Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
31. Penculikan


__ADS_3

"Selamat pagi sayang ku...!" ucap Arzan dengan senyuman hangat nya namun Jova hanya membalasnya dengan senyuman yang sangat masam. Bahkan, ketika Arzan ingin mencium kening istrinya, gadis itu memilih menghindar.


"Aku akan mandi, aku harus ke kampus." kata Jova berlalu masuk ke kamar mandi.


Arzan merasa ada yang tidak beres pada istri nya, namun pria itu masih yakin jika istri ini hanya merajuk seperti biasa. "Tiga hari lagi dia wisuda dan ulang tahun, mungkin Jova sedang menguji ku." kata Arzan tak mau ambil pusing.


Di meja makan, Jova tidak seperti biasa nya yang terlihat ceria. Gadis itu hanya fokus pada makanan nya. Setelah selesai sarapan, Jova dan Arzan langsung berangkat. Masih tetap sama jova masih setia dengan diam nya.


"Aku akan menjemput mu nanti." kata Arzan.


"Suruh saja supir untuk menjemput ku." sahut Jova membuat ekspresi wajah Arzan langsung berubah.


Mika yang melihat Arzan langsung menghampiri pria itu. Jova yang melihat kehadiran Mika langsung pergi begitu saja. Arzan yang kesal pada Mika langsung membentak gadis itu hingga membuat nya malu.


Melvin langsung menghampiri Jova yang sedang duduk di taman seorang diri. Tampak dengan jelas jika saat ini Jova sedang sedih bahkan sorot mata nya saja berkaca-kaca.


"Kau kenapa Jova? apa kau punya masalah?" tanya Melvin penasaran.


"Tidak ada, aku baik-baik saja." kata Jova terlihat ramah.


"Apa saudara tiri mu itu menyakiti mu lagi?" tanya Melvin membuat Jova langsung bergeleng kepela. "Lalu apa?" tanya Melvin.


"Melv,...jika kau berada di dua posisi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Jova.


Melvin langsung mengerutkan kening nya kemudian balik bertanya, "Posisi yang seperti apa dulu?"

__ADS_1


"Jika kau mencintai seseorang, tapi tiba-tiba saja kau tahu jika orang yang kau cintai ternyata adalah seorang pembohong besar. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jova membuat Melvin terdiam. Pria itu seakan tertampar oleh kata-kata Jova.


"Aku tidak bisa menjawab nya!" gumam Melvin gugup.


"Kenapa?" tanya Jova heran.


"Karena setiap orang memiliki hati nya sendiri dan juga pandangan nya sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini Jova, baik aku atau pun diri mu, pasti memiliki secuil kebohongan. Jadi, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu." kata Melvin menjelaskan "Cinta dan kebohongan adalah dua kata yang berjalan beriringan. Di satu sisi kau ingin meninggalkan, namun di sisi lain kau ingin bertahan"


Jova membuang nafas kasar, gadis itu bingung ingin bersikap apa sekarang. Di otak nya sekarang adalah Arzan seorang pembunuh ayah nya. Berada seharian di kampus membuat Jova merasa bosan, terlebih lagi di hati nya merasa ketakutan untuk pulang ke mansion.


"Tumben kau belum di jemput Jova?" tanya Melvin.


"Aku ingin berjalan kaki sebentar," sahut Jova kemudian gadis itu berjalan menuju arah gerbang.


"Kenapa tidak di jemput? apa kau sudah di buang?" tegur Mika dengan tawa mencibir nya.


Mika menyunggingkan bibir atas nya, "Sudah ku bilang, kau akan di buang."


"Sekali lagi kau mengganggu Jova, aku akan mencabit mulut mu itu...!" kata Melvin malah membuat Mika tertawa keras.


Melvin yang tidak terima di tertawakan langsung mencengkram leher Mika hingga membuat gadis itu kesulitan bernafas. Ketika Mika dan Melvin saling bertengkar, tiba-tiba sebuah mobil hitam masuk ke dalam area kampus dan berhenti tepat di samping Jova. Gadis itu langsung di tarik paksa untuk masuk ke dalam mobil. Melvin yang melihat hal itu langsung mendorong Mika lalu mengejar mobil yang membawa Jova. Kehebohan langsung terjadi di kampus, Jova sudah di culik namun Mika sangat senang akan hal itu.


