
"Maafkan aku," ucap Jimy memegang tangan Novi dengan hati-hati.
Novi yang mendengar ucapan Jimy hanya diam saja menatap Jimy dengan tatapan sayunya, Novi akhirnya mengingat kembali kenapa dirinya bisa berada di Rumah sakit.
"Jimy, waktu itu aku ingin menyusulmu tapi ----" Novi pun menangis dengan sangat keras. Jimy yang mendengar penuturan Novi, langsung memeluk istrinya itu.
"Maafkan aku, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu lagi." bisik Jimy.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, karena keegoisanku. aku membahayakan anak kita," ujar Novi dengan terisak.
"Aku yang salah sayang," ujar Jimy mencium bibir Novi dengan lembut.
Kedua orang tua Novi dan juga Mom Jenita yang melihat Novi dan Jimy, merasa sangat terharu. dengan perlahan mereka pun keluar dari ruangan itu. memberikan ruang bagi Jimy dan Novi untuk saling melepas rindu.
"Jadi aku koma selama dua bulan?" tanya Novi dengan wajah yang terkejut.
"Ya," jawab Jimy mengelus rambut Novi.
"Anak kita?" tanya Novi memandang perutnya.
"Anak kita itu kuat seperti Ibunya," jawab Jimy yang hendak mencium bibir Novi. namun langsung di tahan oleh tangan Novi.
"Jim, bercukurlah! aku geli" ujar Novi memegang wajah suaminya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan bercukur, tapi nanti." ucap Jimy yang langsung ******* bibir Novi. Novi yang mendapatkan serangan mendadak hanya bisa menahan kegeliannya
Satu minggu kemudian.
Novi yang sudah di perbolehkan untuk pulang, memilih untuk tinggal di Apartemen Jimy. Novi sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu mengikuti kemana pun suaminya berada, karena Jimy pun sudah berjanji padanya tidak akan meninggalkan Novi lagi.
"Bukalah mulutmu!" seru Jimy.
"Aku sudah kenyang," ujar Novi.
"Ini untuk Baby kita, ayo buka mulutmu!" Jimy menyuapkan buah apel ke mulut Novi.
Dengan terpaksa Novi pun memakan buah Apel itu dengan wajah yang cemberut karena perutnya sudah sangat kenyang.
"Jimy, Novi, kapan kalian akan pulang ke Paris?" tanya Mom Jenita.
"Aku,---" Novi melirik kearah suaminya.
"Sampai Novi melahirkan," ujar Jimy, yang langsung mendapatkan sebuah senyuman dari Novi.
"Baiklah Mom mengerti," ujar Mom Jenita. "Sebelum Mom pergi, Mom ingin menyerahkan ini pada kalian."
"Apa ini Mom?" tanya Jimy memegang sebuah Amplop yang di berikan oleh Mom Jenita.
__ADS_1
"Bacalah! tadinya Mom ingin langsung memberikannya padamu, tapi melihat kondisi yang tidak memungkinkan. akhirnya Mom menundanya,"
Jimy pun membuka amplop itu dan di baca bersamaan dengan Novi.
Teruntuk Jimy
"Jimy, aku sangat berterima kasih banyak padamu. di saat-saat terakhirku kau mau meluangkan waktumu untuk menjagaku, terima kasih karena kau sudah memberikan yang terbaik untuk pengobatan penyakitku. kau adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui, selamanya kau akan selalu menempati ruang dihatiku yang paling dalam. baik itu sebagai mantan kekasih dan juga sebagai sahabat, aku juga ingin meminta maaf padamu dan juga istrimu. aku sudah mendengar semuanya dari Mom Jenita, karena aku kalian mengalami musibah. aku sangat merasa bersalah pada kalian, tolong sampaikan permintaan maafku pada Novi. dan satu permintaan terakhirku adalah melihat kalian berdua hidup bahagia,Terima kasih atas semuanya,"
Ana.
"Itu surat terakhir yang di tinggalkan Ana untuk kalian." ujar Mom Jenita dengan raut wajah yang sedih.
"Maksud Mom, Ana ---?" Novi menutup mulutnya dengan tangannya. Sementara Jimy hanya terdiam dan memasukan kembali surat tersebut ke dalam amplop.
"Ana Sudah meninggal," lirih Mom Jenita.
Novi yang mendengar ucapan Mom Jenita langsung menangis, Novi merasa sangat bersalah. karena ke egoisannya membuat Ana tidak bisa melihat Jimy untuk yang terakhir kalinya.
"Jim, maafkan aku!" lirih Novi menatap wajah Jimy.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan," ucap Jimy menghapus air mata Novi dan memeluknya dengan erat.
"Dengan kejadian ini, Mom harap kalian tidak akan bertengkar lagi. ingatlah ada keinginan dan doa Ana yang terakhir yaitu melihat kalian bahagia." ujar Mom Jenita tersenyum pada Jimy dan Novi.
__ADS_1