
"Tentu saja aku ingat, bahkan disitu tertulis dengan jelas bahwa kau tidak akan pernah menyentuhku." Nayra semakin emosi.
"Tapi kau lupa pada poin pertama, kau harus selalu mematuhi semua perintahku dan aku selalu benar. Itu artinya apapun yang aku perintahkan kau harus melakukannya, termasuk memberikan tubuhmu padaku." Kenzo mendekatkan wajahnya, mengangkat dagu Nayra. Lalu menciumnya dengan sangat kasar.
Nayra yang terkejut, berusaha melepaskan ciuman itu dengan menggigit bibir tuan Kenzo. Membuat Kenzo kesakitan dan mau tidak mau melepaskan ciumannya.
"Plak .. "
Suara tamparan yang begitu keras menggema di ruang makan. Hingga membuat Jimy langsung terkejut, dengan apa yang dilihatnya. Seorang tuan Kenzo Arbeto, ditampar oleh seorang wanita.
"Kau, berani kau menamparku!" Kenzo menatap Nayra dengan tatapan membunuh. Kenzo merasa terhina, karena selama ini tidak ada yang berani menolaknya bahkan menampar dirinya. Apa lagi dari seorang gadis biasa seperti Nayra.
Nayra yang menyadari tindakannya yang kelewat batas, merasa ketakutan saat melihat ekspresi tuan Kenzo yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Begitu dingin dan menakutkan, tatapan matanya setajam pisau yang siap merobek-robek tubuhnya.
jimy yang menyadari situasinya sudah sangat panas, langsung berusaha menenangkan tuannya.
"Tuan, sebaiknya kita berangkat! Karena pagi ini kita ada jadwal meeting." Jimy berbicara dengan hati-hati, agar tuan Kenzo tidak semakin marah.
Kenzo yang masih emosi, berusaha meredakan amarahnya. Dan sebelum beranjak dari ruang makan, Kenzo memanggil kepala pelayanan.
__ADS_1
"Pak Li, suruh pelayan wanita untuk membersihkan tubuh Nayra. Persiapkan dia untuk malam ini." Perintah Kenzo.
"Baik tuan." Jawab Pak Li.
"A-apa maksud anda, tuan?" Nayra sudah mulai ketakutan.
"Malam ini akan aku tunjukan, bahwa tubuhmu itu sudah aku beli." Kenzo tersenyum sinis. "Jim, kau tempatkan beberapa pengawal di mansion ini. Aku tidak ingin gadis bodoh ini melarikan diri." Perintah Kenzo, berlalu pergi meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Nayra yang masih terlihat shock.
"Kenapa jadi begini?" tanpa terasa air mata yang sedari tadi ditahannya, jatuh kepipinya.
"Nyonya, silahkan masuk ke dalam kamar!"
"Pa Li, aku ijin keluar sebentar. Karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan." Pinta Nayra, dengan tangan tangan yang menghapus air matanya.
"Maaf nyonya, tuan sudah melarang nyonya untuk keluar kamar. Dan lihatlah para pengawal itu! Mereka semua tidak akan membiarkan nyonya keluar dari mansion." Pak Li menunjuk beberapa pengawal.
Nayra pun melihat sekelilingnya, terlihat para pria berbaju hitam berada di setiap sudut mansion.
"Tapi Pak Li ... " Nayra memohon pada kepala masion.
__ADS_1
Pak Li hanya diam, dan langsung memerintahkan para pelayan wanita untuk membawa nyonya Nayra masuk ke dalam kamar. Dan Nayra pun mau tidak mau, hanya bisa pasrah mengikuti para pelayan wanita.
...🍀🍀🍀...
Di dalam mobil.
Setelah setangah jam berlalu, Jimy yang berada di dalam mobil dengan tuan Kenzo. Melirik sekilas pada tuannya, yang sedang menatap intens pada layar ponsel yang sedari tadi berdering.
"Tuan, rencana untuk membeli Cafe Black White bagaimana?"
"Kau eksekusi, berapa pun harganya!" Kenzo menjawab acuh, wajahnya tersenyum melihat ke arah ponsel.
Jimy yang melihat sikap tuannya, sudah mulai membaik bahkan terlihat tersenyum. Kini bisa menarik napasnya dengan lega.
"Malam ini apa tuan akan -- "
"Jim, apa kau ingin mati!" Kenzo menatap sekilas pada Jimy, lalu kembali menatap ponsel miliknya.
Jimy hanya tersenyum tipis, lalu mulai merasa penasaran dengan orang yang sedang berkomunikasi dengan tuan Kenzo. Karena orang tersebut, susah berhasil membuat amarah tuan Kenzo lenyap begitu saja.
__ADS_1