
"Kau itu sangat penting bagiku," ucap Jimy menatap intens wajah Novi.
"Kalau aku begitu penting untukmu, kenapa aku merasa aku ini tersisihkan. Bahkan kau tidak menanyakan kabarku satu minggu yang lalu" ujar Novi kembali dengan wajah yang menahan tangisnya. Novi tidak ingin dirinya terlihat lemah di hadapan Jimy.
"Aku selalu memantau keadaanmu lewat pengawal pribadi yang ku kirimkan untukmu." jawab Jimy.
"Kau itu lucu sekali, kau bisa menanyakan kabarku pada pengawal pribadimu. tapi kenapa kau tidak bisa menanyakannya langsung padaku?" tanya Novi dengan tersenyum sinis.
"Sudahlah aku lelah, aku ingin pulang" ujar Novi yang sudah berdiri dari duduknya.
"Tempatmu disini, ini rumah mu!" ucap Jimy masih duduk diatas sofa dengan wajah datarnya.
"Apa kau lupa, ini apartemenmu bukan rumahku" ucap Novi yang sudah berjalan kearah pintu keluar Apartemen. Namun pintu itu terkunci dan tidak bisa dibuka dari dalam.
"Jim, buka pintunya" pinta Novi yang kembali keruang tengah.
"Pintu itu tidak akan kubuka," ucap Jimy membuat Novi sangat kesal.
"Apa mau mu sebenarnya?" tanya Novi.
"Kita akan pulang ke paris malam ini juga," ucap Jimy.
__ADS_1
"Aku tidak mau ikut, kehidupanku ada disini dan orang orang yang mencintaiku pun ada disini." ucap Novi.
"Termasuk Dion?" tanya Jimy dengan senyum sinisnya.
"Terserah kau mau mengatakan apa pun, tapi satu hal yang pasti aku tidak akan pernah ikut denganmu!" seru Novi dengan suara amarahnya.
"Kau mau ikut atau tidak, aku akan tetap membawamu!" ucap Jimy yang langsung berdiri meninggalkan Novi yang masih duduk diatas sofa.
"Datang tiba tiba, tanpa mengucapkan kata maaf sedikit pun. dan sekarang memaksaku untuk ikut ke Paris. jangan harap aku mau menuruti semua kemauanmu lagi. aku bukan Novi yang dulu yang selalu saja menuruti permintaanmu" gumam Novi dalam hati.
Novi pun dengan terpaksa meminta bantuan pada Nayra, karena hanya dengan kekuasaan Tuan Kenzo suami dari sahabatnya itu. dirinya bisa bebas dari Apartemen Jimy.
"Kenapa kau baru cerita semuanya padaku?" tanya Nayra dengan wajah kesalnya, memeluk sahabatnya dengan erat.
"Aku tidak ingin menyusahkanmu" jawab Novi yang membalas pelukan dari sahabatnya itu.
"Sudah berapa bulan?" tanya Nayra.
"Sudah jalan lima minggu," Novi mengelus perutnya.
"Jimy itu benar benar, hatinya itu terbuat dari apa sih?" gerutu Nayra dengan wajah kesalnya. "Dia tuh kelamaan jomblo, sampai sampai tidak peka terhadap perasaan wanita" seru Nyara membuat Novi tertawa.
__ADS_1
"Berjanjilah satu hal padaku Nay, jangan memberitahu pada Jimy tentang kehamilanku." pinta Novi.
"Memangnya kenapa?" tanya Nayra.
"Aku ingin, akulah yang memberitahunya pada saat yang tepat nanti."
Nayra dan Novi pun kembali berpelukan, sementara Jimy kini sedang di intrograsi oleh tuan Kenzo.Tuan Kenzo yang duduk dihadapan Jimy menatap Jimy dengan tatapan tajam.
"Kau itu sudah bukan anak buahku, tapi kenapa kau masih menyusahkan ku?" tanya Kenzo dengan suara beratnya.
"Maafkan aku Tuan," jawab Jimy dengan wajah datarnya.
"Aku sudah bukan Tuanmu," ucap Kenzo mengambil minuman yang sudah di siapkan oleh Jimy.
"Masalah apa lagi yang kau perbuat," tanya Kenzo dengan tegas.
"Bukan masalah besar," ucap Jimy singkat.
"Bukan masalah besar kau bilang? Novi kau sekap di Apartemen mu dan dia menghubungi istriku. kau bilang bukan masalah besar!" seru Kenzo dengan suara beratnya. Jimy yang ditanya hanya diam saja masih dengan ekspresi yang datar.
"Sudahlah, aku tidak mau mencampuri urusan pribadimu!" ucap Kenzo, menghela nafasnya dengan panjang. Beberapa saat kemudian mereka berdua pun terdiam tanpa ada yang berbicara.
__ADS_1