
"Jangan pernah berjanji, jika kau tidak bisa menepatinya! seru Novi melepaskan tangan Jimy dari pelukannya.
"Tataplah aku," Jimy membalikkan tubuh Novi sehingga bisa menatap kedalam mata hitam milik istrinya tersebut.
"Ikutlah dengan ku pulang," pinta Jimy. membelai wajah Novi dengan lembut.
"Aku tidak mau pulang sebelum kau memutuskan siapa yang paling penting di dalam hatimu!" ujar Novi.
"Sudah berapa kali ku katakan, kau sangat penting bagiku."
"Kalau begitu tinggalkan Ana!" ucap Novi dengan suara yang tegas.
Jimy menatap mata Novi semakin intens. "Inikah Novi yang ku kenal dulu? kenapa aku merasa Novi yang sekarang begitu egois," Jimy menghela nafasnya dengan berat. Jimy tidak pernah menyangka Novi akan menyuruhnya meninggalkan Ana.
"Apa aku tidak boleh egois?" tanya Novi. "Apa aku salah jika aku menginginkan suami ku untuk terus disisiku?" tanya Novi. menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Kau tidak salah, tapi kau egois disaat yang tidak tepat. Ana saat ini membutuhkan ku," ujar Jimy.
"Tapi aku pun membutuhkanmu," lirih Novi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Dengar sayang, kau wanita yang sehat. kenapa kau cemburu pada wanita yang saat ini menderita penyakit yang bisa membunuhnya kapan pun," Jimy mengusap air mata dari pipi Novi dengan perlahan.
"Dua hari lagi kita pulang, dan kau harus ikut dengan ku."
Novi hanya terdiam tidak menjawab ucapan Jimy sama sekali, dalam hati dirinya bertanya tanya. Apa benar dirinya begitu egois, cemburu pada wanita yang entah besok atau dua hari lagi meninggal dunia.
__ADS_1
Novi menatap wajah Jimy yang sudah tertidur lelap dengan memeluk dirinya, di pandangnya wajah tampan itu wajah yang sangat di rindukan olehnya dan juga anak yang di dalam kandungannya.
"Andai kau tahu aku sedang mengandung anakmu," gumam Novi dalam hati yang kembali menangis dalam diam.
Keesokan harinya
"Kau mau kemana?" ujar Jimy menarik kembali Novi kedalam pelukannya.
"Lepaskan aku Jim, aku harus berangkat kerja!'
"Mulai hari ini, kau tidak boleh bekerja bersama si Jomblo akut itu."
"Jomblo akut?" tanya Novi dengan mengerutkan keningnya.
"Jim, apa kau lupa? kau pun dulu jomblo akut," sindir Novi masih dengan tawanya.
"Itu dulu, sekarang aku sudah mempunyai dirimu."
Jimy langsung mencium bibir Novi dengan penuh kelembutan, dan dengan perlahan ciuman itu berubah menjadi sangat dalam dan menuntut. entah mengapa ada dorongan kuat dari diri Novi untuk meminta jauh dari hanya sebuah ciuman, dengan sekuat tenaga Novi pun menahan hasratnya itu dan melepaskan ciumannya.
"Jim, aku mau mandi dulu. Aku harus berangkat kerja," ucap Novi yang sudah melepaskan pelukan dan ciuman dari Jimy.
"Jangan berangkat kerja, temani aku. kita pergi jalan jalan karena kita sudah lama sekali tidak jalan bersama," ucap Jimy.
"Aku,-----" Novi kembali terdiam.
__ADS_1
"Aku mohon," pinta Jimy.
"Baiklah," Novi pun langsung mengambil ponselnya. menghubungi Dion untuk meminta ijin tidak berangkat kerja.
Setelah selesai mandi, Jimy langsung menuju meja makan dimana semua orang sudah berkumpul kecuali dirinya.
"Makanlah Nak, ibu sudah memasakan makanan spesial untuk menantu kesayanganku." Ibu Nani menyodorkan ayam goreng di tambah ikan asin, tahu, dan tempe.
"Terima kasih Bu," Ujar Jimy menatap dengan binggung makanan di piringnya yang sangat banyak.
Jimy pun melihat ke arah piring Novi dan Bapak Anto yang hanya di isi oleh nasi putih dan telur mata sapi.
"Kenapa kau hanya makan dengan telur mata sapi," tanya Jimy yang merasa heran karena Novi dan Bapak Anto hanya mengambil telor mata sapi.
"Novi itu sedang diet," jawab Ibu Nani.
Novi yang mendengar ucapan Ibu nya hanya tersenyum kecil sambil memakan makanannya, dengan sesekali melirik ke arah Jimy yang sedang kebinggungan.
"Makanlah!" ujar Ibu Nani yang melihat Jimy belum juga memakan makanannya.
Dengan perlahan Jimy pun memakan Ayam goreng buatan Ibu mertuanya, dan tiba tiba. "Uhuk... uhuk" Jimy langsung tersedak.
Ibu Nani yang melihat menantunya tersedak langsung mengambil minum untuk Jimy, sementara Novi dan Bapak Anto hanya tertawa kecil menatap wajah pucat Jimy.
Jimy yang melihat Novi dan Ayah Mertuanya tertawa, mulai mengerti kenapa mereka hanya memilih makan dengan telur mata sapi. Karena makanan Ibu Nani rasanya sangat asin, dan Jimy yakin telur mata sapi yang di makan oleh Novi dan Bapak Anto adalah buatan Novi.
__ADS_1