
"Ikat mereka semua!" titah Arzan melemparkan pria tersebut dengan beberapa orang lain nya.
Arzan kemudian masuk, pria itu mendapati banyak foto di korban hasil penembakan.
"Bantu aku menemukan foto Jova dan Aileen!" perintah Arzan pada anak buah nya.
Dari selembar foto,terdapat alamat dan nama penembak nya. Arzan malah sibuk membuka semua berkas yang ada data-data korban nya. Ruang ini cukup besar, banyak rak buku di sini. Untung saja setiap buku ada tahun nya, jadi memudahkan Arzan untuk mencari nya.
"Maaf tuan, kami hanya menemukan foto tuan dan nona Aileen." ucap salah satu anak buah Arzan.
Benar saja, Jova adalah korban salah tembak karena target yang sebenarnya adalah Arzan. Arzan geram, pria ini memang sudah menemukan penembak nya, namun tidak dengan dalang nya.
__ADS_1
Arzan mengambil dua buku, kemudian pria itu memerintah anak buah nya untuk membawa semua orang yang ada di gedung ke markas nya. Ada tiga puluh orang di sana, semua nya di bawa ke markas.
Arzan membaca satu persatu isi buku, sampai pria itu menemukan nama dan foto diri nya. Di sana tidak tertulis siapa yang sudah membayar mereka, hanya ada nama foto dan keseharian saja.
"Apa mau kau selesaikan malam ini juga?" tanya Aarav.
"Tidak, aku ingin menemui anak ku. Selama ini aku sudah salah menyalahkan Aileen padahal yang jadi target utama adalah aku." ujar Arzan.
"Berapa aku mengatakan nya, Aileen tidak salah. Bukan aku menyudutkan mu, seharusnya kau sadar jika pekerjaan kita yang seperti ini pasti akan sangat membahayakan keluarga kita." kata Aarav membuat Arzan terdiam.
"Nona Aileen tadi bertanya perihal kemana tuan pergi. Tapi saya jawab tidak tahu." ujar David memberitahu.
__ADS_1
"Mereka bayaran, mereka masih menutup mulut siapa dalang dari penembakan itu." kata Arzan.
"Selagi mereka ada di bahwa tangan kita, kita akan lebih mudah menemukan dalangnya." sahut David.
Arzan hanya diam, pria itu langsung hendak masuk ke dalam ruangan. Aileen yang sejak tadi menguping buru-buru kembali ke tempat tidur nya dan pura-pura tidur.
Arzan yang baru saja masuk kali ini tidak menghampiri Jova, melainkan menghampiri anak nya yang di lihat nya tidur sangat nyenyak. Arzan mengusap pucuk kepala anak nya, pria tersebut juga menyelimuti anak nya. Hangat, sudah tentu Aileen merasa hangat, gadis ini merasa jika daddy nya mulai sadar atas kekhilafan yang di lakukan selama ini.
"Daddy minta maaf, daddy hanya takut kehilangan mommy mu. Mommy mu adalah separuh hidup daddy, maafkan daddy." ucap Arzan pelan namun Aileen yang masih pura-pura tidur bisa mendengar semua nya dengan jelas.
Setelah mengatakan hal tersebut, Arzan menghampiri istri nya. Pria tersebut menggenggam tangan Jova lalu meneteskan air mata.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kau tidur seperti ini bee, aku benar-benar lelah hidup tanpa mu." ucap Arzan sedih, "Aku minta maaf sudah menempatkan mu dalam bahaya, aku tidak benar-benar laki-laki bodoh yang tidak bisa berpikir jernih. Maaf karena aku sudah menyalahkan semua ini pada Aileen,anak kita."
Aileen yang mendengar ucapan daddy nya hanya bisa menangis tanpa suara. Cinta daddy pada mommy nya begitu besar, Aileen sangat bahagia karena dengan keadaan mommy nya yang seperti ini daddy nya masih setia bahkan mau merawat dan menunggu mommy nya sampai detik ini.