
" Jim, kenapa kau tidak bertanya pada ku jumlah pengunjung cafe di tempat ku bekerja" ujar Novi menyela pembicaraan antara Jimy dan Dokter Rini. membuat Jimy dan Dokter Rini langsung menghentikan pembicaraan dan menatap pada Novi.
" Kalau boleh tahu kau bekerja sebagai apa?" tanya Dokter Rini yang merasa tidak senang pembicaraan dirinya dengan Jimy di putus tiba tiba.
" Aku pelayan di cafe X dan kau tahu pemilik cafe itu adalah temanku" ujar Novi dengan bangga.
" Ohh pelayan...." ujar Dokter Rini dengan senyum yang menyepelekan.
" Memang nya kenapa kalau aku seorang pelayan, aku bangga dengan pekerjaan ku. karena aku bekerja keras tidak mengandalkan harta orang tua untuk mendapat kan pekerjaan yang baik " ujar Novi membalas perkataan Dokter Rini.
" Memang nya aku salah jika aku bekerja sebagai Dokter karena orang tua ku mampu...?" tanya Dokter Rini tak kalah sengit.
" Tidak salah dan seharusnya kau bersyukur untuk itu dan tidak menghina pekerjaan orang lain yang lebih rendah darimu" ujar Novi dengan senyum kemenangan di wajah nya. karena Dokter Rini langsung terdiam tidak membalas perkataan nya lagi.
Jimy yang sedari tadi terdiam hanya mendengarkan perdebatan dari kedua wanita yang ada di depan dan di sampingnya itu.ada sebuah senyuman kecil terlihat dari wajah datar nya.
__ADS_1
" Jika kalian sudah selesai lebih baik kita pulang...!" ujar Jimy langsung berdiri dan membayar semua makanan tadi.
Dokter Rini pun langsung mengikuti Jimy berjalan di samping nya.sedangkan Novi berjalan di belakang mereka seperti seorang pembantu.
" Jim...lebih baik kita mengantar Novi pulang lebih dulu " ujar Dokter Rini karena ia masih ingin berdua dengan Jimy.
" Aku akan mengantar mu pulang dulu karena tempat mu lebih dekat " ujar Jimy dengan singkat menatap ke arah spion untuk melihat wajah Novi yang masih terdiam bermain dengan ponsel nya.seakan akan tidak memperdulikan keadaan di sekitar nya.
Setelah mengantar Dokter Rini pulang Jimy membuka pintu mobil belakang dan menyuruh nya keluar.
" Keluarlah...!" ujar jimy. Novi pun keluar dari mobil Jimy dan menyadari dirinya tidak akan di antar sampai rumah nya.
" Kau mau kemana..?" Jimy menatap tajam pada Novi.
" Pulang, bukan kah kau menyuruh ku keluar..?" ujar Novi dengan wajah binggung.
__ADS_1
" Aku menyuruh mu keluar untuk pindah tempat duduk, karena aku ini bukan supirmu" ujar Jimy membuka pintu depan mobilnya.
" Terima kasih, tapi lebih baik aku naik taksi online saja" belum sempat pergi tangan Jimy sudah menarik Novi masuk ke dalam mobil.
" Kau itu kasar sekali..." gerutu Novi pada Jimy dengan mengelus tangan nya. Jimy hanya menatap sekilas pada Novi dan menjalankan mobilnya.
" Kenapa kau jadi pendiam...?" tanya Jimy karena dari tadi Novi hanya diam tidak berbicara sama sekali.
"Kalau aku berbicara memang nya kau membalas semua perkataan ku?" ujar Novi dengan wajah kesal.
" Setidak nya aku mendengarkan mu" jawab Jimy dengan singkat. sementara Novi hanya memalingkan wajah nya ke arah jendela mobil.
" Ya kau mendengarkan ku tapi aku seperti orang gila berbicara sendiri..." gumam Novi dalam hati sambil menarik nafas nya dengan panjang.
" Kenapa kau masih diam, padahal aku sudah menyiapkan sesuatu untuk ku pasang" ujar Jimy.
__ADS_1
" Memang nya apa yang akan kau pasang" tanya Novi tidak mengerti.
" Ini..." Jimy menunjukan headset nya ke arah Novi yang membuat Novi langsung memukul lengan Jimy dengan keras. Jimy langsung tertawa melihat wajah Novi yang merah karena kesal kepada nya.