
Mobil melaju dengan kecepatan terang tinggi, menembus hutan pinus dengan pengawalan ketat. Mata Arzan memerah karena khawatir pada istri nya yang belum sadar juga. Menggenggam erat tangan Jova, air mata nya mulai menggenang di sudut mata.
Setiba nya di rumah sakit, Jova langsung di periksa oleh Dokter. Arzan modar mandir di depan raung UGD. Aarav yang baru saja tiba mencoba menenangkan Arzan yang masih terlihat panik.
"Tenang, jangan panik seperti ini." kata Aarav menenangkan nya.
"Kau pikir aku bisa tenang?" bentak Arzan dengan mata tajam nya "Jova tidak sadarkan diri sudah sejak pagi, dan kau masih menyuruh ku untuk sabar?" tanya Arzan kesal.
Aarav hanya bisa menahan nafas, salah juga ternyata menenangkan bajingan seperti Arzan ini. Tak berapa lama, Dokter yang menangani Jova keluar dan meminta Arzan untuk masuk ke dalam.
"Kenapa istri ku belum sadar juga?" tanya Arzan marah.
"Sabar pak, sebaik nya anda duduk dulu." kata Dokter mencoba menenangkan Arzan.
Dengan wajah dingin, Arzan menarik kursi lalu duduk menghadap Dokter tersebut. Dokter mengulurkan tangan nya, dengan refleks Arzan menyambutnya. "Selamat pak, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah." ucap Dokter dengan senyum lebar nya namun Arzan yang bodoh tidak mengerti maksud nya.
"Katakan yang jelas, apa maksud mu jika aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Arzan bingung.
"Istri anda hamil, usia kandungan nya sudah memasuki tiga minggu." Dokter memperjelas langsung membuat Arzan kaku.
"Jangan main-main dengan ku, jika tidak ku lenyapkan kepala mu!" ancam Arzan yang tidak percaya.
Untung saja Dokter itu seorang laki-laki, jika perempuan maka akan lari ketakutan. "Saya serius pak. Istri anda benar-benar hamil." sekali lagi Dokter mempertegas.
"Jika istri ku hamil, itu tanda nya aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Arzan dengan wajah berbinar-binar.
"Iya pak, sekali lagi selamat ya." ucap Dokter dengan girang Arzan yang sempat emosi langsung memeluk Dokter tersebut.
Arzan melepaskan pelukan nya, lalu bertanya, "Kenapa istri ku belum sadar juga?" tanya nya.
"Sebentar lagi juga sadar. Untuk kandungan nya harus benar-benar di jaga, jangan kelelahan atau melakukan pekerjaan berat lain nya." nasehat Dokter.
__ADS_1
Arzan menghampiri istri nya yang belum sadar, gadis itu terbaring lemas di brankar. Arzan menggenggam tangan istri nya, mengusap perut yang masih datar itu.
"Terimakasih telah hadir di perut mommy sayang!" ucap Arzan haru.
Tak berapa lama, Jova mulai membuka mata nya. Rasa nya pusing sekali, tubuh nya lemas.
"Sayang, kau sudah sadar?" tanya Arzan senang.
"Di mana aku bee?" tanya Jova bingung.
"Di rumah sakit." jawab Arzan lalu memeluk istrinya "Kau hamil sayang, terimakasih telah memberi ku seorang anak." ucap Arzan masih memeluk istrinya.
"Aku hamil bee? aku benar hamil bee? apa kau serius?" tanya Jova terkejut sekaligus bahagia.
"Iya sayang, kau hamil. Kau sedang mengandung anak ku." kata Arzan memperjelas. Lelaki itu terus memeluk juga menciumi wajah istri nya.
Sekali lagi, suami istri itu saling berpelukan, menangis bahagia atas rezeki yang tidak ternilai harga nya. Namun, bahagia itu langsung buyar ketika Aarav masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa bee?" tanya Jova khawatir.
"Kita harus pergi bee, ada musuh!" kata Arzan lalu menggendong istri nya untuk keluar dari rumah sakit.
