
Setahun dua tahun hingga pada akhirnya Aileen kini sudah berumur sepuluh tahun. Gadis ini tumbuh menjadi gadis kuat di bawah asuhan Aira dan Aarav sedangkan Arzan yang sudah berapa tahun belakangan ini sangat tidak peduli pada anak nya.
Penembakan beberapa tahun silam yang membuat Jova harus koma dengan jangka waktu yang cukup panjang. Peluru yang bersarang dalam tubuh Jova bukan peluru sembarangan karena setelah di lakukan serangkaian tes ternyata peluru tersebut sudah di campuri racun.
Tidak hanya organ dalam nya yang rusak, peluru tersebut juga membuat fungsi otak Jova tidak bekerja. Bahkan sampai sekarang pun Jova masih di bantu alat medis untuk bernafas.
"Ini sudah lima tahun tuan, kondisi istri anda tidak ada perubahan. Dari pada menyiksa nya seperti ini, saya menyarankan agar istri tuan di suntik mati saja." ujar Dokter tersebut membuat wajah Arzan langsung merah padam.
Arzan langsung mencekik leher Dokter tersebut, "Sekali lagi kau mengatakan hal sampah seperti itu, akan aku pasti kan jika kau sendiri yang akan ku kirim ke neraka!" ucap Arzan dengan penuh penekanan.
"M-maafkan saya tuan!" ucap Dokter tersebut ketakutan.
Arzan kemudian melepaskan nya, lalu berkata, "Bahkan, aku bisa membeli kau dan rumah sakit ini. Tugas mu hanya merawat istri ku dengan baik. Bukan memberi ku nasehat yang tidak masuk di akal itu."
"Maafkan saya tuan, saya akan melakukan yang terbaik!" ucap Dokter tersebut buru-buru pergi.
Arzan masuk ke dalam ruang, pria itu menghampiri istri nya yang masih setia dengan tidur nya. Arzan meraih tangan yang pucat tersebut, kecintaan nya pada Jova telah mengalahkan segala nya.
"Kapan kau bangun bee, aku merindukan mu?" lirih Arzan terus menciumi punggung tangan istri nya. "Aku mencintai mu bee, bangun lah sayang. Aku janji akan melakukan apa pun yang kau inginkan."
__ADS_1
Arzan kembali menangis, pria ini sudah tampak kurus tidak terurus. Beberapa tahun belakangan Arzan sangat jarang pulang ke mension, pria ini lebih memilih tinggal dan menemani istri nya di rumah sakit.
"Paman kita ke rumah sakit ya." ujar Aileen yang baru saja pulang sekolah.
"Tapi nona, nanti tuan marah lagi." kata David merasa bingung.
Aileen terdiam, gadis ini sangat merindukan orang tua nya, "Ya sudah, kita pulang saja!" ujar Aileen lagi-lagi menelan kekecewaan.
Setiba nya di mansion Aileen yang sudah lesu dan kehilangan semangat kembali tersenyum ketika melihat seorang bocah laki-laki yang imut dan lucu. Nama nya Aksa, anak pertama Aarav dan Aira yang baru berumur tiga tahun.
"Kau kenapa Ai?" tanya Aira.
"Jangan bohongi aunty. Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Aira lagi.
"Ai hanya ingin bertemu mommy dan daddy, kenapa daddy selalu melarang Aileen untuk bertemu mereka?" tanya gadis itu dengan air mata yang sudah mengalir.
Langkah Aarav yang hendak masuk menghampiri mereka tiba-tiba terhenti. Rasa nya sudah lama sekali Arzan tidak mengurus anak nya ini. Aarav tidak jadi masuk, laki-laki itu memutuskan untuk pergi lagi.
"Aileen, mommy kan sedang sakit, biarkan daddy yang merawat. Aileen. belajar dan berlatih aja ya." bujuk Aira yang rasa nya sudah lelah dengan kata-kata seperti ini.
__ADS_1
"Aileen bersumpah, Aileen akan menemukan orang yang udah buat mommy sakit." ucap gadis itu menghapus air mata nya kasar.
"Aunty senang dengan semangat kamu, tapi lebih baik Ai belajar yang pintar aja ya." ujar Aira tersenyum.
Aileen hanya mengangguk, gadis ini kemudian masuk ke dalam kamar untuk sekedar membersihkan diri.
Aarav tiba di rumah sakit, pemandangan biasa yang di lihat pria itu adalah Arzan yang tidak lepas menjaga istri nya.
"Pulang lah Arzan, kasihan anak mu. Kenapa kau jadi melupakan Aileen!" kata-kata seperti ini juga sudah bosan di dengar Arzan selama beberapa tahun belakangan. "Jika kau tidak ingin pulang, sekali saja izinkan anak mu untuk melihat keadaan mommy nya."
"Diam kau!" ucap Arzan dengan suara lesu.
"Kau ini, seharusnya kau bisa mengatur waktu mu. Aileen anak mu, kenapa kau masih menyalahkan dia tentang penembakan itu?"
"Kerja kalian saja tidak ada yang becus, sudah berapa lama penembak bajingan itu masih berkeliaran bebas?" ujar Arzan meninggikan suara nya.
"Kami sudah berusaha, tapi kau tahu sendiri mereka main nya rapi dan bersih!" kata Aarav yang sudah lelah.
"Pergilah, aku tidak ingin berdebat!" seru Arzan, Aarav hanya menghela nafas kemudian pria itu keluar. Melihat Aarav yang sudah keluar Arzan memiliki tidur di samping istri nya.
__ADS_1