Menikah Dengan Mafia

Menikah Dengan Mafia
16.Aku Takut


__ADS_3

Semua orang, bernyanyi bersama, menikamti malam dengan saling bercanda. Namun tidak untuk Jova, gadis itu semakin murung bahkan tidak seceria seperti biasa nya. Arzan sudah sedari tadi memperhatikan istri nya, pria itu tidak ingin bertanya karena merasa tidak enak hati nya.


Tanpa sadar, Jova menarik tangan suami nya. Menggenggam nya erat dengan keringat panas dingin. "Kau kenapa?" tanya Arzan khawatir terlebih lagi wajah gadis itu pucat.


"Arzan,...aku ingin pulang." lirih nya membuat pria itu terkenjut.


"Kau ini kenapa?" tanya Arzan panik.


"Aku ingin pulang. Aku tidak ingin di sini." gadis itu mulai meninggikan suara nya membuat semua orang menoleh ke arah mereka.


Mika yang melihat hal itu, hanya bisa tersenyum mencibir. Karena gadis itu tahu jika Jova memiliki trauma di masa lalu. Semakin tinggi malam, semakin Jova ketakutan. Arzan yang tidak mau ambil resiko langsung menelepon anak buah nya yang memang diq perintahkan untuk berjaga di suatu titik. Untung saja, kawasan itu masih kuat dengan sinyal.


Tidak ada yang protes, baik itu ketua acara, panitia atau pihak kampus lain nya.


Melvin yang cukup perhatian dengan Jova harus rela menahan diri ketika melihat sorot mata tajam Arzan yang mematikan langkah pria itu.


"Jova, kau kenapa?" tanya Mika yang seolah peduli.


"Jangan ganggu Jova. Pergi ke rombongan mu." ujar Arzan dengan suara dingin nya. Mika seolah tak mampu berucap lagi, niat nya perhatian pada Jova untuk mencari perhatian Arzan kini telah kandas.

__ADS_1


Tak berapa lama, mobil datang menjemput mereka. Jova masih menggenggam tangan suami nya erat. Bahkan di dalam mobil saja Jova masih menggenggam tangan pria itu. Arzan semakin khawatir, entah apa yang sedang di alami oleh Jova ini, yang jelas gadis ini pasti memiliki sesuatu di masa lalu nya.


"Tidurlah, aku akan membangunkan mu ketika sudah sampai nanti." kata Arzan namun gadis itu menolak.


"Tidak, aku tidak mau." tolak Jova dengan wajah pucat nya. "Pak,...bisakah jangan terlalu laju membawa mobil nya? aku takut...!" gadis itu berkata dengan memohon.


"Pelan kan mobil nya." perintah Arzan.


"Baik tuan...!" jawab anak buah Arzan.


"Aku takut Arzan,...maaf telah membuat mu susah." suara gadis itu mulai normal kembali setelah mobil melaju dengan kecepatan sedang. "Dulu, aku dan ibu di ajak pergi oleh seseorang yang aku kenal sebagai supir. Supir bilang ayah menunggu kami di suatu tempat, ternyata semua itu bohong." gadis itu mulai menceritakan masa lalu nya.


"Supir itu mengajak aku dan ibu ke suatu hutan yang sangat jauh bahkan jauh dari perkampungan penduduk. Aku masih ingat dengan jelas kejadian itu meski aku baru berumur delapan tahun. Supir itu tiba menyeret ibu keluar dari dalam mobil, lalu menodongkan pisau ke arah ibu kemudian menikam nya. Ibu ku masih selamat, ibu menyuruhku berlari untuk menyelamatkan diri. Tapi, supir itu berhasil menangkap ku, namun ibu yang sudah terluka menolong ku agar aku bebas dari orang itu. Aku lari, aku berlari sejauh mungkin masuk ke dalam hutan. Semakin aku mendengar suara teriakan kesakitan ibu ku, semakin jauh aku memasuki hutan. Aku bersembunyi di bawah pohon besar dengan akar yang melintang di mana-mana. Aku takut, sungguh aku takut gelap nya malam itu." air mata Jova, mengalir deras membasahi pipi. Baru kali ini Arzan melihat gadis itu menangis. "Tanpa aku ku sadari, aku terbangun di rumah sakit. Ayah bilang ibu sudah meninggal dan aku syok bahkan aku menangis sejadi-jadi nya. Sampai sekarang, supir itu belum tertangkap. Ayah tidak pernah menemukan pembunuh ibu."


