
"Mau mu itu apa Jim? aku sudah katakan padamu, aku tidak mau ikut pulang." Novi yang sudah berada di dalam mobil Jimy terus saja menggertu dengan segala ocehannya.
"Kau itu istriku, kau harus ikut kemana pun aku tinggal!" Seru Jimy menatap Novi yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak mau pulang, kalau ujung ujungnya aku akan dipulangkan kembali," sungut Novi dengan wajah yang semakin cemberut.
"Aku tidak pernah memulangkanmu, apa kau lupa kalau kau yang meminta untuk pulang?" ujar Jimy mengerutkan keningnya
"Walaupun aku yang meminta pulang, tapi seharusnya kau mencegahku!" Novi semakin kesal dengan sikap Jimy yang tidak pernah peka terhadap perasaannya.
"Aku tidak mengerti dengan keinginanmu, pertama kau meminta pulang aku ijinkan pulang. tapi sekarang kau mengatakan aku tidak mencegahmu. kedua, waktu itu aku sudah memutuskan untuk tidak mencari Ana. tapi kau mendukungku untuk mencari Ana dan disaat aku bertemu dengannya Kau marah," ujar Jimy menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Jim, aku tidak mau berdebat" ujar Novi masih dengan wajah cemberutnya. Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam Novi pun mengakui kesalahan dirinya yang justru meminta pulang, bukannya terus berada disisi suaminya itu menemaninya mengurus Ana.
Jimy pun menarik nafasnya dengan sangat berat dan terus menatap pada istrinya itu, selama dua minggu tidak bertemu dengan Novi. Jimy merasa banyak sekali perubahan dari sifat Novi, yang semakin keras kepala dan sulit sekali untuk menuruti keinginannya. dan perubahan yang paling terlihat yang membuat Jimy terkejut adalah tubuh Novi yang tampak semakin berisi.
"Jangan melihatku terus!" seru Novi yang tahu jika dirinya dari tadi dilihat oleh Suaminya.
"Kenapa aku merasa kau semakin berisi?" tanya Jimy membuat Novi binggung untuk menjawab apa.
__ADS_1
"Katakan saja kalau aku sekarang gemuk, tidak usah memakai istilah berisi!" gerutu Novi memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
"Sayang, kenapa berbicara denganmu selalu saja aku yang salah. aku tidak bermaksud mengatakan kau gemuk, aku hanya bilang-----" belum sempat meneruskan perkataanya. Novi sudah meminta Pak supir untuk menghentikan mobil yang mereka tumpangi.
"Terima kasih sudah mengantarku," ujar Novi. "Dan satu lagi, jangan menjemputku." ucap Novi dengan ketus.
"Aku tidak mengatakan akan menjemputmu," ujar Jimy dengan senyum menggodanya, membuat wajah Novi langsung memerah seketika menahan malu.
Dengan berjalan cepat Novi pun memasuki gedung perusahaan Dion, tanpa menoleh ke belakang. "Kamu itu gr sekali sih Nov, pake mikir Jimy akan menjemputmu," gumam Novi merutuki perkataannya pada Jimy.
Jimy yang masih di dalam mobil tersenyum menatap punggung istrinya itu. Sudah lama sekali Jimy tidak bisa tersenyum dan menggoda istrinya itu, dan itu sangat membuat dirinya rindu pada semua tingkah Novi.
"Kita kemana Tuan?" tanya Pak supir pada Jimy.
"Drt... drt" Jimy menatap ponselnya yang berbunyi.
"Jim, kapan kau pulang kesini?" tanya Ana dengan suara yang terdengar sangat lemah.
"Aku masih belum tahu, aku usahakan secepat mungkin." jawab Jimy.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," ucap Ana dengan lirih. Jimy yang mendengar perkataan Ana hanya diam saja.
"Kapan jadwal kemoterapi selanjutnya?" tanya Jimy mengalihkan perkataan Ana.
"Tiga hari lagi, dan aku mohon kau ada disisi ku menemaniku menjalani kemoterapi ini," pinta Ana.
"Aku akan ada di sana, aku janji padamu" ucap Jimy.
Jimy yang sudah menutup ponselnya kembali terdiam, dirinya merasa sangat binggung. disatu sisi dirinya ingin menemani Ana berjuang melawan penyakitnya, namun disisi lain dirinya pun tidak bisa jika harus meninggalkan Novi disini.
"Aku harus secepatnya membujuk Novi untuk ikut denganku," gumam Jimy dalam hati.
..............
"Jadi apa kau akan memutuskan untuk ikut dengan Jimy?" tanya Dion yang kini berada di satu ruangan bersama Novi.
"Entahlah, aku binggung."
"Kenapa kau harus binggung, jika kau memang masih mencintainya ikutlah dengannya. tapi kalau kau merasa sudah tidak mencintainya, tinggalah disini!" ujar Dion.
__ADS_1
"Ini bukan masalah cinta atau tidak cinta, tapi ini masalah sebuah komitmen dalam suatu hubungan. Aku ingin Jimy memutuskan siapa orang yang paling penting dalam hidupnya."
"Good job Nov, aku senang kau sekarang punya pendirian yang teguh. Tapi sifat gesrekmu itu jangan dihilangkan, karena sifat gesrekmu membuatku terhibur," ujar Dion yang langsung dilempar buku oleh Novi. mereka berdua pun langsung tertawa bersamaan.