
Satu minggu kemudian
Nyonya Jenita yang sudah pulang ke negaranya membuat keadaan apartemen kembali seperti semula. Novi kembali menempati kamarnya yang sempat dipakai oleh Nyonya Jenita.
"Jim, ada yang ingin aku sampaikan padamu" ujar Novi dengan wajah yang ragu ragu. "Tapi sebelum aku katakan, aku mempunyai satu permintaan padamu"
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Jimy.
"Aku akan mengatakannya tapi kau harus janji satu hal padaku" pinta Novi.
Jimy menatap Novi yang duduk dihadapannya. "Kalau kau tidak mau mengatakan nya, lebih baik jangan dikatakan" ujar Jimy yang kembali sibuk dengan laptopnya.
"Ini mengenai Ana" ujar Novi, membuat Jimy langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Novi dengan intens.
"Apa yang ingin kau katakan tentang Ana?" tanya Jimy masih menatap Novi dengan intens.
"Aku akan mengatakan semua yang kutahu tentang Ana, tapi kau harus berjanji satu hal dulu padaku" pinta Novi.
__ADS_1
"Berjanji apa?"
"Kau harus berjanji, tidak boleh marah pada kedua orang tua" ujar Novi.
Jimy sempat berfikir sejenak, masih dengan menatap Novi. " Baiklah, aku berjanji tidak akan marah pada kedua orang tuaku" ucap Jimy.
"Aku mohon kau harus menepati janjimu itu" pinta Novi meyakinkan pada Jimy.
"Aku akan menepati janjiku, cepat katakan" seru Jimy, yang sudah tidak sabar mendapatkan info tentang wanita yang dicintainya.
"Mom Jenita mengetahui semuanya pada saat Mom menemui Ana untuk memintanya kembali padamu, tapi Ana menolak permintaan mom Jenita karena Ana tidak ingin merepotkanmu. karena pada saat itu Ana sedang menjalani pengobatan pada penyakitnya. Ana pun berpesan pada Mom dan Dad untuk tidak memberitahukanmu, apa yang sebenarnya terjadi. jadi aku minta padamu, jangan pernah menyalahkan kedua orang tuamu. karena tidak menceritakan penyebab Ana meninggalkan mu." ujar Novi dengan menghela nafasnya.
Baru saja Novi selesai berbicara, Jimy sudah beranjak dari tempat duduknya. "Kau mau kemana?" tanya Novi ikut berdiri dari tempat duduknya.
"Aku akan mencari Ana" jawab Jimy.
"Deg" jantung Novi serasa ditusuk oleh pisau yang tajam, seperti istilah yang mengatakan sakit tak berdarah itulah yang dirasakannya kini.
__ADS_1
"Tunggu.... !" pekik Novi. membuat langkah Jimy terhenti.
"Kau harus ingat dengan janjimu" lirih Novi.
"Aku orang yang selalu menepati janjiku" Jimy pun kembali berjalan melangkah pergi dari Apartemennya.
Kini Novi terdiam dalam kesendiriannya,dirinya binggung harus bahagia atau kah bersedih melihat Jimy yang pergi mencari Ana cinta sejatinya.
"Jika Jimy menemukan cintanya, aku harus bagaimana?"lirih Novi pada dirinya sendiri. "Apakah aku salah jika menginginkan Jimy tetap disisiku, sebagai suami dan calon ayah dari anak anak ku kelak" gumam Novi yang tak terasa sudah menenteskan air matanya.
"Kamu itu bodoh Novi, kau kan sudah tahu Jimy tidak pernah mencintaimu. kenapa kau masih menangis untuk nya, untuk cinta yang tidak pernah dimilikimu" umpat Novi pada dirinya sendiri.
Hari berganti hari dan minggu berganti minggu, sudah sebulan lamanya Jimy sibuk mencari Ana tanpa mengenal lelah sedikitpun. Jimy terus mencari keberadaan Ana, wanita yang sangat di cintainya. hingga dirinya melupakan keberadaan Novi wanita yang selalu setia berada disisi nya.
Dengan sabar Novi pun masih mengurusi segala kebutuhan dan keperluan Jimy. Novi tidak pernah berubah sedikitpun, selalu berusaha menghibur Jimy dengan tingkahnya yang gesrek dan celotehannya yang tidak pernah berhenti jika sudah berbicara.
Hanya satu yang berubah dalam kehidupan Novi dan jimy, sudah tidak ada senyum di wajah Jimy setiap kali Novi berusaha menghiburnya. Jimy seperti tenggelam pada dirinya sendiri mencari Ana, tanpa mempedulikan orang di sekitarnya. termasuk pada Novi istri yang selalu disisinya.
__ADS_1