nya mati, aku khawatir pada nya." jawab Aarav membuat Arzan terdiam. Ekspresi wajah Aarav yang seperti ini hanya pernah di lihat Arzan ketika Aarav mengkhawatirkan diri nya dan sekarang juga mengkhawatirkan Aira padahal sebelum nya Aarav sangat dingin pada seorang perempuan.
"Memang nya dia tidak bilang mau pergi kemana?" tanya Arzan ikut bingung.
"Tidak, aku yakin sekarang Aira pasti sedang mencari informasi yang tentang paman mu itu." ujar Aarav.
"Sebegitu yakin nya kau pada Aira!" seru Arzan.
__ADS_1
"Aku yakin, karena Aira baru tahu jika Abrar adalah anak Clovis. Aira pernah bekerja di rumah Abrar, aku yakin jika Aira sedang menyusup masuk ke sana."
"Em, yang dia dan kita tahu Abrar adalah tangan kanan Mr.Bram. Ternyata dia sendiri adalah anak nya." ujar Arzan menghela nafas panjang.
Di suatu tempat, di tengah malam buta di saat orang-orang sedang beristirahat. Aira yang di bantu teman nya seorang pelayan itu berusaha menyusup masuk menghindari cctv. Aira sudah hafal betul seluk beluk rumah ini karena dia sendiri pernah bekerja di sini.
"Masuklah, aku akan terus memantau keadaan." ucap pelayan itu berbisik. Menyuruh Aira masuk ke dalam lift kecil pembuangan sampah menuju ruangan kerja milik Abrar.
"Terimakasih Ghali, jika semua masalah sudah beres. Aku akan segera membebaskan mu dan mengajak mu bertemu keluarga mu." ucap Aira lalu masuk ke dalam lift tersebut.
"Sekarang sudah aman, aku akan mencari latarbelakang keluarga mereka dan juga bisnis-bisnis yang mereka punya selama ini." batin Aira mulai sibuk mencari.
Di sini Aira dapat melihat dengan jelas jika Clovis memiliki seseorang istri dan dua orang anak, salah satu nya Abrar namun Aira tidak pernah melihat saudara perempuan Abrar.
__ADS_1
Tidak begitu penting, Aira melanjutkan pencarian nya. Membuka satu persatu berkas yang sangat banyak itu hingga membuat kepala nya pusing apa lagi Aira belum makan sejak siang.
Hingga pada akhirnya Aira menemukan sebuah map yang berisi sebuah wasiat yang seperti nya sudah di fotocopy. Aira kemudian membaca nya, mata wanita itu terbelalak. Buru-buru Aira memasukan selembar kertas tersebut kedalam kantong jaket kulit bagian dalam.
Aira kemudian menghubungi Ghali jika diri nya sudah selesai. Aira masuk ke dalam lift sampah lagi, sudah tentu Lift tersebut langsung terhubung pada pembuangan sampah yang berada di lantai satu dekat dapur.
"Apa ada yang bangun?" tanya Aira pelan.
"Ada beberapa yang berjaga, sebaiknya kau keluar lewat pagar belakang dapur." ujar Ghali yang sebenarnya juga merasa ketakutan. "Aku sudah menyiapkan tangga, cepatlah!"
Buru-buru Aira keluar dari dapur lewat pintu khusus untuk membuang sampah. Wanita itu pada akhirnya berhasil kabur dengan membawa selembar bukti. Ghali juga buru-buru membuang tangga tersebut lalu kembali ke dapur dengan alasan memasak.
"Apa yang kau buat di tengah malam begini?" tegur seseorang mengejutkan Ghali.
__ADS_1
"Aku lapar, hanya memasak mi instan!" ujar Ghali sambil menunjukkan air yang mendidih di atas kompor.
Penjaga tersebut kembali berkeliling. di rumah ini setiap penjaga akan berkeliling setiap satu jam sekali. Ghali langsung membuang nafas kasar, mengusap keringat nya yang sudah berjatuhan sejak tadi.