
Dengan perasaan berat Arzan harus rela meninggalkan istrinya. Demi membalas dendam pria ini sudah nekat untuk menghancurkan semua musuh nya. Arzan kembali ke mansion, mencoba fokus meski hati dan pikiran nya masih tertuju pada istrinya.
hari mungkin masih siang, namun Arzan sudah sibuk memikirkan rencana nya. Biar bagaimana pun, Lucas dan Afkar harus membayar atas perbuatan mereka. Di mansion juga ada Melvin, pria ini mulai akrab dengan Arzan. Melvin sama seperti Arzan, hanya ingin membalas kematian orang tua nya meski dia sadar jika Alex dan Afkar masih saudara nya.
"Yang aku tahu, Alex memiliki seorang adik perempuan yang tinggal seorang diri." ujar Melvin memberitahu Arzan.
"Di mana dia? kenapa aku tidak pernah tahu?" tanya Arzan mulai penasaran.
"Nama nya Dinandra, di memutuskan hubungan dengan keluarga hanya karena menentang kejahatan yang sudah di lakukan oleh Alex dan ayahnya." tutur Melvin menjelaskan.
"Dari mana kau tahu?" tanya Arzan.
"Aku sering mengunjungi nya." jawab Melvin "Dia perempuan baik. Jadi, jangan coba-coba melibatkan Dinan dalam masalah ini." ujar Melvin memperingati.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi sudah ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Hanya saja, orang itu tidak bisa mendengar terlalu jelas.
"Di mana Aarav?" tanya Melvin celingukan.
"Ada, dia sedang mengerjakan sesuatu." jawab Arzan yang hanya diri nya dan Aarav yang tahu.
Jarum jam terus berputar, pada Akhirnya malam pun tiba. Arzan bersama anak buah nya sedang bersiap-siap pergi ke markas Alex dengan membawa seseorang.
"Tuan, kenapa mengajak saya pergi ke tempat ini?" tanya pria itu ketakutan.
"Kenapa? apa kau takut?" tanya Arzan wajah dingin nya. Mobil masih melaju kencang, pria itu mulai berkeringat panas dingin. Arzan melirik nya lalu menarik tangan pria itu.
"M-mau apa t-tuan?" tanya nya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Arzan mencopot kuku di jari tengah itu hingga membuat pria itu menjerit kesakitan.Mata Arzan memerah, pria ini tahu siapa yang sudah berkhianat dari nya.
"Katakan pada ku, sudah berapa lama kau berkhianat dari ku?" tanya Arzan dengan nada tinggi nya. Rasyad yang melihat hal ini hanya bisa terdiam di kursi belakang.
Masih tidak mau mengaku, Arzan kembali mencabut kuku di jari lain. Entah kesetiaan macam apa yang di lakukan oleh pria ini, Arzan mulai kehabisan kesabaran.
"Berhenti....!" perintah Arzan lalu mobil tersebut berhenti. Arzan keluar, begitu juga dengan Rasyad. Mobil anak buah nya juga berhenti bahkan beberapa anak buah nya juga ikut keluar. "Lakukan tugas kalian. Tapi ingat, jangan sampai dia mati...!" perintah Arzan lalu pria itu masuk ke dalam mobil yang di di bawa Aarav dan Melvin.
Masih tetap sama, Rasyad masih diam tak mau bertanya. Melihat wajah dingin Arzan membuat nyali nya menciut. Laki-laki yang di anggap nya bocah ini ternyata memiliki sisi kejam nya tersendiri.
Setiba nya di markas Alex, semua anak buah Alex langsung mengangkat senjata begitu juga dengan anak buah Arzan. Pria tadi yang di cabut kuku nya di tarik Arzan paksa,
"Panggil bos kalian brengsek!" Arzan berkata dengan nada tinggi. Ini adalah kali ke dua Arzan menginjakan kaki ke markas Alex.
Tak berapa lama, tiga orang pria keluar dengan gaya angkuh dengan sombong nya.Mata Arzan langsung tertuju pada Lucas dan Afkar, sedangkan Alex mengangkat wajah nya tinggi karena diri nya sekarang di dampingi oleh dua orang jagoan.
"Katakan pada dua bajingan yang ada di samping mu. Aku tidak akan membunuh mereka, aku hanya ingin mereka di hukum sesuai hukum yang berlaku dan mereka juga harus meminta maaf di hadapan publik atas kejahatan yang mereka buat." ujar Arzan langsung membuat Alex tertawa begitu juga dengan Lucas dan Afkar.
Lucas terkekeh, pria tua itu mengisap rokok nya lalu menghembuskan asap rokok tepat di wajah Arzan. "Sebelum kau melakukan itu, akan ku buat kau menyusul ke dua orang tua mu!" kata Lucas yang sombong.
