
Hari telah berganti, matahari masih tampak malu-malu mengeluarkan sinar nya. Jova yang masih tertidur pulas merasa jika perut nya tiba-tiba sangat mual hingga memaksa nya harus cepat bangun lalu pergi ke kamar mandi. Gadis itu muntah-muntah, Arzan yang terkejut langsung bangun dan menyusul istri nya ke kamar mandi.
Arzan memijat tengkuk Jova, menyingkirkan rambut yang menutup wajah nya, "Bee, kau kenapa? apa kau sakit?" tanya Arzan panik.
Jova mencuci wajah nya, gadis itu lemas sekarang bahkan nafas nya saja terengah-engah. "Antar aku ke tempat tidur bee, kepala ku pusing." ucap gadis itu pelan.
Tak banyak lagi, Arzan langsung menggendong istri nya, merebahkan kembali di tempat tidur. "Aku akan mengambil teh hangat untuk mu." ujar Arzan bergegas pergi ke dapur. Pria itu meminta pada pelayan untuk membuat teh hangat di campur madu sedikit. Kemudian membawa nya ke kamar untuk sang istri. "Ayo duduk dulu, minum teh hangat nya. Seperti nya kau masuk angin bee!" ujar Arzan menyentuh kening istrinya namun tidak panas.
"Perut ku sangat mual bee....!" rengek gadis itu dengan wajah cengeng nya.
"Jangan menangis, nanti kita pergi ke Dokter!" bujuk Arzan.
"Elus-elus perut ku bee. Sungguh, ini sangat mual!" gumam gadis itu.
"Iya sayang, iya.....!" seru Arzan lalu mengelus perut istrinya.
"Kau ini mengelus perut atau rambut orang utan? kasar sekali ....!" ujar Jova kesal.
Arzan menarik nafas dalam, mencoba mengelus perut istrinya lebih lembut lagi. Gadis itu mulai merasa nyaman, tentu saja Arzan merasa lega melihat nya. Jova sangat manja, membuat Arzan bingung dengan perubah sikap istrinya ini.
"Bee, aku ingin naik kuda!" ujar Jova membuat Arzan tercengang mendengar permintaan sang istri.
"Apa kau tidak salah bee? bukan nya kau tidak suka hal yang membuat mu lelah?" tanya Arzan tidak percaya.
"Kalau kau tidak mau mengajak ku, aku akan meminta pada Aarav!" ancam gadis itu membuat suami nya kesal.
"Iya, iya, ...jangan coba-coba dekat dengan laki-laki lain. Aku akan membunuh nya!" ucap Arzan penuh penekanan. "Mandilah, kita akan pergi ke Dokter!" perintah pria itu.
"Tidak usah bee. Aku sudah baikan!" tolak Jova sambil menunjukan tubuh segar nya.
__ADS_1
"Tapi, jika kau sakit lagi bagaimana?" tanya Arzan masih terlihat khawatir dengan keadaan istri nya.
"Kenapa aku harus khawatir? sedangkan suami ku merawat ku dengan penuh cinta seperti ini." kata Jova membuat Arzan terharu. Pria itu memeluk istrinya, mencium kening penuh kasih sayang.
Pasangan suami istri itu sudah bersiap untuk pergi ke kantor, seperti biasa Jova hanya mengekor di belakang suami nya yang tidak pernah mau jauh-jauh ini. Namun, ketika mereka sedang dalam perjalanan ada dua mobil yang berusaha mengejar mobil Arzan. Untung saja Arzan sudah handal dalam hal mengemudi, jadi pria itu bisa menghindari kejaran tersebut.
"Siapa mereka bee?" tanya Jova penasaran.
"Aku tidak tahu bee, yang jelas mereka adalah musuh ku!" ujar Arzan membuat Jova panik.
"Kau terlalu banyak musuh bee!" seru gadis itu takut.
"Hanya musuh yang berkelas bisa mengenali ku. Mungkin mereka salah satu anak buah Alex!" ujar Arzan.
"Kenapa dia selalu mengincar mu bee?" tanya Jova semakin penasaran.
Mengingat kejadian di jalan, Arzan memutar arah tidak pergi ke kantor melainkan ke villa milik nya yang berada di dekat pantai. Sama saja, apa beda nya dengan mansion yang selalu di jaga oleh banyak orang.
Arzan mengajak istri nya untuk duduk di saung yang berada tak jauh dari pantai, laki-laki itu kemudian menceritakan segala nya tanpa kebohongan. Sebagai seorang istri, sudah tentu Jova merasa iba mendengar masa lalu suami nya yang Arzan ceritakan kembali.
