
Siska dan Nadia makan siang bersama setelah melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di mushola yang ada di rumah itu. Mereka makan siang hanya berdua karena Reno belum kembali dan Arisa masih berada di sekolah.
" Mau nambah, Sayang? " tawar Siska pada Nadia.
" Iya Bun " jawab Nadia.
Siska pun menambahkan nasi dan lauk ke dalam piring Nadia lalu mereka lanjut untuk makan siang.
Setelah selesai makan siang, Siska mengajak Nadia untuk tidur siang setelah mereka duduk sebentar di ruang keluarga. Siska akan menemani Nadia hingga Nadia tertidur. Ia bahkan memeluk Nadia seperti permintaan Nadia dan tidak boleh melepaskannya hingga Nadia benar-benar tertidur.
" Ah, kayaknya sudah pules tidurnya " ucap Siska menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Nadia.
Siska melepaskan pelukannya pada tubuh Nadia dengan pelan-pelan agar Nadia tidak merasakan pergerakannya dan terbangun.
" Tidur yang nyenyak ya, Sayang " ucap Siska mengecup kening Nadia sebelum ia bangkit dari tempat tidur Nadia.
Siska turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar Nadia. Siska mencari Bu Ijah untuk bertanya dimana kamar Reno karena ia ingin segera merapikan barang-barang agar nanti ia bisa memasak untuk makan malam.
" Bu, kamar Mas Reno dimana ya? " tanya Siska pada Bu Ijah.
" Kamar Tuan Reno ada di lantai dua, Nyonya " jawab Bu Ijah.
Bu Ijah mengganti panggilannya pada Siska karena Siska sekarang adalah istri dari majikannya.
" Mari saya antar, Nyonya " ucap Bu Ijah.
Siska pun berjalan mengikuti langkah kaki Bu Ijah yang akan membawanya ke kamar Reno.
" Silahkan, Nyonya. Ini kamar Tuan Reno " ucap Bu Ijah saat mereka sudah berada di depan kamar Reno.
" Terima kasih ya, Bu " ucap Siska pada Bu Ijah.
" Iya Nyonya " jawab Bu Ijah.
" Kalau begitu saya pamit dulu ke belakang " ucap Bu Ijah pada Siska.
Siska pun menganggukkan kepalanya.
Setelah Bu Ijah pergi Siska pun membawa ke dua kopernya yang masih berada di depan pintu untuk masuk ke dalam kamar Reno.
" Aduh, berat banget ni dua koper " ucap Siska menarik dua koper itu.
Siska meletakkan dua koper yang berisi barang-barang miliknya itu di sudut ruangan lalu berbalik untuk melihat kamar Reno.
__ADS_1
Deg.
Hati Siska yang sedang merasakan bahagia karena baru menikah dengan Reno langsung terasa seperti ditusuk beribu-ribu duri saat melihat kamar Reno penuh dengan foto mesra antara Reno dan Anisa. Entah Reno lupa untuk melepas semua itu atau memang Reno sengaja tidak melepaskannya karena ia tidak bisa menghilangkan semua kenangan indah dengan Anisa, tapi yang jelas hati Siska terasa sangat sakit melihat itu.
Air mata Siska jatuh membasahi kedua pipinya. Ia hanya diam melihat foto yang terpasang di dinding kamar itu. Rasa ikhlas dan lapang dada yang sedang ia usahakan kini berganti dengan rasa cemburu dan sakit hati melihat itu.
Siska memejamkan matanya dan mencoba untuk tenang menerima kenyataan yang sangat menyakiti hatinya itu.
" Aku seharusnya sudah tau semua ini. Mas Reno gak mungkin mencintai aku. Dia bahkan gak lepas semua kenangan indah bersama Mbak Anisa di kamar yang akan kami tempati ini " ucap Siska dengan hati yang teriris.
Siska menghapus air mata yang membasahi pipinya lalu ia keluar dari kamar itu dengan membawa kedua koper miliknya. Ia tidak bisa tinggal di kamar itu jika masih ada semua kenangan Reno dan Anisa. Ia tidak ingin rumah tangga terus terbayang-bayang dengan masa lalu Reno.
