
Arzan kembali ke mobil, mendapati istri nya dengan yang sudah pucat. Arzan memeluk Jova, memberi ketenangan Pada istri nya. "Sekarang kita pulang ya...!" ujar Arzan hanya di tanggapi dengan anggukan.
Sepanjang perjalanan pulang, Jova hanya diam dengan meremas ke dua tangan nya. Sejak mengenal Arzan, sering sekali gadis itu mendengar suara tembakan. Rasa nya, Jova mulai penasaran dengan sisi kehidupan suami nya yang lain. Gadis itu terlelap, cukup melelahkan dengan kejadian hari ini.
Arzan menggendong istri nya, menuju kamar pribadi milik nya sendiri. Merebahkan Jova dengan hati-hati agar gadis itu tidak bangun. Ketika Arzan hendak pergi, tangan nya di tarik oleh Jova. "Mau kemana?" tanya nya lirih.
"Aku tidak kemana-mana." kata Arzan sambil mengusap kening istri nya. Ke dua alis Arzan berkerut, tubuh gadis itu panas membuat pria ini khawatir. "Bee,...kau sakit. Tubuh mu sangat panas...!" ujar Arzan kemudian bergegas memanggil anak buah nya yang notabene nya bekerja sebagai Dokter pribadi di Mansion Arzan.
Dokter tersebut mulai memeriksa kondisi Jova. "Bagaimana,...?" tanya Arzan satu kata.
"Kelelahan menjadi pemicu utama nya. Di kompres juga akan turun. Jangan lupa berikan obat ketika dia sudah bangun." ujar Dokter yang berusia kurang lebih empat puluh tahun itu.
"Baiklah, aku mengerti." ujar Arzan.
Dokter tersebut keluar dari kamar Arzan, pria itu kemudian mengompres kening istri nya. Arzan merasa bersalah sekarang, Jova pasti syok dengan suara tembakan tadi. Arzan menarik nafas dalam, menggenggam tangan yang berukuran lebih kecil itu.
Kepala pelayan mengetuk pintu, memberitahu jika ada Aarav. Arzan keluar, meninggalkan Jova yang masih terlelap tidur. Ke dua pria itu pergi ke ruang kerja.
"Ada apa?" tanya Aarav.
"Alex sudah berani mengirim anak buah nya. Istri ku sakit gegara kejadian tadi pagi." kata Arzan memberitahu.
"Seharusnya kau jujur pada Jova tentang kegiatan mu selain mengurus perusahaan. Aku hanya takut jika suatu saat kau dan dia akan berselisih paham nanti nya." Aarav menasehati.
"Aku belum siap...! hubungan dengan Jova baru saja membaik. Kami baru sudah sepakat untuk menjalankan pernikahan ini." kata Arzan mulai merasa khawatir.
"Siap tidak siap, kau harus secepatnya memberitahu istri mu. Pekerjaan kita ini sangat berbahaya, aku tidak ingin Jova membenci mu nanti." tutur Aarav membuat Arzan terdiam.
"Akan ku pikirkan nanti....!" seru Arzan bingung.
__ADS_1
Di lain tempat, Alex terus mengobrak abrik ruangan nya. Pria itu marah, ketika sepuluh anak buah nya kalah melawan satu orang yang bernama Arzan. "Kau bilang Arzan sedang membawa seorang perempuan. Apa kah perempuan yang sama?" tanya Alex pada Doris.
"Ya,...menurut anak buah kita. Dia perempuan yang selalu di antar Arzan ketika kuliah." ujar Doris.
"Culik perempuan itu....!" perintah Alex dengan sorot mata tajam.
Doris melirik ke jejeran anak buah yang berbaris rapi. Rasa nya Doris lebih memilih berkelahi dengan seratus musuh dari pada harus mengganggu wanita milik Arzan.
Menjelang sore, Jova mulai membuka mata. Panas di tubuhnya sudah berangsur turun. Arzan dengan setia menunggu istri nya bangun. "Kau sudah bangun? apa yang sakit?" tanya Arzan.
"Apa aku terlalu lama tidur nya bee?" tanya gadis itu.
