
"Lihat ini, ibu mu sudah mati...!" ucap pria itu memberitahu Mika sambil menunjukkan gambar yang di kirim David.
"Ibu.....!" lirih Mika yang sudah tak berdaya.
"Bagaimana, apa sakit kehilangan seorang ibu?" tanya Pria itu, "Ku dengar ibu mu sengaja meracuni ibu seseorang sampai mati hanya untuk merebut ayah nya. Apa itu benar?"
Mika hanya menangis, wanita ini tiba-tiba ingat bagaimana Jova menangisi kematian ibu nya. Terlebih lagi ketika ayah nya tidak mau mengurus dan merawat Jova dulu.
"Rasa sakit yang kau rasakan sekarang tidak sebanding dengan rasa sakit orang lain yang sudah kau sakiti." ucap pria itu membuat Mika sadar bagaimana sakit nya Jova dulu. Ibu nya merebut segala nya dari Jova, bahkan mereka terus mengganggu Jova hingga membuat Jova koma selama beberapa tahun.
"Habisi perempuan ini, biarkan dia menyusul ibu nya!" perintah pria tersebut.
"Jangan sekarang bos, biarkan kami menikmati tubuh nya." protes salah seorang anak buah nya.
"Satu minggu!" ucap pria tersebut kemudian pergi.
Di rumah sakit, dengan segala pemeriksaan yang ketat, Jova pada akhirnya di izinkan rawat jalan di rumah. Kepala pelayan di mansion sibuk mengarahkan bawahan nya untuk menyambut kedatangan nyonya meraka yang sangat dia rindukan.
Arzan menggendong istri nya mendudukkan nya di kursi roda. Dengan segala pengawalan yang ketat, mereka akhirnya pulang menuju mansion. Arzan khawatir jika istri nya lelah karena terlalu lama duduk, namun nyata nya Jova adalah wanita kuat.
"Apa kau bersekolah?" tanya Jova pada anak nya. Wanita ini sudah lancar bicara meski agak sedikit pelan.
"Ai bersekolah mom, tapi Ai lebih senang menggunakan guru private." jawab gadis itu.
"Kenapa, apa daddy mu tidak mengurus mu?" tanya Jova membuat Arzan menelan ludah nya kasar.
Aarav yang berada di balik kemudi hanya bisa menahan tawa nya begitu juga dengan Aira yang duduk di kursi paling belakang.
__ADS_1
"Mati lah kau...!" ucap Aarav pelan.
Sebelum menjawab, Aileen melirik ke arah daddy nya, mana mungkin gadis ini berkata jujur perihal sikap Arzan dulu.
"Tidak mom, daddy sangat baik. Tapi Ai lebih senang ikut latihan bersama paman-paman dari pada belajar tentang materi." ujar Aileen.
Setia nya di mansion, semua anak buah sudah berjejer rapi menyambut kepulangan Jova. Jova merasa terharu, wanita ini masih ingat dengan beberapa orang termasuk David.
"Oh, kau David ya." ujar Jova yang sudah duduk di kursi roda.
"Iya nyonya, Selamat datang kembali." kata David.
"Paman David yang selama ini menemani ku mom, dia sangat hebat!" puji Aileen membuat David merasa haru dan bangga.
"Terimakasih sudah menjaga anak ku David." ucap Jova, "Bee, beri dia hadiah!"
"Terimakasih tuan dan nyonya." ucap David.
"Kepala pelayan," Jova tersenyum.
"Iya saya nyonya," ujar kepala pelayan terharu.
"Kau nampak awet muda. Jika ayah ku masih hidup pasti dia seumuran dengan mu." kata Jova membuat Arzan langsung menarik nafas dalam-dalam.
"Em Jova, mereka sudah menyiapkan makanan enak. Kau pasti lapar." ujar Aira mengalihkan pembicaraan.
"Iya mom, kepala koki kita pandai memasak." timpal Aileen.
__ADS_1
"Ayo masuk, bee!" ajak Arzan lalu mendorong kursi roda istri nya.
Tidak lupa juga Arzan menempatkan satu orang Dokter dan satu orang perawat yang khusus untuk merawat istri nya selama masa pemulihan.
"Aku tidak ingin pergi ke kamar, aku hanya ingin berbaur bersama mereka." ujar Jova.
"Tapi kau butuh istirahat bee." protes Arzan.
"Aku juga merindukan mereka." tegas Jova.
Mau tidak mau Arzan menuruti kemauan istri nya, mereka makan bersama-sama dengan para anak buah. Dari dulu Jova memang suka berbaur dengan anak buah suami nya.
Jova terus tersenyum, apa lagi mendengar canda dan tawa dari orang-orang yang sudah setia bekerja dengan suami nya. Arzan bahagia, istri nya tidak berubah. Arzan menyuapi istri makan, meskipun Jova makan nya masih agak lama.
Jova juga tertawa ketika melihat Aileen bercanda dengan Aksa. Namun wanita merasa sedih juga.
"Kau kenapa bee?" tanya Arzan bingung.
"Jika aku tidak sakit, pasti aku akan melahirkan anak laki-laki untuk mu. Adik Aileen." lirih wanita itu.
"Jova, kau jangan sedih. Siapa tahu setelah kau sembuh nanti kau masih bisa hamil." Aira memberi semangat pada Jova.
"Oh Aunty, paman Arzan ini suka sekali memarahi kakak Ai." ucap Aksa dengan polos nya. Seketika wajah Arzan langsung tegang, Aira dan Aarav berusaha menyuruh anak nya untuk diam.
"Jangan dengarkan bocah ini mom, dia suka mengerjai orang lain." ujar Aileen.
Jova hanya tersenyum, melihat temperamen suami nya Jova tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, belum saat nya Jova bicara panjang lebar. Jova memang koma, namun wanita ini bisa mendengar setiap kali orang berbicara.
__ADS_1