Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
113.Tolong Aku


__ADS_3

"Keluarkan aku, brengsek kalian. Keluar kan aku!"


Teriak Mika dari balik jeruji besi yang berada di dalam markas Arzan. Anak dan ibu tertangkap oleh anak buah Arzan ketika mereka hendak kabur. Sedangkan Miranda yang masih hidup harus merasakan sakit nya sebuah peluru yang bersarang di bahu nya.


"Tolong aku,....!" rintih Miranda.


"Jangan kan untuk menolong mu, untuk menolong diri kami sendiri saja tidak bisa!" ucap Rose dengan kasar.


"Dasar tidak tahu diri." sahut Miranda, "Aku sudah menolong kalian dulu, di mana letak balas budi kalian?" tanya Miranda yang geram.


"Itu kan dulu, beda dengan sekarang!" seru Mika.


Miranda hanya bisa menahan rasa sakit di bahu nya. Bertahun-tahun dia sudah merencanakan balas dendam untuk kematian anak semata wayang nya namun semua nya sudah kacau.


Di rumah sakit, Aileen duduk di antara ke dua orang tua nya. Gadis ini memandang bergantian daddy dan mommy nya. Aira tidak bisa berbuat banyak, wanita ini hanya bisa menguatkan gadis yang dia asuh sejak kecil ini.


Perlahan Arzan mulai membuka mata nya, buru-buru Aileen menghampiri daddy nya. Seketika Aarav langsung membuang nafas lega.

__ADS_1


Aileen memberi minum pada daddy nya. Arzan kemudian duduk, meski pinggang bagian belakang nya masih terasa sakit.


"Kenapa daddy lama sekali sadar nya?" tanya Aileen sedih.


"Kenapa lingkar mata mu sangat hitam, apa kau tidak tidur semalam?" tanya Arzan balik tanpa menjawab pertanyaan anak nya.


"Bagaimana aku bisa tidur sedangkan kalian sama-sama-sama tidak sadarkan diri?" ujar Aileen lesu.


"Istirahat lah, kau pasti lelah!" ucap Arzan sambil mengusap wajah anak nya.


"Iya Ai, istirahat lah, kau terlihat sangat lelah!" timpal Aira.


Aileen merebahkan diri di samping Jova, gadis ini terus memandang wajah mommy nya dari samping.


"Cepatlah bangun mommy, Ai rindu dengan mommy." ucap gadis ini lalu memejamkan mata. Aileen yang memang sudah sangat lelah dan mengantuk langsung terlelap begitu saja.


"Di mana ular berkepala tiga itu?" tanya Arzan pada Aarav.

__ADS_1


"Mereka sudah ku kurung!" jawab Aarav.


"Aku tidak sabar untuk mencongkel bola mata mereka." ujar Arzan geram.


"Kau ini, jika di dengar Aileen bagaimana?" tegur Aira.


Arzan dan Aarav langsung menoleh ke arah Aileen yang sudah lelap dengan tidur nya, "Aileen masih empat belas tahun. Tapi kenapa dia sangat pandai menembak musuh?" ujar Arzan merasa jika dia tidak ingin anak nya memiliki hobby yang sama seperti diri nya.


"Laki-laki itu, aku yang menembak nya sampai mati. Aileen meminta nya!" sahut Aarav membuat Arzan terkejut.


"Kau mendidik anak ku begitu keras. Lihat dia, tidak ada feminim nya sama sekali." protes Arzan pada Aira.


"Dasar manusia tidak tahu terimakasih!" ucap Aira kesal, "Kau sendiri kemana, kenapa kau tidak mengurus dan memperhatikan anak mu?" tanya Aira semakin kesal, "Kau hanya sibuk membenci dan menyalahkan nya saja!" timpal Aira membuat Arzan terdiam.


"Lebih baik kau pulang, Aksa butuh diri mu sayang." ujar Aarav mencairkan suasana karena Aarav melihat ekspresi wajah Arzan tiba-tiba berubah ketika mendengar ucapan istri nya.


"Ya, lebih baik aku pulang. Lama-lama disini membuat ku ingin menghantam kepala Arzan!" ujar Aira kemudian pergi.

__ADS_1


Aarav hanya terkekeh, pria ini tahu betul jika istri nya ini sedikit tidak suka dengan sikap Arzan pada Aileen selama ini. Arzan terlihat sudah sehat , hanya saja pria ini harus istirahat beberapa hari agar luka nya. cepat sembuh.


__ADS_2