
Arzan membiarkan luka tembak di paha Clovis alias Mr.Bram mengaga dengan timah panas yang masih bersarang di dalam sana. Bagi Arzan, panas dan sakit nya yang di alami Clovis tidak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasa kan sepanjang hidup nya.
"Apa kau haus?" tanya Arzan lalu sengaja minum di depan Clovis.
"Beri aku air!" mohon Clovis malah membuat Arzan tertawa.
Arzan menaikan bibir nya, lalu bertanya. "Kau menyetir semua orang dengan kekuatan uang. Aku yakin itu juga uang milik kakek ku, iya kan?"
"Beri aku air." bukan nya menjawab Clovis yang sudah kehausan sejak siang mulai merasakan dehidrasi.
Arzan yang geram langsung menendang dan menginjak tubuh Clovis. "Iblis seperti mu seharunya sudah mati sejak lama. Bajingan seperti mu tidak pantas untuk hidup!" ucap Arzan masih dengan membabi buta memukul dan menginjak Clovis. Tak ada yang berani menghalangi Arzan, semua anak buah nya hanya memandang tak berani berkomentar.
Aaaaaa......teriak Clovis mengeluarkan semua suara nya ketika Arzan mencabut satu persatu kuku Clovis. Arzan sangat suka mencabut kuku, apa lagi membuat orang cacat.
"Bajingan kau Arzan!" ucap Clovis sambil berguling-guling menahan rasa sakit. "Bajingan kau,....!"
"Aku memang bajingan,...!" seru Arzan sambil tertawa lalu pria itu memotong telinga Clovis dengan pisau belati milik nya. "Meskipun daun telinga mu sudah hilang satu, tapi kau masih bisa mendengar." ujar Arzan lalu mencengkram leher Clovis yang sudah tak berdaya itu. "Kau dengan kan aku baik-baik. Aku tidak akan pernah menyerahkan mu ke polisi, aku akan membuat mu tersiksa sepanjang hidup mu. asal kau tahu saja, anak kesayangan mu sudah mati ku bunuh!" ucap Arzan memberitahu Clovis. Pria paruh baya itu histeris, ingin memukul Arzan namun tenaga nya sudah tidak ada.
"Brengsek kau. Bajingan kau!" umpat Clovis pelan.
"Bagaimana, bagaimana rasa nya kehilangan orang kau sayang?" tanya Arzan lalu duduk kembali di kursi nya. "Lagian, kau tidak usah khawatir. Aku sudah mengirim mayat anak mu pada istri mu. Aku yakin jika sekarang istri mu juga sudah menyusul anak mu ke neraka!" ujar Arzan lalu tertawa di ikuti anak buah nya.
__ADS_1
Arzan kemudian mengambil daun telinga Clovis yang sudah terputus itu. Arzan lalu melemparkan nya tepat di depan wajah Clovis kemudian pergi.
"Beri dia makan dan minum dua hari sekali...!" perintah Arzan sebelum pergi.
Arzan kemudian menuju mansion yang sudah berantakan. Pria ini langsung mengerutkan kening nya pusing. "Bersihkan dan rapikan semua ini sebelum aku dan istri ku pulang." perintah Arzan lalu memilih pergi untuk menyusul istri nya di tengah hutan.
Arzan tiba di sana sudah malam, pria itu langsung mandi lalu mengisi perut sebentar. Rasa nya sudah tidak sabar lagi untuk memeluk anak kesayangan nya.
"Melihat dari cara makan mu, seperti kau terlihat senang!" ujar Aarav.
"Mantan bos mu sudah mati." kata Arzan memberitahu Aira.
"Em, Mr.Bram yang kau sebut juga ada di gudang mansion. Aku akan membuat hidup nya menderita." ujar Arzan geram.
"Kenapa kau tidak menyerahkan pada pihak kepolisian bee?" tanya Jova.
"Menyerah nya sama saja aku harus membuka kasus lama. Aku lebih senang melihat dia menderita sepanjang hidup nya." jawab Arzan dengan sorot mata tajam. "Aku ingin istirahat, aku rindu anak ku." ujar Arzan lalu masuk ke dalam kamar.
Ketika suami nya sudah masuk ke dalam kamar, Jova langsung berkata pada Aarav dengan suara berbisik. "Terkadang aku sedikit takut sama Arzan."
Aarav terkekeh, "Dia jauh lebih takut dengan mu, lalu kenapa kau harus takut lada nya?" tanya Aarav.
__ADS_1
"Kau ini, sama saja!" seru Jova kesal lalu menyusul suami nya ke kamar.
Jova tersenyum ketika melihat Arzan yang terus mengganggu tidur anak nya, pria itu mencium dan memeluk anak nya. Bau bayi sangat khas, membuat Arzan rindu.
"Dia suka sekali tidur, apa dia tidak tahu jika Daddy nya rindu?" ujar Arzan lalu mencium pipi anak nya.
"Sekarang kau lebih suka mencium pipi anak mu. Mencium ku saja sudah tidak pernah!" gerutu Jova merasa cemburu pada anak nya.
"Haiiis kau ini, gitu aja cemburu. Kau tidak memikirkan nasib ku ini." ujar Arzan.
"Nasib apa?" tanya Jova bingung.
"Nasib adik ku yang di bawah ini, sampai berapa lama lagi dia akan tertidur?" keluh Arzan lalu meletakan anak nya dan memilih mengendus-endus istri nya.
"Eh, jangan seperti ini. Nanti kalau bangun susah!" ucap Jova pelan takut terdengar Aira dan Aarav yang berada di luar. Secara rumah ini hanya terbuat dari kayu.
"Bee,....!" rengek Arzan mulai manja.
"Tidur sana," ujar Jova memilih menjauh dari suami nya.
Sebenarnya Arzan sedang ingin, sudah berapa lama dia tidak merasakan kehangatan tempat tidur namun apa daya istri nya masih berada di fase setelah melahirkan tidak boleh melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1