
Novi yang sudah sampai di Negaranya memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya, dirinya tidak sanggup jika harus kembali ke apartemen Jimy yang penuh dengan kenangan dirinya bersama Jimy.
Setelah sampai Novi pun menceritakan semua yang terjadi pada Bapak dan Ibunya, Bapak Anto berusaha menguatkan putrinya sementara sang ibu justru memarahi dirinya karena pergi meninggalkan suaminya bersama dengan sang mantan.
"Kamu itu Novi, jadi perempuan kok bodohnya minta ampun. masa suami ditinggal pergi sama mantannya, seharusnya kamu itu jangan memberikan kesempatan pada pelakor," ucap Ibu Nani dengan berapi api.
"Sudahlah Bu, anak pulang lagi sedih kok malah di marahi" ujar Pak Anto ayah Novi.
"Ya habis Ibu tuh kesal sama sifat bodohnya itu, sudah punya suami kaya tampan bule. bisa merubah keturunan kok ya malah di tinggal" gerutu Ibu Nani pada Novi.
"Nak, lebih baik kau istirahat. jangan dengarkan ocehan Ibu mu" ujar Pak Anto.
"Bapak tuh terlalu memanjakan anak kita, makanya dia itu jadi seperti sekarang ini." omel Ibu Nani pada suaminya.
Novi yang merasa berisik mendengarkan ocehan ibunya, langsung masuk kedalam kamarnya. Novi merebahkan dirinya di atas tempat tidur untuk beristirahat, karena tubuhnya benar benar lelah setelah menempuh perjalananan yang jauh. namun belum sempat tertidur Novi menatap layar ponselnya yang berdering.
"Apa kau sudah sampai?" tanya Jimy yang sedang berada ditaman rumah sakit tempat Ana dirawat.
"Sudah" jawab Novi dengan singkat.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak pulang ke Apartemen?"
Novi yang mendengar pertanyaan Jimy langsung bangun dari tidurnya.
"Kenapa kau bisa tahu aku tidak pulang ke Apartemen?" tanya Novi menatap pada kaca jendela kamarnya melihat kepekarangan depan rumahnya.
"Kau pikir aku setega itu membiarkan istriku pulang tanpa ada yang mengawasi!" seru Jimy.
"Aku bukan anak kecil yang harus di awasi," Novi kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
"Apa kau merindukan ku?" tanya Jimy
"Tidak" jawab Novi asal.
"Nov, kau masih mendengarkan ku?" tanya Jimy.
"Jim, apa lebih baik kita----" Novi tidak meneruskan perkataannya.
"Kau jangan berfikiran macam macam, aku menyuruhmu pulang bukan untuk berpisah dengan mu" ucap Jimy. "Dengarkan aku, tunggulah aku dan aku pasti akan menjemputmu" ucap Jimy.
__ADS_1
"Aku harus menutup ponselnya, nanti aku akan menghubungimu lagi" Jimy langsung mematikan ponselnya.
Novi pun hanya diam dan termenung menatap ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi.
Satu minggu kemudian
"Novi" teriak Ibunya karena merasa kesal dengan perbuatan putrinya itu.
"Ibu menyuruhmu menggoreng ikan, bukan membuat ikan tenggelam didalam minyak" ujar Ibu Nani dengan berkacak pinggang melihat wajan yang berisi minyak goreng yang sangat penuh hingga membuat ikan yang hanya satu biji itu tenggelam."
"Dasar ikannya aja yang gak ada ahlaknya bu, dikasih minyak goreng sedikit pasti nyiprat nyiprat minyaknya. kan panas kalau kena tangan atau muka, eh giliran dikasih minyak banyak dia malah tengelam." jawab Novi asal. "Membuat ibu Nani memukul lengan Novi dengan keras.
"Sakit bu" teriak Novi.
"Kamu ini kelamaan ditinggal suami, jadi gesrek otaknya." ketus Ibu Nani.
"Novi cuma becanda Bu," sungut Novi dengan memgerucutkan bibirnya.
"Sudah sana kau itu jalan jalan, pergi ke mansion kawan mu yang kaya itu. atau kemana saja terserah, jangan mengurung diri dikamar terus." ujar sang Ibunda.
__ADS_1
"Iya Bu," seru Novi berjalan meninggalkan Ibunya yang menatap punggung putrinya dengan perasaan bersedih.
"Kenapa nasib percintaan putriku selalu gagal, yang pertama berpacaran bertahun tahun eh malah ditinggal kawin. sekarang sudah dapat bule kaya eh malah ditinggal juga." gumam Ibu Nani menggelengkan kepalanya.