"Dan aku bisa menikahi istri mu dan menyiksa anak mu sesuka hati ku." sambung Alex memancing emosi Arzan dan Melvin. "Oh,...lihatlah dia. Bajingan kecil itu ternyata berpihak pada Arzan." ujar Alex yang baru menyadari adanya Melvin.
"Keponakan ku, apa kau tidak salah membela orang?" tanya Afkar mencoba merangkul Melvin namun langsung di tepis nya.
"Jangan coba-coba menyentuh ku jika kau tidak ingin aku menyentuh anak perempuan mu!" ancam Melvin membuat mata Afkar melebar.
"Bawa bajingan itu keluar!" perintah Arzan lalu Aarav menyeret pria yang sudah sekarat itu kehadapan Alex.
__ADS_1
"Ku akui jika tuan Afkar dan Lucas ini sangat cerdik. Aku tidak menyangka jika kepala koki di mansion ku adalah seorang pengkhianat yang sengaja di kirim." ujar Arzan.
"Dia bukan orang ku!" bantah Alex membuat Arzan langsung menembak salah seorang anak buah Alex hingga mati.
Sedangkan Afkar langsung mundur karena Melvin mengancam nya dengan anak perempuan nya. Katika Lucas menarik pelatuk sejata api nya, Arzan langsung menembak lengan pria itu. Mulai lah adu tembak terjadi, meski pun Arzan tidak membawa semua anak buah nya, namun mereka berhasil melumpuhkan sebagian anak buah Alex.
Sedangkan Arzan dan Alex saling beradu kekuatan ketika senjata mereka sama-sama jatuh. Melvin mengejar paman nya untuk meminta pertanggung jawaban atas kematian orang tua nya. Ada pun Rasyad yang saat ini sedang bersembunyi di dalam mobil.
Rasa nya tidak mungkin Alex mengalahkan Arzan karena pria ini jago dalam berkelahi. Doris yang ingin membantu Alex langsung di hadang oleh Aarav. Bahkan, wajah Alex sudag babak belur di hantam Arzan namun tak sekali pun Alex bisa mengenai Arzan. Sedangkan Lucas yang tangan nya tertembak berusaha kabur tentu saja berhasil dan dia sedang bersembunyi.
"Kau selesaikan Alex, bajingan itu kabur!" pinta Arzan pada Aarav.
Arzan kemudian masuk ke dalam markas, langkah nya perlahan mencari Lucas yang meninggalkan bekas jejak darah. Namun, langkah Arzan terhenti ketika melihat tetesan darah di dua jalur yang berbeda. Arzan sadar ini adalah jebakan. Laki-laki ini yakin melangkah ke jalur kanan yang ternyata gudang senjata milik Alex.
Jejak darah tersebut hilang, Arzan mulai menatap ke sekeliling nya namun tetap waspada. Tempat ini di penuh dengan lemari kayu juga peti kayu, mungkin Lucas sedang bersembunyi di tempat ini.
Doorrrr.....
Suara tembakan terdengar menghantam Arzan namun pria itu berhasil menghindari nya. Dari suara tembakan tersebut Arzan bisa mengetahui di mana Lucas bersembunyi.
"Keluar lah, aku tidak akan membunuh mu!" ucap Arzan tetap mengarahkan senjata api nya ke segala arah. "Keluar, kau harus mempertanggungjawabkan atas kematian orang tua dan adik ku!" kali ini suara Arzan meninggi.
Sudut bibir Arzan terangkat ketika melihat bayangan seseorang sedang mengangkat senjata api nya. Ketika Lucas hendak menembak nya, Arzan terlebih dahulu melupuhkan pria tua itu. Kini, ke dua tangan Lucas bersarang dua timah panas. Lucas menjerit kesakitan, namun Arzan tidak peduli.
"Ini untuk mata Daddy ku...!" ucap Arzan penuh penekan lalu pria itu menginjak luka yang berada di tangan Lucas. Lucas menjerit, rasa sakit dan panas menjalar ke sekujur tubuh nya. "Ini untuk air mata adik ku!" ucap Arzan ke dua kali nya menginjak luka itu kembali seakan peluru tersebut masuk semakin dalam. "Dan ini untuk air mata mommy ku!" kata Arzan dengan amarah yang panas di dalam dada nya. Pria ini menginjak luka tembak di tangan satu nya bahkan Arzan terus menginjak hingga membuat Lucas lemas tak berdaya.
Arzan memukul wajah Lucas hingga babak belur, bayangan tangisan mommy nya malam itu terngiang kembali di telinga pria ini apa lagi Arzan sangat ingat wajah Lucas lah yang saat itu mengagahi mommy nya. Arzan yang marah juga menginjak ******** Lucas hingga membuat nya menjerit sampai suara nya tidak terdengar lagi.
__ADS_1