
"Jimy .... " lirih Novi masih dengan mata tertutup.
Jimy yang mendengarkan suara Novi yang sangat lemah langsung mencium kening Novi dengan wajah yang bahagia.
"Bangunlah sayang, atau aku akan membawa anak kita pergi jauh dari mu." ujar Jimy mengusap wajah Novi dengan penuh kasih sayang.
Cengkraman tangan Novi pada Jimy semakin kuat hingga membuat Jimy tersenyum bahagia karena Novi sudah memberikan respon.
Novi yang masih menutup matanya, dengan perlahan mengerjapkan kedua matanya dan dengan pandangan yang masih kabur Novi menatap wajah Jimy.
Mom Jenita yang melihat menantunya sudah membuka matanya, langsung berlari keluar untuk memanggil Dokter Ricardo. Kedua orang tua Novi yang ada di luar terkejut melihat Nyonya Jenita keluar dari kamar dengan terburu- buru, karena takut terjadi apa-apa dengan Novi mereka pun langsung masuk dan melihat putri mereka sudah membuka kedua matanya.
"Terima kasih sayang," Jimy langsung mencium pipi dan bibir Novi dengan hati-hati.
"A... ku sa... ngat mem... ben..ci... mu" lirih Novi dengan suara yang terbata-bata dan air mata yang mengalir di kedua matanya.
"Kau boleh membenciku, tapi kau harus sembuh untuk bisa membenci diriku." bisik Jimy yang memeluk Novi dengan erat.
Dokter Ricardo yang sudah datang langsung memeriksa keadaan Novi, Jimy yang berdiri tidak jauh dari Novi terus menatap intens wajah Novi, seakan tidak ingin melepasakan pandangan matanya itu.
__ADS_1
"Bagaimana Dok?" tanya Bapak Anto.
"Kondisinya sudah sangat membaik, dan ini adalah sebuah keajaiban." ujar Ricardo.
"Grazie... " ucap Jimy.
"Terima kasih kembali," ujar Ricardo menepuk bahu sahabatnya itu dan keluar dari ruangan tersebut.
"Novi, anak ku." ujar Ibu Nani memeluk putri satu satunya itu. Novi yang di peluk pun hanya tersenyum kecil menatap Ibunya.
"Ibu bahagia kau sudah sadar Nak," ujar Ibu Nani yang kini menangis dengan sangat keras.
"Sudah Bu, jangan menangis. kita harus bahagia melihat putri kita sudah sadar." ucap Bapak Anto mengusap punggung istrinya itu.
Novi pun tersenyum pada Ibu mertuanya, Novi memang masih lemah untuk berbicara. dirinya hanya membalas sebuah senyuman pada orang orang yang kini mengelilinginya, Sementara Jimy masih diam saja berdiri di tempatnya. Jimy sama sekali tidak berani mendekat kearah Novi karena merasa sangat tidak pantas berada di sisi Novi.
"Bu, Kenapa Novi ada di Rumah sakit?" tanya Novi dengan suara yang sangat lirih. dirinya tidak mengingat kenapa dirinya terbaring di Rumah Sakit.
"Kau tidak ingat,?" tanya Ibu Nani.
__ADS_1
"Aku,----" Novi berusaha mengingat kenapa dirinya bisa berada di Rumah sakit.
"Nov, sudah jangan di pikirkan. yang terpenting sekarang Novi sudah sembuh dan bisa bersama kami lagi." ujar Ibu Nani yang menahan tangisnya.
"Bu, kenapa perut Novi membesar?" tanya Novi yang kini menatap perutnya yang terlihat sudah membuncit.
"Nak, usia kandungan mu sudah empat bulan. tentu saja perutmu itu sudah membesar," ujar Ibu Nani mengelus tangan Novi.
"Empat bulan? tapi usia kandungan Novi kan baru dua bulan?" tanya Novi masih dengan suara yang lemah dengan tangan yang mengelus perutnya.
"Itu,-----" Ibu Novi pun hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Novi.
Seketika suasana di ruangan itu pun hening, tidak ada yang bersuara sama sekali. Jimy yang mendengar pertanyaan Novi semakin merasa sangat bersalah pada istrinya itu.
"Sayang, kenapa kau tidak menanyakan suamimu?" ujar Mom Jenita mengalihkan pertanyaan Novi.
"Jimy,.... " lirih Novi.
Dan seketika semua orang yang ada di ruangan tersebut menengok kearah Jimy yang masih terdiam berdiri di pojok ruangan.
__ADS_1
"Kemarilah Nak, kau tidak ingin memeluk istrimu lagi?" goda Mom Jenita.
Dengan perlahan Jimy pun mendekat kearah Novi dengan mata yang terus menatap Novi dengan intens. Sementara Novi yang kesadarannya sudah seratus persen pulih menatap pada pria yang terlihat sangat kurus dengan wajah yang sangat kusam dengan beberapa bulu halus di sekitar dagunya. Novi tidak percaya dengan apa yang di lihatnya kini, penampilan Jimy sungguh sangat memprihatinkan.