Arzan yang saat itu melihat Melvin berlari-lari langsung berhenti dan menghampiri Melvin. Mika yang melihat Arzan langsung ambil kesempatan. "Tolong aku Arzan, Melvin sudah mencekik ku...!" rengek gadis itu.


"Jangan dengar kan perempuan ular ini. Jova,...Jova di culik....aku sudah mengejarnya tapi tidak bisa." kata Melvin membuat telinga Arzan langsung naik marah.

__ADS_1


Arzan mencengkram lengan Melvin,"Jangan main-main dengan ku. Katakan Jova di mana?" tanya Arzan dengan mata yang hampir keluar.


"Aa-aku tidak bohong. Jova di bawa mobil hitam tadi." kata Melvin.


"Arzan, jangan pedulikan ucapan Melvin. Jova tadi bertengkar dengan Melvin karena Jova ingin menolong ku ketika Melvin mencekik ku tadi." Mika mencoba memperkeruh suasana.


"Aku tidak bohong, kita bisa melihat cctv di kampus ini." kata Melvin.


Arzan tidak mau gegabah, lelaki ini menuruti Melvin untuk melihat cctv. Tapi, Mika terus mengganggu nya hingga membuat Arzan kesal. Arzan masuk ke dalam mobil nya bersama Melvin, namun Mika menghalangi Melvin yang ingin duduk di kursi depan. Melihat keributan ini, Arzan yang tidak sabaran langsung menarik Mila lalu mendorong nya jauh dari mobil. Semua orang yang melihat Mika terjatuh langsung mentetawakan Mika.


Di ruangan cctv, Arzan mengepalkan ke dua tinju nya, mata nya memerah karena amarah. "Kau, pergi lah." ucap Arzan pada Melvin.


Mau tidak mau, Melvin langsung keluar. Pria itu langsung bergerak sendiri untuk mencari Jova, biar bagaimana pun Jova, hanya dia orang yang mau berteman dengan Melvin.


"Katakan, apa yang kalian lakukan hingga membuat istri ku di culik? Bukan kah aku sudah membayar mahal kalian hanya untuk menjaga istri ku selama kuliah di kampus ini...!" Arzan berkata dengan nada keras kepada para petinggi kampus.


"Maafkan kami tuan, kami lalai." ucap kepala yayasan yang ketakutan.


Arzan duduk di kursi kepala yayasan dengan sorot mata tajam. Hanya menunggu sepuluh menit, Aarav dan semua anak buah Arzan sudah tiba di kampus. Semua mahasiswa di pulangkan, pihak kampus sangat tunduk kepada Arzan. Bukan ingin berkuasa, hanya saja Arzan tidak ingin jika ada mahasiswa yang jadi korban.


"Lacak mobil itu....!" perintah Arzan pada Aarav.


Semua orang mulai bekerja, mencari Jova yang entah di bawa kemana. Alex merasa senang karena sudah berhasil menculik salah satu kelemahan Arzan. Jova di bawa jauh dari pusat kota, di perkampungan pinggiran yang harus melewati jalan panjang di kelilingi oleh hutan.


Aarav memperbesar cctv, pria itu langsung tahu siapa yang sudah menculik Jova. "Ini ulah Alex...!" kata Aarav memberitahu yang sebenarnya Arzan sendiri sudah tahu. Lambang kepala burung gagak di leher orang yang menarik paksa Jova itu terlihat sangat jelas di sana.

__ADS_1


"Dia mau bermain dengan ku." kata Arzan geram. "Perintahkan mereka untuk bergerak ke semua markas Alex. Jova pasti di bawa ke salah satu markas mereka."


Meski pun terlihat santai, namun hati Arzan di liputi rasa gelisah. Aarav dan Arzan tahu di mana letak markas Alex, namun tetap saja mereka harus mencari tahu satu persatu karena markas Alex sangat banyak.


__ADS_2