
Dua bulan kemudian.
Sudah dua bulan lamanya Jimy terus berada di sisi Novi yang masih dalam keadaan koma, Jimy bahkan tidak mau beranjak sedikitpun meninggalkan Novi. dirinya takut kejadian dua bulan yang lalu saat dirinya berada di luar kamar, Novi hampir saja pergi meninggalkan dirinya.
"Jim, makanlah dulu." ujar Ibu Nani menatap pada menantunya.
Ibu Nani tampak bersedih melihat keadaan putrinya yang sudah dua bulan koma, dengan perut yang sudah mulai membuncit Novi masih juga tidak sadarkan diri.
"Aku tidak lapar." jawab Jimy yang berada di sisi Novi dengan memegang tangan Novi dengan erat.
"Tapi Nak, kau harus makan. kalau kau sakit siapa yang akan menjaga Novi," ujar Ibu Nani berusaha membujuk menantunya itu.
"Taruh saja di meja, nanti kalau aku lapar aku akan memakannya." ucap Jimy tanpa menoleh ke arah Ibu mertuanya.
"Tapi Nak,----"
__ADS_1
"Sudah Bu," ujar Pak Anto memotong pembicaraan antara istri dan menantunya itu.
Pak Anto segera membawa Istrinya keluar dari ruang rawat, dan mereka berdua duduk di kursi depan.
"Kenapa Novi belum juga sadar ya Pak? sudah dua bulan putri kita, ---" Ibu Nani menangis di samping suaminya itu. "Ibu kasihan pada anak yang di kandungnya Pak! usia kandungannya sudah empat bulan, tapi Novi belum juga membuka matanya" isak tangis Ibu Nani semakin kencang.
"Sabar Bu, semua ini adalah ujian dari yang di atas. Bapak yakin sebentar lagi anak kita pasti bangun dari komanya." ucap Pak Anto mengelus punggung Istrinya.
"Semoga Pak," Ibu Nani menghapus air matanya.
Dokter Ricardo yang kini berada di dalam ruangan, menatap sedih pada kondisi Jimy yang sekarang. Jimy terlihat acak - acakan, Jimy yang dulu tidak pernah mencintai wanita selain Ana. sekarang terlihat dengan jelas bahwa di hati Jimy hanya ada Novi seorang.
"Ricardo, bagaimana keadaan Novi dan kandungannya?" tanya Jimy setelah Ricardo selesai memeriksa Novi.
"Babynya sehat dan semua Luka luarnya sudah sembuh, dan luka di kepalanya sudah sembilan puluh persen membaik." jawab Dr. Ricardo.
__ADS_1
"Kalau sudah membaik, kenapa Novi masih koma?" tanya Jimy.
"Aku tidak bisa menjelaskan secara pasti, kenapa seseorang masih koma padahal luka yang di deritanya sudah membaik. contohnya begini, ada suatu kasus di mana seorang pasien A yang terluka di kepalanya yang tidak seberapa serius tapi pasien itu mengalami koma selama dua tahun lamanya. dan ada pasien B yang mengalami luka yang sangat serius di bagian kepalanya, tapi si pasien tersebut hanya mengalami koma selama satu bulan." ujar Dr Ricardo. "Jadi kita tidak bisa memastikan kapan si pasien akan bangun dari komanya. tapi kami akan
terus memberikan pengobatan yang terbaik sampai si pasien itu sadar dari komanya." ucap Dr Ricardo panjang lebar menjelaskan pada Jimy.
"Tapi Novi sudah dua bulan koma! aku,----" Jimy mengusap wajahnya dengan sangat kasar karena sangat frustasi dengan keadaan yang di hadapinya.
"Jim, kau harus terus mengajak Novi berbicara. beri dia semangat untuk bangun dari komanya. kau harus ingat, seseorang yang koma di alam bawah sadarnya masih bisa mendengarkan apa di bicarakan oleh orang orang yang ada di sekitarnya. kau mengertikan maksudku" ujar Ricardo.
"Tapi aku sudah terus mengajaknya berbicara dan memberinya semangat, tapi kau lihat sendiri. Novi masih tidak mau bangun dari komanya." lirih Jimy yang kini menatap wajah Novi yang sudah tidak terlihat pucat.
"Kau harus bersabar dan teruslah berusaha mengajaknya berbicara. dan satu lagi, kau pergilah bercukur. apa kau ingin ketika Istri mu sadar melihat wajahmu yang berantakan seperti itu" ujar Ricardo dengan terkekeh. namun Jimy hanya diam saja tidak menggubris ucapan sahabatnya itu.
Dengan menghela nafasnya Dokter Ricardo pun akhirnya meninggalkan ruang rawat dengan raut wajah yang datar.
__ADS_1