
" Berani sekali kau mengatai ku nenek sihir?" ujar Dr. Rini masih dengan nada suara yang menahan amarah.
" Aku tidak mengataimu, aku hanya bercanda dengan mas pelayan tadi" Novi menunjuk pelayan pria tadi yang sudah berjalan menjauh.
" Kau belum menjawab pertanyaan ku? kenapa kau bilang Jimy kekasihmu?" tanya Dr. Rini dengan wajah tidak suka nya.
" Kau tanya saja pada Jimy" Novi kembali asik memakan makanan nya. Jimy yang mendapatkan tatapan tajam dari Dr. Rini hanya bisa menghela nafasnya.
" Yang di katakan oleh Novi itu benar " jawab Jimy dengan datar.
" Tapi kita sebentar lagi akan bertunangan " Dr. Rini menatap tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Jimy.
" Aku sudah mengatakan pada mu, aku tidak tertarik pada mu. namun kau memaksa ku" wajah Jimy masih terlihat datar tanpa ekspresi apa pun.
" Tapi aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu" ucap Dr. Rini dengan suara tertahan.
" Cintai itu adalah sebuah perasaan yang tumbuh dari hati, dan perasaan cinta itu tidak dapat di paksa oleh siapa pun" ujar Novi yang masih makan tanpa melihat ke arah Jimy dan Dr Rini yang sedang menatapnya.
__ADS_1
" Tapi aku punya satu keyakinan, cinta akan tumbuh kalau sudah terbiasa. dan aku yakin Jimy lama lama akan mencintai ku jika kita sudah menikah nanti" wajah Dr Rini memperlihatkan wajah yang sangat serius.
" Ya itu mungkin saja bisa terjadi" ujar Novi yang langsung mendapatkan tendangan kembali dari bawah meja yang membuat nya meringis kesakitan.
" Sakit tahu" pekik Novi ke arah Jimy namun Jimy hanya diam.
" Kau dengar sendiri kan Jim" ujar Dr Rini tersenyum tanpa mempedulikan Novi yang mengatakan sakit.
" Maksud ku kemungkinan itu terjadi lima puluh persen dan lima puluh persen nya lagi akan gagal, apa kau mau mempertaruhkan seluruh hidup mu dengan kemungkinan yang lima puluh persen akan gagal. apalagi melihat Jimy yang seperti ini, apa kau yakin bisa membuatnya jatuh cinta" tanya Novi yang langsung membuat Dr. Rini terdiam.
" Aku yakin aku bisa" jawab Dr Rini
" Aku---" Dr Rini kembali terdiam.
" Kalau kau yakin kau bisa, silahkan saja kau bertunangan dan menikah dengan Jimy. tapi aku akan terus berhubungan dengan calon suami mu itu. karena kami saling mencintai" Novi memandang pada Jimy dan memegang tangan Jimy dengan erat yang di balas sebuah ciuman di pipi oleh Jimy membuat Novi langsung mematung seketika.
" Kalian sungguh keterlaluan.." Dr. Rini langsung pergi dari restauran itu sambil menangis.
__ADS_1
" Apa aku keterlaluan?" tanya Novi pada Jimy karena melihat Dr Rini yang menangis.
" Lebih baik dirinya terluka sekarang dari pada nanti nya akan semakin terluka" ujar Jimy dengan santai.
" Cepat kau kejar dia, kasihan kalau harus pulang sendiri"
" Ya sudah ayo kita pulang bersama?" Jimy pun berdiri.
" Kalian saja duluan, aku masih ingin makan" Novi kembali melanjutkan makannya.
" Nanti kau pulang naik apa?" tanya Jimy
" Ada banyak taksi di sini" ujar Novi dengan santai
Dengan menghela nafas nya Jimy pun akhirnya meninggalkan Novi dengan tidak lupa membayar tagihan makanan nya terlebih dahulu.
Setelah Jimy pergi Novi langsung terdiam tidak melanjutkan makannya lagi. sungguh perasaan nya sangat tidak enak ketika melihat Dr. Rini menangis karena semua perkataan dan perbuatan nya. Novi pun langsung mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi Nayra, dirinya ingin tahu apa yang membuat Jimy menolak bertunangan dengan Dr Rini.
__ADS_1
" Ana..." gumam Novi dalam hati yang sudah keluar dari restauran, menatap ke arah mobil yang lalu lalang di depan tempat nya berdiri menunggu taksi. " aku harus berbicara dengan Dr. Rini" Novi kembali termenung memikirkan semua yang sudah ia lakukan.
Bunyi klakson mobil yang sangat keras membuat Novi terkejut dari lamunan nya. dan menatap ke arah mobil yang sangat ia kenal." Jimy" lirih Novi yang melihat Jimy sudah keluar dari mobilnya.