
Mansion kedua.
Nayra yang baru terbangun dari tidurnya, melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan miliknya.
"Ya ampun, sudah sore! Berapa jam aku tidur?" Gumam Nayra, dengan wajah yang terkejut.
"Anda tertidur selama dua jam." Jawab salah satu pelayan, membuat Nayra sangat terkejut.
"Kalian dari tadi masih di sini?" Nayra menatap kedua pelayan wanita yang ada di dalam kamarnya.
"Kami ditugaskan untuk menjaga, melayani, dan mempersiapkan penampilan anda untuk malam ini."
"Ah, aku sampai lupa! Malam ini -- " Nayra langsung mengecek ponselnya, namun tidak ada pesan balasan dari tuan Kenzo.
"Nyonya, sudah saatnya untuk membersihkan diri. Kami sudah menyiapkan air hangat untuk anda."
Salah satu pelayan mempersilahkan nyonya Nayra untuk masuk ke dalam bathroom. Dan seperti biasanya, Nayra hanya bisa mengikuti semuanya dengan wajah yang gundah gulana.
"Kalian pergilah ... ! Kenapa masih di sini?" Nayra yang hendak melepaskan pakaiannya, merasa heran karena dua pelayan itu tidak keluar dari bathroom.
__ADS_1
"Kami akan membantu membersihkan tubuh anda, Nyonya."
"Apa ... !" Pekik Nayra, dengan wajah yang terkejut. "Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi nyonya, itu sudah tugas kami untuk melayani anda."
"Sudah pergilah! Kalau kalian masih disini, aku tidak mau membersihkan tubuhku." Ancam Nayra.
"Baik, nyonya. Kalau anda membutuhkan sesuatu, kami ada di luar." Setelah itu para pelayan keluar dari dalam bathroom.
Nayra yang sudah berendam di dalam bathtub, kembali memikirkan bagaimana caranya agar lolos dari jeratan tuan Kenzo. Ia tidak ingin keperawanannya diambil oleh si beruang kutub. Walaupun tuan Kenzo sudah menjadi suaminya, tapi pernikahan mereka bukanlah pernikahan atas dasar saling mencintai. Pernikahan mereka hanyalah sebuah pernikahan kontrak.
"Aku tidak mau memakainya." Nayra membuang pakaian tersebut ke atas tempat tidur.
"Kami mohon, nyonya mau memakainya. Karena ini perintah dari tuan Kenzo." Pelayanan itu mengambil kembali lingerie yang tadi dibuang oleh Nyonya Nayra.
"Aku tidak mau memakainya!" Nayra menuju lemari pakaian, ingin mengambil pakaian ganti miliknya.
"Nyonya, kami mohon anda mau memakainya! Kalau tidak, kami semua akan dipecat oleh tuan Kenzo." Kedua pelayan langsung bersujud di kaki nyonya Nayra, sambil menangis.
__ADS_1
Nayra yang melihat kedua pelayan itu sampai menangis dan bersujud di kakinya, mulai merasa bingung apa yang harus dilakukannya.
...🍀🍀🍀...
Sementara itu di tempat yang lainnya, Kenzo yang berada di dalam mobil. Sudah sejak tadi senyam-senyum sendiri, membayangkan wajah Nayra yang pucat dan ketakutan karena mengira akan bercinta dengannya.
"Cih, mana mungkin aku bercinta dengan gadis bodoh itu. Banyak wanita yang lebih cantik dan sexy yg bisa aku pilih untuk menemani tidurku." Gumam Kenzo.
"Drt .. drt ... "
Kenzo menatap layar ponselnya yang berdering. "Bagaimana, Jim.?"
"Tuan Dion, menolak menjual cafe nya. Sekalipun dengan harga yang sangat tinggi." Jimy menjawab dari sebarang sana.
"Jim, aku harus mendapatkan apa yang aku mau." Kenzo mengepalkan kedua tangannya.
"Baik tuan." Ucap Jimy. "Satu lagi tuan, info yang aku dapatkan dari anak buahku. Sejak semalam, tuan Dion menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan nyonya Nayra."
Kenzo semakin emosi. "Jim, kau tahu apa yang harus kau lakukan!" Kenzo menjawab dengan dingin dan menutup ponselnya
__ADS_1
"Sepertinya pria itu sangat mencintai Nayra!" Kenzo semakin mengepalkan kedua tangannya. "Walaupun aku tidak mencintai gadis itu, tapi aku paling tidak suka jika barang yang sudah aku miliki di ambil oleh orang lain." Sorot mata Kenzo, dipenuhi oleh amarah.