
"Siapa yang mengatakan padamu, kalau orang yang meninggal ini istrimu?" tanya Kenzo dengan wajah datarnya menahan tawa.
Jimy yang mendengarkan tuan nya berbicara, hanya terdiam karena masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh tuannya.
"Novi istrimu sudah dipindah ke ruang rawat setengah jam yang lalu." ucap Kenzo. masih dengan menahan tawa yang sedari tadi ditahannya.
Karena sejak tadi sebenarnya Kenzo sudah melihat dan mengikuti Jimy, karena ingin memberitahu kalau Novi sudah di pindah di ruang rawat. namun saat sampai diruang igd, Kenzo terdiam karena melihat sahabatnya itu menangis. sesuatu yang tidak pernah dilihatnya bahkan pada saat Jimy berpisah dengan Ana.
"Ja, jadi ini bukan Novi?" tanya Jimy dengan wajah yang tidak percaya.
"Kalau kau tidak percaya, buka saja" ujar Kenzo dengan suara datarnya.
Dengan memberanikan diri, Jimy pun membuka kain putih dan langsung menutupnya kembali karena yang dilihatnya bukanlah Novi. dengan cepat Jimy berdiri tegak dengan gaya coolnya, Jimy membetulkan jas nya yang sudah kusut dan basah karena air matanya.
__ADS_1
"Tuan, antar aku ke ruang Novi" pinta Jimy dengan wajah menahan malu karena perbuatannya tadi.
"Kau itu" cibir Kenzo lalu tertawa dengan keras melepas semua tawa yang sudah di tahannya dari tadi.
Kenzo berjalan ke keluar dari ruangan igd diikuti oleh Jimy yang berjalan dengan tergesa gesa. sementara para suster yang diruang igd hanya tertawa kecil melihat pemandangan yang tadi ada di depan mata mereka.
Jimy yang sudah berada di dalam ruang rawat, kini melihat Novi yang terbaring di ranjang dengan mata tertutup dan perban yang melingkar dikepala. membuat Jimy merasa sangat bersalah, Jimy menyesali semua perbuatannya pada Novi. karena dirinya sibuk mencari cintanya yang hilang sementara Novi berjuang sendiri di ruang igd.
Dipegangnya tangan Novi dengan hati hati karena banyak sekali luka lecet ditangan istrinya itu.
"Bangunlah, aku tidak ingin kehilangan cintaku lagi" lirih Jimy mencium pipi istrinya itu. hati Jimy semakin sedih saat melihat Mata Novi yang terpejam mengeluarkan air mata, seakan akan Novi bisa mendengar semua yang dikatakan oleh Jimy.
"Novi masih tidak sadarkan diri karena obat bius yang tadi di berikan oleh Dokter" ucap Nayra yang kini ada di belakang Jimy.
__ADS_1
"Apa Novi baik baik saja?" tanya Jimy yang masih menatap wajah Novi.
"Dokter mengatakan luka di kepalanya sudah melewati masa kritis, untung saja orang yang menabraknya langsung membawa Novi ke Rumah Sakit. kalau saja telat sedikit entah apa yang akan terjadi pada sahabat ku" ucap Nayra dengan menahan tangisnya.
Kenzo yang sedari tadi diam langsung memeluk istrinya tersebut dan membawanya keluar dari ruangan tersebut. memberikan ruang bagi Jimy untuk berdua bersama Novi, Jimy menggenggam tangan Novi dengan duduk di samping Novi dan terus menerus mengatakan maaf pada Novi.
"Sayang, kau itu suka sekali mengerjai Jimy" ujar Kenzo menepuk kening istrinya tersebut saat sudah berada di luar ruang rawat.
"Aww sakit tahu" seru Nayra dengan wajah cemberutnya. "Habis asistenmu itu sudah benar benar keterlaluan" gerutu Nayra masih dengan wajah kesalnya. "Aku hanya ingin membuat Jimy cemas pada Novi"
Nayra teringat kembali kejadian dua jam sebelumnya, di mana dirinya berada di depan ruang igd dan mendengar suara Novi yang terus berteriak teriak kesakitan. padahal luka di kepalanya tidak seberapa parah dan juga beberapa luka ditangan dan di kakinya. karena terlalu lebay, akhirnya Dokter menyuntikan obat bius berdosis rendah agar Novi bisa tenang dan tidak terus menerus bergerak membuat Dokter susah untuk mengobatinya.
"Jimy memang sudah sangat keterlaluan" ucap Kenzo menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kau juga sama keterlaluannya, seharusnya kau itu bisa menasehatinya. atau memberi hukuman padanya" gerutu Nayra dengan mengerucutkan bibirnya. dan berjalan cepat meninggalkan suaminya itu.
"Jimy.... !" pekik Kenzo dengan sangat kesal, karena lagi lagi kelakuan Jimy membuat istrinya justru marah padanya. "Kau harus mendapatkan pembalasan dariku" gumam Kenzo dengan tersenyum licik.