"Menurut mu bagaimana bee, apa aku harus bekerja sama dengan Melvin?" tanya Arzan meminta pendapat.
"Sebenarnya, menyimpan dendam itu adalah penyakit hati yang paling sakit. Tapi, jika masalah nya seperti ini aku harus mendukung mu bee. Masalah bekerja sama dengan Melvin, aku rasa itu tidak buruk. Melvin tahu sedikit banyak nya kelemahan dan kelebihan mereka." ujar Jova ada benar nya.
"Tapi, aku malas melihat teman mu itu." kata Arzan kesal.
"Kenapa?" tanya Jova heran.
"Dia kan menyukai mu, aku tidak suka melihat dia selalu mencari kesempatan untuk mendekati mu!" gumam Arzan malah membuat istri nya tertawa.
__ADS_1
"Bee, jika ada satu hati yang sudah membuat ku nyaman, kenapa aku harus mencari lain hati?" tanya Jova membuat Arzan langsung menatap ke dua netra istri nya.
"Bee, jangan pernah tinggalkan aku. Mungkin awal pertemuan kita tidak seperti kebanyakan orang yang berawal romantis. Tapi, sebisa mungkin aku akan selalu bersikap romantis pada mu." kata Arzan mampu meluluhkan hati Jova.
"Mari menua bersama bee, kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang. Tante Rose dan Mika bukan keluarga ku, mereka hanya orang yang sudah merebut kebahagiaan ku. Jadi, ku harap kau tidak pernah bosan pada ku!" gadis ini berkata dengan penuh harap.
Arzan tersenyum, memeluk istrinya erat, "Bee, malam ini aku izin pergi lagi. Aku dan Aarav akan menggagalkan jual beli manusia malam ini." ujar Arzan membuat Jova terkejut.
"Dari mana kau tahu ada jual beli manusia bee?" tanya Jova heran.
"Apa kau lupa bee, jika suami mu ini adalah seorang Tarzan? aku bisa mendengarkan informasi apa pun meski mereka melakukan nya dengan hati-hati sekali pun." jawab Arzan dengan bangga nya.
"Sombong sekali....!" cibir Jova, "Bee, Selama ini aku tidak pernah melihat keluarga Aarav, apa dia sama seperti kita?" tanya Jova penasaran.
"Ya, Aarav sama seperti kita. Keluarga mati terbunuh, ayah nya tukang judi sedang ibu nya seorang buruh cuci. Ke dua orang tua nya mati di bunuh hanya karena masalah utang piutang. Ayah Aarav memiliki banyak utang." kata Arzan memberitahu.
"Lalu, di mana kau bertemu Aarav?" tanya Jova kerena rasa ingin tahu nya semakin besar.
"Di saat aku lulus sekolah menengah pertama. Saat itu, di jalanan sepi aku melihat Aarav membawa setumpuk koran. Dia lesu, wajah nya sedih karena koran nya tidak laku. Saat itu aku tertarik menghampiri Aarav, mendengar cerita nya aku jadi bersimpati.Kami sama-sama kehilangan keluarga, jadi pada saat itu aku memutuskan untuk mengajak Aarav pulang ke rumah. Paman ku menyekolahkan Aarav, sama seperti ku." cerita Arzan membuat Jova merasa ganjil.
"Kau punya paman Bee? kata mu kau membangun semua nya dari nol, siapa paman mu itu?" tanya Jova penasaran.
"Dia bukan keluarga ku, tapi aku menganggap nya sebagai paman. Dia adalah orang yang banyak mengajari ku dalam berbagai hal. Paman juga mendidik Aarav, dengan satu syarat jika Aarav harus setia pada ku. Percaya lah bee, Aarav menjaminkan nyawa nya sendiri jika dia berani berkhianat, aku sendiri yang akan memenggal kepala nya." kata Arzan membuat Jova bergidik ngeri.
"Di mana paman mu itu bee?" tanya Jova.
"Tidak ada di sini bee, dia tinggal di luar negeri." kata Arzan memberitahu.
Seharian ini, mereka hanya menghabiskan waktu dengan bercerita tentang masa lalu. Banyak hal yang baru Jova ketahui tentang suami nya begitu juga sebaliknya. Memang pada dasar nya Arzan adalah orang yang baik, hanya saja dendam sudah menguasai hati nya. Masih banyak rahasia tentang kematian keluarga Arzan, rahasia tentang salah satu orang yang paling dekat dengan Arzan dan semua itu baru se ujung kuku yang terkuak.
__ADS_1