
"Tapi aku ingin Novi mendapatkan perawatan yang terbaik," ujar jimy dengan suara yang frustasi. "Aku tidak ingin melihat Novi koma seperti itu." lirih Jimy.
"Kau percayalah padaku, aku akan membawa seluruh peralatanku yang canggih dari Luar, dan aku akan membawa Dokter yang terbaik untuk menggantikan ku jika kau tidak percaya padaku." ujar Ricardo.
"Bukan aku tidak percaya padamu, tapi ----"
"Aku tahu perasaanmu, kau tenanglah Aku dan terutama Big Bos kita pasti akan memberikan yang terbaik untuk istrimu." ucap Ricardo memegang pundak sahabatnya itu.
"Tuan Kenzo sudah tahu?" tanya Jimy.
"Tentu saja dia tahu,?" ujar Ricardo. "Kau tahu sendiri siapa itu Tuan Kenzo Arbeto? ujar Ricardo dengan tertawa kecil.
"Pantas saja telinga ku ini gatal, ternyata kalian yang sedang membicarakanku" ujar Kenzo yang berjalan bersama dengan Nayra.
"Jim, bagaimana Novi?" tanya Nayra dengan wajah cemasnya.
"Novi saat ini mengalami koma," jawab Jimy dengan suara yang lirih.
"Kau itu, kenapa selalu membuat sahabatku sakit!" ujar Nayra dengan memukul dada Jimy dengan sangat keras.
"Sayang, kenapa kau jadi barbar seperti ini!" ujar Kenzo yang langsung menghentikan tangan Nayra yang masih memukul Jimy.
__ADS_1
"Sahabatku koma karena dia," ujar Nayra dengan menangis. membuat Kenzo langsung memeluk istri kesayangannya itu dengan erat.
"Kalau sampai terjadi apa-apa pada Novi dan bayinya aku akan membunuhmu," bentak Nayra yang langsung berjalan melewati Jimy.
Kenzo yang baru pertama kali melihat kemarahan Nayra hanya bisa diam dengan menelan salivanya dengan susah.
"Wow, istrimu itu mengerikan sekali" bisik Ricardo pada kenzo.
"Kau mau mati!" bentak Kenzo dengan menatap tajam Ricardo. sementara Jimy hanya diam saja dengan perasaan bersalahnya.
Baru berjalan beberapa langkah, Nayra kembali berjalan ke arah Kenzo, Jimy, dan Ricardo. "Di mana ruang rawat Novi?" tanya Nayra tanpa menatap Jimy.
"Biar Aku yang antar," ujar Ricardo yang berusaha lepas dari tatapan tajam Tuan Kenzo.
"Kau harus kuat," ujar Kenzo menepuk bahu mantan anak buahnya sekaligus sahabat terbaiknya.
Kenzo pun langsung berjalan ke arah Nayra dengan gaya coolnya meninggalkan Jimy yang masih termenung di tempatnya.
Kenzo yang sudah berada di ruang rawat Novi, melihat istri tercintanya itu menangis dengan sangat sedih. Kenzo yang tidak bisa melihat Nayra menangis langsung memerintahkan Ricardo untuk secepatnya membawa semua peralatan medis yang terbaik, dan membawa Dokter ahli untuk membantu Ricardo menyembuhkan Novi.
"Jim, kau berhutang banyak padaku," ujar Kenzo yang sudah berada di luar bersama Jimy dan Ricardo.
__ADS_1
"Aku tahu tuan, dan aku akan membayarnya suatu saat nanti." ucap Jimy.
"Aku pegang ucapanmu" ujar kenzo.
"Dan Kau tahu, aku baru kali ini melihat istriku menangis seperti tadi. aku saja sebagai suaminya belum pernah di tangisi seperti itu." ucap Kenzo menghela nafasnya dengan panjang.
"Kau bisa mendapatkan tangisan histeris dari istrimu kalau kau mau" ucap Ricardo dengan suara datarnya.
"Bagaimana caranya?" tanya Kenzo dengan semangat.
"Kau mati dulu, baru istrimu itu akan menangis histeris seperti tadi dan bahkan tangisnya akan jauh lebih menyayat hati". ujar Ricardo dengan tertawa keras.
Tawa itu pun langsung berhenti, karena kini dirinya merasakan sebuah tatapan tajam yang sangat membunuh.
"Maafkan aku Tuan, aku hanya bercanda. lagi pula aku belum mau mati, karena aku belum punya seorang isteri yang akan menangisi kematianku" ucap Ricardo dengan wajah memelasnya. membuat Jimy tersenyum kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Ricardo dan Kenzo yang melihat Jimy tersenyum akhirnya merasa lega, karena dari tadi Jimy hanya diam saja.
"Ricardo, tolong Novi ----- " teriak Nayra dengan wajah cemasnya keluar dari ruang rawat.
Ricardo yang mengerti langsung masuk kedalam ruang rawat dengan di ikuti oleh Jimy yang berlari dengan cepat.
__ADS_1
Jimy yang masuk kedalam ruang rawat, melihat kearah monitor ICU di mana detak jantung Novi terlihat melemah. dengan seketika lututnya serasa tidak bisa menopang seluruh tubuhnya.
Perawat yang berada di dalam ruangan langsung menyuruh semua orang yang ada di dalam segera keluar. Ibu dan Bapak Novi yang semula berada di dalam pun langsung keluar, sementara Jimy masih diam berdiri menatap wajah Novi dengan lekat. wajah yang terlihat pucat dengan kedua matanya yang tertutup rapat.