Untung saja Arzan di bantu oleh Dokter yanti tadi kepala nya mau di lenyapkan oleh Arzan. Benar sekali, ternyata musuh mencium bau Arzan pergi ke rumah sakit. Salah satu anak buah Arzan sudah siap dengan mobil nya, menunggu Arzan dan Jova di halaman belakang.
Kini, mobil melaju menuju mansion. Sepanjang perjalanan Arzan memegang senjata api nya sambil memeluk istrinya. Ketika mereka melintasi jalanan sepi, ada satu buah mobil yang menghadang di tengah jalan.
"Sialan....!" umpat Arzan.
Mau putar balik pun tidak bisa karena mobil musuh juga menutup jalan mereka. Jova tidak ada takut-takut nya, Arzan yang saking bahagia sampai lupa jika musuh memanfaatkan kelengahan nya. Ada empat mobil yang menghadang, namun tidak membuat Arzan takut. Semua anak buah Arzan membereskan musuh di rumah sakit tapi lupa jika musuh juga mengikuti nya.
"Pakai ini bee, aku tidak mau kau dan calon anak kita kenapa-kenapa." ujar Arzan memasangkan dua lapis baju anti peluru.
__ADS_1
"Bagaimana tuan, apa kita akan turun?" tanya sang supir dan salah satu anak buah Arzan yang ikut bersama nya.
"Habisi mereka!" perintah Arzan.
"Bee, aku ingin menembak!" rengek Jova membuat suami nya terkejut.
"Jangan bee, ku mohon jangan mencelakai diri mu sendiri." kata Arzan.
"Kau sudah janji bee.....!" Jova mengingatkan.
Suara tembakan di luar sama sekali tidak menciutkan nyali gadis itu. Dulu Jova sangat takut ketika mendengar suara tembakan namun sekarang gadis ini malah senang mendengar nya.
Melihat wajah masam istri nya, Arzan mau tidak mau menuruti nya. "Tunggu dulu, jika musuh tinggal satu atau dua aku akan mengeluarkan mu dari mobil." kata Arzan kemudian pria itu keluar.
Pada dasar nya Arzan memang jago menembak tidak butuh waktu lama untuk mengahabisi musuh nya. Jova yang keras kepala malah keluar dengan membawa satu senjata api yang selalu di sembunyikan suami nya di bawah kursi mobil.
Gadis itu dengan lincah nya menembak ke arah depan dan....
Dooor,....satu tembakan mengenai tangan musuh. Tentu saja hal tersebut membuat Arzan panik melihat istrinya. Bukan nya takut Jova malah ketagihan, gadis ini sudah seperti penembak handal.
Acara tambak menembak selesai, Arzan langsung membawa istri nya pulang. Gadis yang tidak sadarkan diri cukup lama ini malah bangun dengan tenaga kuda nya, menembak beberapa musuh membuat nya bangga.
Setiba nya di mansion, Arzan langsung menarik istri nya masuk ke dalam kamar. Pria itu mengusap wajah nya frustasi, tingkah istri n ya sungguh membuat Arzan nyaris kehilangan jantung nya.
"Siapa yang memberi mu perintah untuk keluar?" tanya Arzan dingin.
"Aku sendiri...!" jawab Jova begitu santai nya.
"Jika kau kenapa-kenapa bagaimana? kau sedang hamil sekarang!" bentak Arzan dengan nada tinggi nya membuat ekspresi wajah Jova berubah masam. "Kau pikir mereka orang baik? kau membahayakan diri mu dan calon anak kita. Kenapa kau sulit sekali untuk di beri tahu...?" sekali lagi nada tinggi Arzan menggema di dalam kamar, membuat Jova ketakutan ketika melihat sorot mata tajam dan wajah dingin suami nya. Baru kali ini Arzan membentak Jova seperti ini.
Air mata gadis ini jatuh, langkah nya mundur selangkah. Arzan yang melihat istri nya ketakutan kembali sadar karena diri nya telah membentak istri nya begitu keras.
__ADS_1