
"Terima kasih" ujar Jimy tiba tiba memecah kesunyian diantara mereka.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Novi.
"Karena kau sudah membuat Mommy tidak melihat diriku di Rumah Sakit bersama Ana" ucap Jimy masih menatap Novi yang duduk diatas tempat tidur.
"Oh, aku pikir apa" ujar Novi tersenyum kaku.
"Jim, aku rindu negaraku. boleh aku pulang?" tanya Novi dengan memberanikan diri mengambil keputusan.
Karena dirinya paham betul dengan sifat Jimy yang tidak akan pernah berani mengambil sikap karena takut melukai dirinya.
"Pulanglah!" ucap Jimy dengan singkat masih menatap intes wajah Novi.
"Deg" jantung Novi tiba tiba terasa berhenti.
"Kenapa rasanya sakit, padahal dirinya tahu betul jawaban inilah yang akan di katakan oleh Jimy."
__ADS_1
"Terima kasih," lirih Novi dengan menahan sesak di dadanya, dirinya harus bisa menahan diri agar tidak menangsi dihadapan Jimy.
"Siang ini, aku akan mempersiapkan pesawat pribadi untuk mengantarmu pulang" ucap jimy dengan wajah datarnya.
"Oke" jawab Novi singkat.
Novi pun berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil semua pakaiannya, dan dengan segera memasukkannya kedalam koper. dengan menghelas nafasnya Novi mulai memasukan semua barang barangnya. sementara Jimy hanya diam masih dengan tatapan matanya yang selalu mengikuti kemana arah Novi berjalan.
"Selesai sudah," seru Novi menatap dua buah kopernya yang ada di hadapannya. Novi sengaja membawa semua pakaiannya, karena dirinya tahu pasti tidak akan kembali lagi ke mansion keluarga Richard.
"Pulanglah ke apartemen, kunci passwordnya kau masih ingakan?" tanya Jimy yang dijawab anggukan kepala oleh Novi.
Namun Novi hanya diam saja tidak menjawab perkataan Jimy, dirinya masih mengingat dengan jelas ucapan Jimy dua hari yang lalu di Rumah Sakit. Jimy memintanya untuk menunggu di depan ruang rawat Ana, namun sampai Novi pulang pun Jimy tidak menyadarinya.
"Apa kau mendengarku?" tanya Jimy karena Novi diam saja tidak menjawab perkataannya.
"Jim, -----" Novi langsung terdiam dan menundukan kepalanya. dan tak terasa air mata yang sedari tadi ditahannya pun mengalir dengan deras tanpa bisa ditahannya lagi.
__ADS_1
Jimy yang melihat Novi menangis langsung menghampiri dan memeluk Novi dengan sangat erat, membuat Novi semakin menangis dengan keras.
"Maaf" lirih Jimy menghapus air mata novi dan mencium keningnya. "Aku janji aku akan menjeputmu" ucap Jimy, kembali mencium kening Novi.
Namun lagi lagi Novi hanya terdiam tanpa bisa berkata kata, karena baginya perjalanan hidupnya bersama Jimy sudah selesai. apa pun yang terjadi kedepannya dirinya sudah tidak mengharapkan apa pun.
Kalau ada orang yang bertanya, "Apakah kau menyesal memberitahukan keberadaan Ana pada Jimy" maka jawabanya tidak, karena dirinya tahu cepat atau lambat kejadian ini pasti akan terjadi.
Keesokan harinya.
Jimy menatap pada pesawat yang sudah lepas landas dari sepuluh menit yang lalu.
"Dengan begini, kau tidak akan lagi sakit hati melihat ku mengurus Ana" gumam Jimy.
Jimy teringat kembali ketika Ana memintanya dirinya untuk menemani Ana disaat saat terkahir dalam hidupnya. Dokter sudah memvonis umur Ana tidak akan lama lagi, karena kanker ditubuh Ana sudah memasuki stadium akhir.
Dokter memprediksi umur Ana tidak akan bertahan lebih dari tiga bulan, Jimy yang tadinya ingin mengakhiri kisah cinta mereka yang menggantung. Justru merasa tidak mampu meninggalkan dan menolak permintaan Ana. Ana meminta permintaan terakhir padanya agar mau menemaninya disaat saat terakhir dalam hidupnya.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu," lirih Jimy menatap pada langit biru di atasnya. "Aku pasti akan menjemputmu, dan disaat itu tiba aku tidak akan lagi menyakiti hatimu," ucap Jimy dengan sepenuh hatinya.