
Arzan tertawa sangat lantang, pria itu membelai ke dua wajah anak Eron. "Bukankah ayah mu ini sudah menjamin kan nyawa kalian pada ku?" tanya Arzan dengan sorot mata mengerikan.
Anak dan istri Eron tidak di beri hak untuk bicara, Mulut mereka di lakban membuat Eron semakin panik. Arzan beralih pada Eron, menginjak leher pria itu. "Katakan pada ku, apa saja yang sudah kau beritahu pada mereka?" tanya Arzan sambil mengeluarkan pisau belati nya.
"H-hanya informasi tentang tuan yang memasukan Lucas dan Afkar ke dalam penjara dan informasi tentang Aira." jawab nya jujur. Mendengar nama Aira, Aarav yang jengkel langsung menendang Eron.
"Hebat sekali kau ya!" ujar Arzan lalu menyayat pipi Eron hingga membuat anak dan istri nya histeris.
"Lihat itu anak dan istri mu, lihat mereka baik-baik karena hari ini adalah hari terakhir kau melihat mereka dan mereka melihat mu!" ucap Arzan membuat sekeluarga itu histeris.
Istri Eron berusaha memohon dengan mulut yang tertutup. Namun bagi Arzan seorang pengkhianat tidak bisa di maafkan.
__ADS_1
"Bunuh dia, kirim mayat nya ke markas tuan nya!" titah Arzan. "Buang mereka!" tunjuk Arzan pada anak dan istri Eron.
Melihat anak dan istri nya di seret, Eron berusaha melawan namun tenaga nya kalah kuat ketika sang eksekusi mulai bermain dengan tubuh tua nya.
Arzan duduk di kursi, melihat sisa nafas terakhir Eron yang masih berusaha memohon pengampun dari nya. Dengan satu tembakan yang tepat menghantam jantung, Arzan baru saja mempertemukan Eron dengan malaikat nya.
"Aku ingin masalah ini cepat selesai, aku sendiri yang akan mengirim mayat ini. Masalah anak buah kita yang tertangkap, semoga saja dia masih hidup." ujar Arzan lalu menyuruh anak buah nya untuk mengemas mayat Eron.
Di perjalanan, Arzan menghubungi istri nya untuk meminta izin untuk tidak pulang. Pada awal nya Jova tidak mengizinkan nya namun lagi-lagi Aira dan David memberi pengertian pada Jova.
"Daddy rindu kamu sayang, jangan rewel dan jangan nakal. Daddy harus menyelesaikan masalah ini sebentar saja." batin Arzan yang sangat merindukan anak dan istri nya.
__ADS_1
Hanya tiga mobil, tidak banyak anak buah yang di bawa Arzan. Pria ini ingin membereskan sendiri sisa sampah yang masih berhubungan dengan masa lalu nya. Meski pun hanya informasi kecil yang di dapat musuh, namun Arzan tidak mau bertindak teledor.
"Apa kau pernah melihat wajah tuan Bram?" tanya Aarav.
Arzan tersenyum, rasa nya juga hati pria ini sedikit kecewa. "Apa kau tahu sesuatu tentang diri ku?" tanya Arzan. "Segala apa yang terjadi dalam hidup ku sudah di atur oleh seseorang." ujar Arzan membuat Aarav terkejut.
"Apa maksud mu?" tanya Aarav.
"Cinta segitiga mommy ku, pembunuhan keluarga, kenapa aku tidak di bunuh, kenapa aku jadi seorang mafia seperti ini, semua sudah ada yang mengatur nya. Permusuhan ku dengan Alex juga ada yang mengatur nya" ujar Arzan memberitahu Aarav membuat Aarav tidak percaya dengan pria itu.
"Dari mana kau tahu?" tanya Aarav.
__ADS_1
"Sudah lama aku tahu, hanya saja rencana mereka berubah ketika Aira berusaha jadi pengkhianat." kata Arzan semakin membuat Aarav bingung. "Mereka sengaja membiarkan ku hidup agar aku mati-matian membalas dendam. Nyata nya mereka berhasil." ujar Arzan. "Setelah itu mereka akan membuat hidup ku menderita setelah aku memiliki anak nanti. Mereka sudah berencana akan membunuh siapa pun yang akan menjadi istri ku termasuk anak ku."
Cukup sedih Arzan menceritakan hal ini, pria ini hanya ingin hidup normal layaknya keluarga pada umumnya.Siapakah orang itu? Arzan sendiri yang akan membunuh orang yang sudah mengatur hidup nya selama ini yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.