" Bu Ijah " panggil Siska setelah membawa kedua kopernya menuruni tangga.
" Iya Nyonya " jawab Bu Ijah.
Bu Ijah cukup terkejut saat melihat istri dari majikannya itu membawa kopernya kembali.
" Apa di sini masih ada kamar yang kosong? " tanya Siska pada Bu Ijah.
" Iya Nyonya. Di rumah ini masih ada dua kamar tamu yang kosong " jawab Bu Ijah.
" Bisa tolong antarkan saya ke salah satu kamar itu " ucap Siska akan tinggal di kamar itu.
" Maaf Nyonya, tapi kenapa Nyonya ingin kamar yang lain? Bukannya Nyonya akan tinggal di kamar Tuan Reno? " tanya Bu Ijah.
" Saya merasa tidak nyaman di kamar itu, Bu. Jadi saya ingin kamar yang lain " jawab Siska bohong.
" Baiklah, Nyonya. Mari saya antar " ucap Bu Ijah.
Bu Ijah tidak bertanya lagi karena tidak ingin membuat istri dari majikannya itu merasa tidak nyaman karena ia banyak bertanya.
Bu Ijah mengantarkan Siska dan membantunya membawa satu koper milik Siska ke kamar tamu di lantai bawah.
" Terima kasih, Bu " ucap Siska saat sudah berada di depan sebuah kamar.
" Sama-sama, Nyonya " jawab Bu Ijah.
Setelah itu Siska pun masuk ke dalam kamar itu dengan membawa kedua kopernya lalu mengunci pintu itu. Siska merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ada di kamar itu dan menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Ia tidak ingin ada yang tahu jika dirinya sedang menangis sekarang.
" Kenapa kamu lakuin ini sama aku, Mas? Kalau kamu gak cinta sama aku kenapa kamu nikahin aku dan bersikap seolah-olah kamu cinta sama aku? " ucap Siska pelan dalam tangisnya.
Siska terus menangis hingga tanpa sadar ia pun tertidur karena lelah menangis.
__ADS_1
***
Siska terbangun saat waktu menunjukkan pukul empat sore. Siska pun bergegas untuk mandi dan melaksanakan sholat ashar di kamar itu. Setelah itu, Siska keluar dari kamar untuk memasak makan malam.
" Biar saya yang masak untuk makan malam ya, Bu " ucap Siska saat melihat Bu Ijah sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
" Baik Nyonya " jawab Bu Ijah.
Siska pun mulai memasak makan malam dengan dibantu oleh Bu Ijah.
Tiba-tiba Nadia masuk ke dapur dan menghampiri Siska yang sedang memasak.
" Bunda " panggil Nadia.
Siska yang sedang memasak pun langsung menoleh ke arah Nadia. " Eh, sayangnya Bunda sudah bangun " ucap Siska tersenyum.
" Aku tadi cariin Bunda di kamar Ayah tapi Bunda gak ada " ucap Nadia yang kini berdiri di belakang Siska.
" Bunda tadi ketiduran di kamar bawah sayang " jawab Siska.
" Kenapa Bunda gak tidur di kamar Ayah aja? " tanya Nadia pada Siska.
Siska menghembuskan napasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Nadia. Hatinya masih begitu sakit mengingat alasannya tidak ingin tinggal di kamar Reno.
" Bunda gak nyaman di kamar Ayah jadi Bunda di kamar bawah aja " jawab Siska dengan senyum yang terpaksa.
" Kalo Bunda gak nyaman tidur di kamar Ayah. Bunda tidur aja di kamar Nadia sama Nadia " ucap Nadia karena ia pun ingin tidur dengan Siska.
" Baiklah, Bunda akan tidur di kamar Nadia nanti " jawab Siska.
" Sekarang Nadia tunggu di meja makan aja ya. Bunda harus masak sebelum Ayah pulang " ucap Siska pada Nadia.
" Iya Bunda " jawab Nadia.
Nadia pun pergi duduk di meja makan sambil melihat Siska yang sedang memasak.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
__ADS_1