Arzan terdiam, mengusap kepala istri nya lalu menarik gadis itu kedalam pelukan nya. "Jangan takut, aku akan melindungi mu. Maaf, telah memaksa mu ikut dalam acara sialan itu. Aku pikir kau seperti gadis lain yang senang pergi ke acara alam seperti itu." kata Arzan penuh penyesalan.


"Bukankah aku sudah menolak nya? kau tetap saja memaksa ku." kata Jova sambil mengusap air mata nya kasar. "Arzan,...aku ingin tidur. Bisakah kau melepaskan pelukan mu ini...?" gadis itu mencoba melepaskan diri.


Bukan nya melepaskan, Arzan malah semakin erat memeluk istri nya. "Tidur di pelukan ku. Aku akan menjaga mu." ujar Arzan tak mau di bantah.

__ADS_1


Nama juga tidur dalam pelukan suami, sudah pasti senang. Jova pada akhirnya terlelap dalam pelukan Arzan. Pria itu, memberanikan diri mengusap lembut pipi istri nya. "Aku berjanji, aku akan mencari orang yang sudah membunuh ibu mu dan membuat mu trauma seperti ini." batin Arzan penuh amarah.


Camping gagal, Jova sudah lelap dalam tidur nya. Bahkan gadis itu sudah tidak sadar jika sekarang diri nya sudah berada di atas tempat tidur di kamar nya. Arzan yang semula ingin pergi ke kamar nya tidak bisa keluar karena tangan nya di tarik oleh Jova.


"Temani aku, aku takut. Di sini gelap." racau gadis itu dalam tidur nya.


Arzan menghembuskan nafas pelan, naik keatas tempat tidur dengan perasaan yang sulit di jelaskan.Memandang wajah mungil istri nya, mereka berselisih enam tahun umur nya. "Aku seperti sedang menina bobokan anak ku saja." batin Arzan terasa geli.


Lagi-lagi, jemari kekar itu mengusap lembut pipi Jova. Bibir tipis merah jambu, sungguh menggoda iman Arzan. Pria itu ingat, jika diri nya pernah menyantap bibir yang terasa manis itu. Arzan menjambak rambutnya sendiri, pria itu di buat gila dengan wajah tidur milik istri nya. "Tidur Arzan,...tidur Tarzan...kau tidak boleh mencuri ciuman istri mu tanpa seizinnya." kata Arzan bergelut dalam hati nya. Sekali lagi, Arzan memandang wajah Jova, "Kalau tidur memeluk mu, tidak masalah kan?" tanya nya berbisik. Pria itu tersenyum sendiri bagai orang gila, Arzan memutuskan untuk merebahkan diri di samping Jova lalu memeluk gadis itu dalam lelap.


Matahari mulai berani menampakan diri, namun ke dua manusia itu masih terlelap dalam tidur yang hangat. Pukul delapan pagi, Jova mulai mengerjapkan mata nya sambil menggosok-gosong mata nya. Namun, leher gadis itu merasa hangat berkat hembusan nafas Arzan.


"Astaga....!" gadis itu terkejut. "kenapa bisa aku tidur dalam pelukan Arzan lagi....?" Jova mengutuk diri nya sendiri.


Perlahan namun pasti, gadis itu mencoba melepaskan diri dari pelukan suami nya. "mau kemana kau?" tanya Arzand dengan suara serak nya. Mata lelaki itu masih setia dengan pejam nya.


"Menyingkir,...." kata gadis itu, "Kenapa kau tidur di sini dan memeluk ku?" Jova menyalahkan Arzan.


Arzan menarik nafas dalam, membuka mata lalu menatap wajah istri nya. "Siapa yang semalaman memegang tangan ku bahkan merengek untuk tidak pergi meninggalkan mu?" tanya Arzan tiba-tiba naik ke atas tubuh istri nya.

__ADS_1


Wajah mereka, hanya berjarak satu inci, ke dua nya dapat merasakan hembusan nafas dan pagi. Desiran jantung mereka, saling berbisik tak karuan, ke dua mata itu masih sama-sama lekat memandang.


__ADS_2