
Reno menuruni tangga dengan wajah yang sangat kusut. Bertepatan dengan itu, Nadia baru pulang dari sekolah. Nadia pun langsung menghampiri Reno yang baru saja menuruni tangga terakhir.
" Assalamualaikum, Ayah " ucap Nadia menghampiri Reno dan mencium tangannya.
" Walaikumsalam, Sayang " jawab Reno tersenyum.
Reno tidak mungkin menunjukkan wajah kusutnya di depan Nadia.
" Bunda mana, Yah? Aku mau ketemu Bunda " tanya Nadia mencari keberadaan ibu sambungnya itu.
" Bunda lagi istirahat di kamar. Kamu nemuin Bunda nanti aja ya, kasian Bunda kecapekan baru pulang dari rumah sakit " jawab Reno memberi alasan.
Walaupun sedikit kecewa tapi Nadia juga mengerti jika ibu sambungnya itu memang sedang beristirahat.
" Ya udah deh. Tapi adik-adik aku gimana, Yah? Apa mereka baik-baik aja? " tanya Nadia antuasias menanyakan tentang kedua calon adiknya.
" Adik-adik kamu baik-baik aja " jawab Reno tersenyum.
" Alhamdulillah kalau gitu, Yah. Aku gak sabar liat mereka berdua lahir " ucap Nadia dengan mata yang berbinar karena ia memang sudah sangat ingin memiliki adik.
Reno hanya bisa tersenyum kecut karena pada kenyataannya jika kedua anaknya lahir ke dunia dengan selamat maka ia harus bersiap jika harus kehilangan istrinya. Mengingat itu Reno kembali dibuat sangat dilema.
" Iya Sayang, Ayah juga " jawab Reno.
" Kalau gitu Nadia sekarang masuk ke dalam kamar, bersih-bersih. Habis itu tunggu azan dzuhur dan sholat lalu terus kita makan siang " ucap Reno pada Nadia.
" Iya Ayah " jawab Nadia menurut.
__ADS_1
Setelah itu Nadia pun langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Reno memilih untuk pergi ke halaman belakang untuk menenangkan diri juga karena bukan hanya Siska yang terluka mendengar kabar itu.
***
Sementara di dalam kamar, Siska sedang memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang penting ke dalam koper. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya dulu untuk menenangkan diri. Hatinya terasa sakit jika mengingat harus mengorbankan salah satu anaknya dan Reno seolah menginginkan itu. Ia sangat mengharapkan anak-anak itu untuk memperkuat hubungannya dan Reno semakin kuat tapi malah apa yang harapkan dari Reno itu berbeda.
Karena terdengar suara azan sudah berkumandang, Siska pun melaksanakan sholat dzuhur dulu sebelum ia pergi dari rumah itu untuk sementara.
" Ya Allah, tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang, tolong berikan hamba kekuatan dalam mempertahankan kedua anak hamba ini. Yang hamba harapkan, kedua anak hamba ini bisa lahir dengan selamat dan hamba juga bisa tetap ada di sisi mereka. Tapi jika memang harus memilih, tolong selamat mereka. Hamba siap jika nyawa hamba sebagai taruhannya untuk mempertahankan mereka. Hamba sangat mohon kepada-Mu, Ya Allah " doa Siska dalam sholatnya.
Siska mengusap air matanya lalu melepaskan mukena yang ia pakai. Siska segera bersiap-siap untuk pulang ke rumah orang tuanya sendiri, tapi sebelum itu ia akan tetap berpamitan pada Reno karena bagaimanapun Reno masih suaminya.
Saat Siska membuka pintu kamar itu untuk keluar, bertepatan dengan Reno yang hendak masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan dan sepertinya itu untuk Siska. Reno sangat terkejut saat melihat Siska sudah rapi dan membawa sebuah koper di kamarnya.
" Sayang, kamu mau kemana? " tanya Reno terkejut.
" Aku mau pulang ke rumah orang tua aku " jawab Siska datar.
" Sayang, tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf kalau aku melukai hati kamu lagi, Sayang. Jangan tinggalin aku dan Nadia ya " ucap Reno berusaha untuk mencegah Siska pulang ke rumah kedua orang tuanya.
" Maaf Mas, tapi keputusan aku sudah bulat. Aku mau pulang ke rumah orang tua aku untuk sementara waktu dan menenangkan diri. Aku minta kamu buat izinin aku pergi " jawab Siska ingin melangkah pergi.
" Sayang, Mas mohon. Jangan tinggalin Mas Sayang " ucap Reno mencegah Siska yang hendak melangkah pergi.
" Aku gak ninggalin kamu, Mas. Aku cuma mau nenangin diri aku dan menyiapkan diri kalau memang kamu gak menginginkan anak-anak aku " jawab Siska memalingkan wajahnya karena tidak ingin Reno melihat jika dirinya hendak menangis lagi.
" Sayang, Mas sangat menginginkan anak dari kamu. Kamu salah mengerti apa yang Mas katakan. Mas cuma takut kehilangan kamu, bukan berarti gak menginginkan anak-anak dari kamu " ucap Reno agar Siska tidak berpikir seperti itu lagi.
__ADS_1
" Ya sudah, kalau begitu izinkan aku pulang ke rumah kedua orang tua aku. Aku cuma mau nenangin diri aku dan kalau sudah tenang aku bakal kembali lagi " ucap Siska pada Reno.
Reno pun tidak punya pilihan lain selain mengizinkan Siska untuk pulang ke rumah orang tuanya. Biarlah Siska menenangkan diri dari pada ia tetap di sana dan tertekan maka itu juga akan semakin buruk pada kandungannya.
" Baiklah, Mas izinkan kamu pulang ke rumah kedua orang tua kamu. Tapi Mas yang antar kamu karena Mas khawatir kamu pergi sendiri dan Mas juga gak mau kedua orang tua kamu menganggap Mas sebagai suami yang gak bertanggung jawab " jawab Reno pada akhirnya mengalah.
Siska pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban jika ia mau diantar oleh Reno.
" Aku mau kita pergi sekarang " pinta Siska dengan suara yang sangat dingin.
" Dan aku juga gak mau berpamitan sama Nadia karena aku pasti berat buat pergi kalau liat Nadia. Kalau dia tanya nanti bilang aja aku lagi kangen sama kedua orang tua aku " lanjut Siska lalu langsung pergi keluar dari kamar.
Reno hanya menghela napasnya panjang dan mengikuti Siska dengan membawa koper milik Siska. Ia harus lebih banyak mengalah sekarang dan membuat Siska tidak semakin tertekan dengan keadaan yang sangat sulit untuk Siska.
Siska masuk ke dalam mobil lebih dulu, sedangkan Reno memasukkan koper milik Siska ke dalam bagasi lalu baru masuk ke dalam mobil.
Siska mengusap air mata yang jatuh kembali, ia merasa sangat berat sebenarnya meninggalkan rumah itu walau untuk sementara. Apalagi ia sudah terbiasa dengan Nadia dan Nadia pasti akan melarangnya untuk pergi. Tapi itu semua sudah menjadi keputusannya agar ia lebih tenang.
" Sayang, aku mohon kamu jangan lama-lama ya. Mas gak bisa jauh dari kami, begitu juga Nadia yang bakal terus cari Bundanya " ucap Reno pada Siska di dalam mobil.
" Kita lihat aja nanti, Mas " jawab Siska lalu mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah jendela.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua selama perjalanan karena Reno tidak ingin membuat Siska tidak nyaman.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
__ADS_1
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