Arzan menyelipkan anak rambut istri nya, tersenyum hangat lalu berkata. "Selama apa pun itu, aku akan tetap menunggu mu."
Jova tersenyum lalu memandang ke sekeliling nya. "Aku tidur di kamar mu?" tanya Jova bingung.
"Terimakasih bee,...kau telah memberi ku tempat ternyaman seperti ini." ucap Jova.
"Tidak perlu berterimakasih. Sebaiknya kau makan bubur ini dulu setelah itu minum obat." kata Arzan lalu pria itu menyuapi istri nya makan. Untuk ke dua kali nya Jova di suapi oleh suami nya hingga membuat gadis itu merasa malu.
Sore telah berganti malam, rasa canggung kembali terasa di atas tempat tidur. Meski mereka sudah sering tidur bersama, namun malam ini rasa nya lebih canggung. "Istirahat lah,...besok kan harus kuliah." kata Arzan mencairkan suasana.
"A-ah....hehe...iya....!" ucap Jova gugup.
Arzan kemudian menarik istri nya ke dalam pelukan, mereka tidur bersama tanpa melakukan apa-apa. Gadis ini masih polos, belum mengerti urusan ranjang.
Rasa nya beda sekali, bangun pagi ini sangat spesial. Bagaimana tidak, sepasang anak manusia itu saling memandang malu-malu ketika mereka saling memandang satu sama lain.
"Aku akan kembali ke kamar ku." ujar Jova gugup.
__ADS_1
"Mau ngapain bee? ini kan kamar kita!" tanya Arzan dengan suara manja nya.
"Aku harus mandi. hari ini ada kuliah pagi...!" seru gadis itu.
"Jangan pergiii....!" kata Arzan lalu memeluk erat tubuh istri nya.
"Bee,...sudah siang. Ayo bangun, nanti aku terlambat." ujar gadis itu membujuk suami nya. Pada akhirnya Arzan luluh juga. Mau tidak mau Arzan membiarkan istri nya kembali ke kamar. "Tidak bisa di biarkan, akan ku pindahkan semua isi kamar nya ke kamar ku." ucap Arzan tegas.
Mereka sarapan bersama, setelah itu berangkat bersama juga. Sepanjang perjalanan Jova kembali memikirkan orang yang telah menghadang mereka kemarin. "Bee,...orang-orang yang kemarin itu siapa bee?" tanya Jova membuka suara.
"Yang mana....?" pria itu seolah lupa.
"Yang menghadang kita kemarin." jelas Jova.
Arzan mulai bingung ingin menjawab apa, "Itu hanya rampok. Tapi, kau tidak usah khawatir bee...mereka tidak akan bisa menyakiti kita." bohong Arzan di percaya begitu saja oleh istri nya.
Mobil berhenti tepat di depan kampus, Jova langsung keluar begitu juga dengan Arzan yang langsung putar balik. Dari kejauhan Mika menatap iri pada Jova yang turun dari mobil mewah dan bermerek itu.
Melvin yang melihat ke datangan Jova, langsung menghampiri gadis itu. "Apa kau baik-baik saja Jova?" tanya Melvin. "Kenapa kau pulang saat itu?"
"Aku baik-baik saja. Kau ini kenapa?" tanya balik Jova.
"Aku juga ikut pulang, aku khawatir pada mu. Tapi aku tidak tahu alamat rumah mu." kata Melvin namun Jova terlihat acuh.
Tak berapa lama Viana teman satu kampus namun berbeda jurusan juga ikut bergabung dengan Jova. "aku dengar kau pulang saat acara camping. Kenapa?" tanya Viana pada Jova. "Heii...kau juga kata nya ikut pulang. Kenapa? PMS?" tanya Viana pada Melvin.
"Tidak kenapa-kenapa Vin, aku trauma dengan gelap di hutan." jawab Jova jujur membuat Melvin manggut-manggut.
Meski pun Jova sangat malas dengan kehadiran Melvin yang selalu mengikuti nya, namun gadis itu juga sudah bosan memperingati Melvin untuk menjauhi nya.
__ADS_1