
Selama perjalanan pulang dari rumah sakit Reno maupun Siska hanya diam saja dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga sampai rumah mereka masih saja saling diam, bahkan Siska langsung turun dari mobil tanpa menunggu Reno membukakan pintu mobil seperti biasanya. Reno hanya menghembuskan nafasnya berat karena ia paham apa yang sedang Siska rasakan sekarang. Reno pun langsung menyusul Siska setelah memasukkan mobil ke dalam garasi.
Saat membuka pintu kamar, Reno bisa melihat Siska sedang duduk membelakangi dirinya dengan tubuh yang bergetar. Reno tahu jika Siska sedang menangis dan langsung menghampirinya.
" Sayang " panggil Reno duduk di samping Siska.
Reno memegang kedua pundak Siska dan membuat Siska menghadap dirinya. Air mata Siska yang sudah jatuh membasahi pipinya membuat hati Reno sakit. Tanpa berkata apapun lagi Reno membawa Siska ke dalam pelukannya. Benar saja tangis Siska semakin keras dan menumpahkan semua air matanya di dalam pelukan Reno.
" Mas, kenapa kita harus dihadapkan sama masalah sebesar ini. Aku gak mau kehilangan salah satu anak kita, Mas " ucap Siska setelah melepaskan pelukan Reno.
" Mas juga merasakan hal yang sama seperti kamu, Sayang. Tapi kita harus tetap kuat karena Mas yakin kita bisa melewatinya " jawab Reno yang sama dengan Siska tidak ingin kehilangan salah satu buah hati mereka.
Kemudian Reno mengusap air mata Siska dengan kedua ibu jarinya.
" Sayang, tapi kamu apa yakin mau mempertahankan kedua anak kita? " tanya Reno pada Siska.
Mendengar itu entah mengapa Siska malah merasa jika Reno seolah mengatakan jika dirinya ragu dan ingin mengorbankan salah satu buah hati mereka. Mungkin karena dirinya sedang kacau dan tidak baik-baik saja saat ini.
" Jelas aja aku yakin buat mempertahankan kedua anak kita, Mas. Kamu ragu dan gak percaya sama aku? " ucap Siska dengan nada bicara yang cukup tinggi.
Reno langsung terkejut dan ia juga tidak pernah memiliki niat seperti itu. " Enggak Sayang, kamu dengerin aku dulu. Aku gak ragu dan percaya sama kamu tapi aku juga punya ketakutan sendiri. Aku takut kamu juga pergi ninggalin aku karena berusaha mempertahankan kedua anak kita seperti Anisa dulu. Aku gak mau kamu pergi ninggalin aku dan aku juga gak mau kehilangan untuk kedua kalinya " jawab Reno menggenggam kedua tangan Siska dan mengatakan tentang ketakutannya.
" Sama seperti Mbak Anisa, aku juga gak mau kehilangan anak aku dan memilih untuk mempertahankannya. Aku juga seorang ibu Mas, ibu mana yang mau kehilangan anaknya. Aku tetap mau mempertahankan kedua anak aku walaupun nyawa aku sebagai taruhannya " ucap Siska melepaskan kedua tangannya dari genggaman Reno.
" Iya Sayang, Mas ngerti. Tapi tolong ngerti juga kalau Mas gak mau kehilangan kamu, Sayang " ucap Reno agar Siska juga mengerti tentang ketakutannya.
__ADS_1
Siska sangat emosi mendengar itu dan mengira jika Reno memilih kehilangan salah satu buah hati mereka agar tidak kehilangan dirinya padahal belum tentu juga dirinya akan kehilangan nyawa.
" Jadi Mas mau aku bunuh salah satu anak kita? Iya gitu, Mas? " ucap Siska sangat emosi langsung berdiri dari duduknya.
Reno tidak menjawab karena juga bingung harus bagaimana, ia tidak memilih salah satu. Mungkin jika Siska ingin mengorbankan salah satunya mungkin ia akan mendukung itu tapi sekarang Siska ingin mempertahankan kedua buah hati mereka dan mengorbankan nyawanya.
" Kamu diem berarti iya kan, Mas? " bentak Siska kecewa karena Reno hanya diam dan tidak menjawab yang ia artikan jika apa yang ia katakan benar.
" Enggak, Sayang. Aku sama sekali gak ada niat seperti itu " jawab Reno karena ia juga tidak ada niatan untuk Siska membunuh salah satu buah hati mereka.
Siska yang sudah terlanjur kecewa dan emosi serta pikiran yang kacau pun tidak bisa berpikir jernih lagi.
" Enggak usah ngelak lagi, Mas. Kalau kamu gak mau aku mempertahankan kedua anak kita, aku bisa menjaga mereka sendiri tanpa kamu " ucap Siska hendak pergi dari hadapan Reno tapi Reno segera menahan pergelangan tangannya.
Siska segera menghempaskan tangannya hingga tangan Reno terlepas.
" Enggak perlu, aku gak mau mengurus anak-anak aku bersama orang yang gak menginginkan mereka " jawab Siska.
" Aku ayah dari mereka Sayang, mana mungkin aku gak menginginkan mereka " ucap Reni meyakinkan Siska jika apa yang Siska pikirkan itu tidak benar.
Siska hanya tertawa sinis mendengar itu karena baru saja Reno mengatakan seolah tidak menginginkannya dan sekarang mengatakan jika ia menginginkan anaknya.
" Menginginkan mereka kamu bilang? Terus tadi apa? Kamu seolah-olah ingin aku membunuh salah dari mereka. Atau kamu memang enggak menginginkan anak dari aku ya Mas, iya kan. Kamu mempertahankan Nadia dulu dalam kandungan Mbak Anisa walaupun keadaan Mbak Anisa lebih lemah dibanding aku. Tapi saat aku mau mempertahankan kedua anak kita kamu malah seperti ini, Mas " ucap Siska dengan tatapan penuh kecewa.
Entah mengapa tiba-tiba terlintas dalam pikirannya seperti karena memang keadaan Anisa dulu lebih lemah darinya tapi Reno mengizinkan Anisa untuk mempertahankan anak mereka. Hati Siska teramat sakit saat berpikir jika itu memang benar Reno tidak ingin anak dari dirinya.
__ADS_1
Reno sangat terkejut dengan apa yang Siska katakan dan tidak menyangka berpikir seperti itu.
" Astaghfirullah, Sayang. Nadia ataupun anak-anak kita di dalam kandungan kamu itu sama-sama darah daging aku. Aku sudah tentu menginginkan mereka dan menyayangi mereka. Aku mengatakan itu karena aku tidak ingin kehilangan kamu, Sayang " ucap Reno dengan nada sedikit tinggi agar Siska mengerti.
Siska mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur dan semakin menangis serta bingung dengan semua yang harus ia hadapi sekarang.
" Sayang " panggil Reno karena Siska terus menangis dan tidak berbicara apapun lagi.
" Pergi Mas, tinggalin aku sendiri " usir Siska saat Reno ingin menyentuhnya.
Reno mengusap wajahnya kasar dan mungkin ia harus memberikan Siska waktu sendiri untuk berpikir dan menenangkan pikirannya.
" Baiklah, Mas akan keluar sekarang. Tapi Mas gak seperti yang kami pikirkan, Mas cuma gak mau kehilangan kamu Sayang " ucap Reno pada Siska.
Reno mengecup puncak kepala Siska dulu lalu baru ia keluar dari kamar dan membiarkan Siska sendiri.
Setelah Reno keluar dari kamar, Siska merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menangis kembali. Mungkin dengan cara itu ia akan merasa lega dan berpikir lebih jernih lagi.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
__ADS_1